Pesantren di Tengah Tsunami Digital
Invasi jagat digital benar-benar menjadi tantangan terbesar entitas pesantren hari ini. Gelombang penetrasi internet dan gawai (smartphone) mendobrak tembok-tembok pembatas asrama para santri dan kian merontokkan sendi-sendi daya isolasinya. Semakin lama pembatasan fisik tersebut sering kali kedodoran dan cenderung compang camping karena tergerus oleh arus derasnya digitalisasi yang menggurita. Lebih dari itu, pesantren sedang dikepung oleh badai disrupsi teknologi digital, pergeseran psikologis generasi alfa, ancaman komersialisasi pendidikan, hingga krisis regenerasi figur kiai sebagai kepemimpinan kharismatik dan imam tunggal di dunia pesantren. Fenomena terjadinya perubahan yang terjadi secara masif dan menyeluruh betul-betuk mampu mengubah total tatanan sistem yang telah lama mapan.
Per-hari ini hampir semua santri mengalami split kepribadian yang dirasakan atau tidak jiwa santri terbelah. Di satu sisi, tangan-tangan suci mereka memangku kitab-kitab klasik yang adiluhung sembari mengkaji di ruang-ruang hening yang benar-benar menenteramkan, namun di sisi lain, tampak jelas mereka merelakan telapak tangan tereduksi kesuciannya saat gawai di dalam genggaman nyata benar meninabobokkan dan bahkan memanipulasi realitas ke dalam kehidupan alam maya. Betapa tidak, mereka langsung terpapar pada budaya instan, konsumerisme, hedonisme, hingga konten radikalisme dan termasuk pornografi.
Sebagaimana diketahui, era digital saat ini, ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi tidak seperti di masa-masa awal kemunculan telepon genggam itu, melainkan telah menjelma menjadi pusat kendali gaya hidup hampir semua anak Adam. Barang tipis itu tidak saja telah menyedot perhatian semua kalangan, mulai anak setingkat TK sampai kakek-nenek, tetapi bahkan sudah mampu membalik fakta menjadikan nyaris seluruh manusia budak benda gepeng tersebut. Fenomena membanjirnya telepon pintar (smartphone) di tengah-tengah kehidupan masyarakat ini tidak mengecualikan dunia pesantren dengan segala tingkatannya, mulai kalangan santri, level pengurus serta pengajar, sampai strata kepengasuhan. Di luar aspek positif dan negatif dari ponsel, hari-hari ini para ustadz-ustadzah, para gus-gus dan ning-ning, bahkan pihak-pihak yang berada di kasta masyayikh tidak luput dari ketertarikan menggenggam HP.
Memasuki paruh kedua dari abad ke-21 ini, lanskap dunia telah berubah secara radikal dan menyeluruh. Oleh karena itu, dunia pesantren hari ini tidak lagi sekadar berhadapan dengan tantangan konvensional, seperti modernisasi kurikulum atau keterbatasan serta hajat mendesak terhadap pengembangan fasilitas fisik (need for development of physical facilities). Padahal pondok pesantren telah lama diakui sebagai institusi pendidikan asli Indonesia (indigenous) yang paling tangguh dalam menjaga moralitas bangsa. Hal ini terbukti selama berabad-abad, pesantren dinilai banyak kalangan telah berhasil menjadi benteng pertahanan umat dari kolonialisme, sekularisme, bahkan dianggap sebagai tembok terakhir dari degradasi moral di tanah air.
Saat ini dunia pesantren berada di antara persimpangan jalan yang cukup krusial: Pada satu sisi, pesantren dituntut untuk tetap teguh mempertahankan tradisi luhur (al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih), tetapi sisi lain, pesantren didesak untuk berani melakukan lompatan inovatif dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih kontekstual dan konstruktif (wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).
PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Hadir Menawar Alternatif
Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, berlokasi arah utara dari kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang, didirikan pada tahun 1981 oleh KH Qosim Bukhori. Berdirinya pesantren ini lebih dilatarbelakangi oleh keinginan putra kiai Bukhori Ismail Ganjaran itu, untuk ikut serta mengembangkan dan memperjuangkan nilai-nilai agama Islam melalui proses penanaman secara dini kepada anak bangsa yang diejawantah ke dalam bentuk lembaga pendidikan. Secara khusus, spesifikasi motivasi berupa hasil cermatan tajam yang dirasakan betul oleh kiai Qosim Bukhori usai melihat kondisi masyarakat desa Putukrejo yang masih terbelakang, baik di bidang pendidikan maupun sosial budaya, terutama dalam hal pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai agama.
Dalam lingkar dunia pesantren (boarding school circle) di Indonesia, sebetulnya PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo tak ubahnya seperti pesantren-pesantren lainnya yang berada di bawah afiliasi NU (Nahdlatul Ulama). Namun karakteristik lembaga pendidikan dekat pemandian alami “Sumber Sira” yang cukup fenomenal itu, sangat unit dan hampir jarang dimiliki oleh pesantren-pesantren lain. Rata-rata ciri khas utama pesantren di bawah naungan NU Pesantren yang ditandai dengan koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU tampak dapat dibaca, antara lain: (1) Kajian kitab kuning sebagai literatur Islam klasik yang pada umumnya berkonsentrasi kepada karya ulama madzhab Syafi’iyah sebagai kurikulum inti, baik dengan sistem wetonan maupun sorogan. (2) Afiliasi kepemimpinan oleh seorang kiai yang memiliki sanad keilmuan jelas dan terhubung langsung ke pendiri NU atau kiai-kiai besar NU. (3) Tradisi amaliah keagamaan yang menjadi rutinitas pelaksanaan amal-amal ibadah, seperti tahlilan, istighatsah, manaqiban, ziarah kubur (ziarah wali), dan peringatan hari besar Islam (PHBI).
Selain karakteristik tersebut, ekuilibrium antara dzikir dan fikir di dalam lingkungan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo menjadi corak tersendiri. Keberadaan kiai Qosim Bukhori sebagai pendiri adalah merupakan Mursyid Naqsyabandiyah yang menegasikan eksistensi karakteristik tersebut. Hingga saat atribut guru spiritual dan pembimbing kerohanian dalam dunia tarekat itu jatuh kepada putranya, KH Yusqi Qosim. Oleh sebab itu, dalam rangkaian program-program pesantren, para santri juga diwajibkan mengikuti secara aktif jadwal kegiatan dzikir bersama yang dibimbing langsung pengasuh satu pekan sekali untuk unit pondok pesantren putra, satu bulan sekali untuk unit pondok pesantren putri (pondok induk), dan unit PPQ (Pondok Pesantren Al-Qur’an) Al-Qosimi.
Di sini karakteristik pendidikan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo yang tetap teguh menyeimbangkan antara dzikir (spiritual) dan fikir (intelektual) benar-benar tampak sebagai model pendidikan ideal untuk menjawab tantangan zaman modern. Bentuk spesifikasi pendidikan yang digagas KH Qosim Bukhori kian menegaskan ketajaman mata batin beliau bahwa Generasi Z (Gen Z), Generasi Alpha, bahkan Generasi Beta (Gen Beta) atau Generasi Sigma tengah berada dalam pusaran arus globalisasi yang serba digital.
Kemajuan teknologi dan industrialisasi yang menjadi problematika dan tantangan pelik masyarakat modern tidak bisa hanya diatasi dengan mengandalkan kecerdasan akademis belaka tanpa memperkokoh fondasi moral yang benar-benar teguh. Di tengah fenomena demikian, KH Qosim Bukhori menyuguhkan bentuk pendidikan yang mengkolaborasikan antara dzikir sebagai kekuatan spritual dan fikir sebagai ketajaman intelektual. Seakan Yai Qosim Bukhori mengingatkan kalangan generasi kaum pesantren bahwa menghadapi tantangan-tantangan kontemporer tersebut, dunia pesantren tidak boleh kehilangan kompas syariat.
Muhammad Madarik, (Staf Pengajar Universitas Al-Qolam Malang)




