back to top
Minggu, September 20, 2026

Maulid Nabi di Pujiharjo, LESBUMI PCNU Malang Gaungkan Spirit Saptawikrama untuk Rawat Kebinekaan

Tirtoyudo, NUmalang.id — Menjelang Subuh, suasana Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, masih lengang. Di tengah kawasan perbukitan dan perkebunan, rombongan LESBUMI PCNU Kabupaten Malang bersama paguyuban seniman hadrah dan pelaku seni pencak dor tiba untuk mengikuti pengajian umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Minggu (6/9/2026).

Sembari menunggu azan Subuh, rombongan beristirahat di pelataran Mushala At-Taubat. Kopi dan suasana pagi menjadi pengantar percakapan tentang perjalanan menuju Pujiharjo. Perjalanan rombongan sempat terkendala ban kendaraan yang meletus hingga membuat kedatangan sedikit terlambat.

Azan Subuh kemudian berkumandang. Rombongan menunaikan salat berjamaah dengan imam Sunari, takmir mushala sekaligus tokoh agama setempat. Usai salat, suasana kembali cair dengan suguhan kopi dan pisang goreng dari panitia.

Setelah matahari terbit, rombongan menyempatkan diri menuju Pantai Sepilot yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi kegiatan. Perahu nelayan yang berjajar di bibir pantai dan hamparan pasir yang masih basah menjadi bagian dari perjalanan sebelum rombongan kembali mengikuti kegiatan utama.

Namun, kunjungan tersebut tidak berhenti pada perjalanan dan wisata. Pujiharjo menjadi ruang untuk melihat wajah masyarakat yang hidup dalam keberagaman agama, suku, dan tradisi.

Kepala Desa Pujiharjo Hendik Asro Hadi Winulyo mengatakan keberagaman tidak menghalangi masyarakat untuk tetap hidup guyup dan bergotong royong.

“Masyarakat di sini guyup rukun meskipun multiagama, Nasrani, Muslim, Buddha. Namun tetap guyup rukun, gotong royong,” kata Hendik.

Ia juga menceritakan bahwa Mushala At-Taubat dibangun oleh almarhum ayahnya sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Muslim. Menurutnya, semangat kebersamaan juga terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk tradisi Suro dan ketika ada warga yang meninggal.

Pujiharjo sendiri dikenal memiliki tradisi masyarakat yang masih kuat. Selain umbul dungo pada bulan Suro atau Muharam, terdapat tradisi petik laut sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Dalam kegiatan tersebut, para pemuka agama hadir dan memimpin doa secara bergantian.

Dalam kajiannya, Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang Abdul Aziz Syafi’i menekankan pentingnya menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan bersama.

Aziz mengaitkan dakwah Rasulullah SAW dengan konsep rahmatan lil alamin. Menurutnya, umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia harus mampu menjadi rahmat bagi kelompok minoritas.

“Karena kita Islam di Indonesia ini adalah mayoritas, maka yang mayoritas ini adalah rahmat bagi yang minoritas,” ujarnya.

Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan Spirit Saptawikrama, tujuh strategi kebudayaan Islam Nusantara yang menjadi bagian dari gagasan LESBUMI.

Aziz mengajak penggerak seni budaya untuk menjaga kebersamaan, kebinekaan, dan harmoni. Ia menilai perbedaan merupakan sunnatullah sekaligus keniscayaan dalam kehidupan masyarakat.

“Spirit Saptawikrama ini sama sekali tidak berbicara tentang agama. Namun berbicara hal yang lebih spesifik, yakni kebinekaan dan harmoni. Perbedaan adalah sunatullah serta keniscayaan,” katanya.

Menurut Aziz, semangat tersebut sejalan dengan keteladanan Rasulullah SAW ketika membangun kehidupan masyarakat Madinah yang terdiri atas berbagai kelompok. Ia juga mencontohkan kisah penyelesaian persoalan Hajar Aswad sebagai teladan tentang pentingnya kebersamaan dalam menyelesaikan konflik.

Dalam konteks Indonesia, Aziz mengaitkannya dengan sejarah perumusan Pancasila dan Piagam Jakarta. Menurutnya, perjalanan sejarah bangsa menunjukkan bahwa kebinekaan membutuhkan kebesaran hati, dialog, dan kesediaan menjaga persatuan.

Momentum Maulid Nabi di Pujiharjo, kata Aziz, menjadi pengingat bahwa ajaran Rasulullah SAW tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga bagaimana membangun kehidupan bersama.

“Merajut kembali ukhuwah basyariyah, persaudaraan sesama umat manusia, ukhuwah wathaniyah, persaudaraan dengan ikatan kebangsaan, tanah air dan rasa cinta tanah air,” pungkasnya.

Kontributor: Abdul Azis Syafi’i

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan