TUMPANG, NUMALANG.ID Rabo, 12 Agustus 2026, jam; 19:26 Wib bertempat di Dusun Duwet Krajan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang Jawa Timur. Gelar acara “Tasyakuran Adat Karo Masyarakat Adat Suku Tengger dan Khaul Kyai Dada Pethak atau Dada Putih” digelar.
1000 jamaah memadati acara “Tasyakuran Adat Karo Masyarakat Adat Suku Tengger dan Khaul Kyai Dada Pethak atau Dada Putih” berlangsung khidmat, khusu’ dan meriah serta antosias dengan duduk tertib, tampak tamu undungan dari luar dusun hadir, memenuhi area tamu undangan yang telah disiapkan panitia. Pergelaran jamaah sholawat nabi turut serta memeriahkan acara ini. Tepat jam 19:26 Wib acara dimulai para dukun adat setempat telah naik diatas panggung mbah Nur Fadli dan mbah Ponito, disusul kemudian ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang Abdul Aziz Syafii bersama Letda Dedi Nurdiansyah, ST, MT. Dari Politehnik Angkatan Darat Poltekad bertugas memberikan tausiyah dan wawasan kebangsaan.
Bapak dukun Nur Fadli selaku kepala dukun suku Tengger area Malang mengawalinya dengan umbul dungo atau doa-doa dengan gaya bahasa khas Tengger yang menjadi simbul kekhasan suku Tengger Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. Ungkap beliau, “umbul dungo ini dihaturkan untuk para leluhur yang telah meninggal semoga segala amal ibadahnya senantiasa diterima serta kekhilafannya diampuni Allah Swt”. Kemudian umbul dungo berikutnya dihaturkan bapak dukun Ponito, beliau adalah dukun sepuh desa Duwet, kali ini umbul dungo yang beliau haturkan bernada gaya bahasa Jawa khas Duwet doa-doa tersebut berisi sebuah “harapan, cita-cita dan hajad hidup masyarakat setempat dan sekitarnya semoga Allah Swt senantiasa mengabulkannya”.

Adapun media pelengkap yang digunakan dalam umbul dungo ini seperti; kemenyan, sebagai simbul dari gondo arum atau “wewangian”, cok bakal “sesajen-sesaji” yang berisi hasil bumi lengkap sebagai media permohonan keselamatan dan keberkahan dari Allah Swt, kemuadian ada 5 tumpeng gede-tumpeng besar yang lengkap dengan lauk pauknya dan tumpeng kecil-kecil sejumlah 10 tumpeng, buah pisang, jeruk, semangka, kue-kue jajan pasar dan sayuran hasil bumi turut ditata rapi diatas panggung. Tumpeng tersebut besama buah, kue dan sayuran setelah bacaan akan dibagikan rata dan dimakan bersama, sebagai simbul dari tasyakuran adat Karo.
Bacaan tawassul dan tahlil dipimpin Muhammad Usman selaku penyuluh agama setempat, ungkapnya bahwa tawassul dan tahlil adalah sebagai simbul ciri khas dari Islam Ahlussunnah wal-Jamaah an-Nahdliyyah. Sholawat barzanji indalqiyam dengan berdiri serta doa penutup rangkaian umbul dungo.
Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang Abdul Aziz Syafii menyampaikan, bahwa tasyakuran adat Karo adalah murni selamatan adat, bukan agama. Nah karena masyarakat Duwet mayoritas muslim Islam, maka tasyakuran adat Karo di Duwet bernafaskan Islam. Islam yang Rahmatan Lil Alamin penebar kasih sayang, sebagaimana misi besar ajaran Rasulullah Saw yang kemudian di teruskan oleh Wali Sogo dan dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama melalui LESBUMI. Tasyakur sendiri bermakna memuji dan bersyukur kepada Allah Swt dan ungkapan terima kasih atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang diwujudkan dengan cok bakal sesaji-sesajen, tumpeng, kue, buah dan sedekah hasil bumi lainnya. Sebagimana janji Allah Swt barang siapa yang pandai bersyukur maka Aku Allah Swt akan menambah kenikmatan yang lainnya.
Lanjut Aziz, bahwa Karo adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan suku Tengger, yakni bulan ke 2 maka disebut Karo yang bermakna 2 atau Kaleh dalam bahasa Jawa kromo. Filosofi Karo dalam masyarakat adat Tengger Duwet memiliki makna paling esensi yakni memperinganti asal mu asal penciptaan manusia dan kembali pada kefitrahannya-kesucian manifestasi lewat hubungan mendalam dengan alam-ekologi sekitar. Secara garis besar tasyakuran adat Karo, meliputi Pertama; “memayuh hayung bawana” dengan menjaga melestarikan alam. Kedua; “harmoni teoligis dan berkah bumi dengan simbul tumpeng gede” berisi nasi berkat, lauk pauk dan sayuran masak hasil bumi, sebagai simbul “penyuwon” kepada Allah Swt agar masyarakat setempat dijauhkan dari marabahaya dan paceklik. Ketiga; “nguri-uri bekti kepada leluhur dan dilanjutkan dengan tradisi nyadran “nyekar kubur-ziarah kubur” sebagaian rumpun budaya Tengger dan Jawa tasyakuran adat Karo masyarakat adat Duwet Tumpang kerap bersinggungan dengan nyadran yakni ziarah kubur sebagai wujud penghormatan kepada para tokoh paling sepuh bedah desa, bedah krawang desa atau bedah alas yakni; kyai Dada Pethak. Nah bentuk wujud dari nyadran ini adalah ziarah kekubur “makam” kemudian membacakan “tahlil, tahlilan” dengan harapan para arwah leluhur diampuni dan mendapatkan tempat terbaik disisi Allah Swt. Kemudian keempat; “merawat kebhenikaan dan solidaritas sosial dengan tradisi makan bersama atau “andon mangan”, suku Tengger Duwet Tumpang sangat memegang erat nilai-nilai toleransi, tasyakuran adat Karo Duwet Tumpang diikuti oleh semua lapisan masyarakat tanpa memandang ras, suku dan agama. Setelah prosesi ritual serta doa tasyakuran selesai masyarakat melakukan makan bersama dari hasil bumi yang disajikan sebagai wujud “mengikis egosentris individualistik”, mempererat talisilaturrahmi yakni diwujudkan andon mangan, menegaskan bahwa mereka adalah satu keluarga besar yakni masyarakat adat suku Tengger.
Tegas Aziz, bahwa kyai Dada Pethak yang kita peringati khaulnya pada malam hari ini adalah tokoh bedah desa paling sepuh disini desa Duwet Tumpang, Dada Pethak adalah nama dalam bahasa Jawa kromo yang berarti Dada Putih, beliau tercatat sebagai kyai yang sezaman dengan Syekh Jumadil al-Kabir “Syekh Jumadil Kubro” Mojokerto Jawa Timur. Dalam catatan buku Atlas Wali Songo karya K. Ng. Agus Sunyoto “LESBUMI PBNU 2016-2021”, pada bab wali sepuh angkatan pertama, menyebutkan bahwa ada 4 tokoh sepuh yang se- zaman dengan Syekh Jumadil al-Kabir yakni; kyai Dada Pethak “lereng Tengger” Malang tepatnya didesa Duwet Tumpang Kabupaten Malang, Syekh Sampo dari suku Domas Nusa Tenggara Barat, Maulana Ishaq dari Blambangan Banyuwangi. 4 tokoh ini dianggap paling sepuh dalam menyiarkan ajaran Islam di Jawa dan luar Jawa.
Data fisik pendukung lainnya bahwa beliau kyai Dada Pethak adalah tokoh sepuh ada manuskrip kuno nusantara yang tersebar dimasyarakat setempat yang saat ini telah dipelajari pelan-pelan dengan LESBUMI PCNU Kabupaten Malang. Manuskrip kuno ”naskah nusantara” dokumenatau tulisan tangan masa lalu pada media seperti; kertas tradisional, daun lontar atau kulit berusia tua dan bernilai sejarah serta budaya. Ungkapnya. Hal ini senafas dengan hasil Muktamar Kebudayaan LESBUMI pada 12-14 Juli 2026 dipondok pesantren Tamabakberas Jombang 1 bulan lalu. Dan point pentingnya ada korelasi dengan tasyakuran dan khaul ini yakni; KEMBALI KE AKAR. Tradisi, budaya dan kearifan lokal yang menggiring pada kearifan, kebijaksanaan, harmoni, kemanusiaan serta penjagaan dan pelestarian lingkungan seperti; “alam, hutan, sumber mata air adalah disebutkan dalam Ekologi Islam” sebuah keniscayaan manusia menjaganya, wujud manusia adalah khalifatul ardhi dibumi.
Dalam kesempatan itu pula Letda Dedi Nurdiansyah, turut menyampaikan bahwa filososi Dada Putih adalah manusia yang bersih hatinya, fikirannya semata-mata bentuk penghambaan kepada Allah Swt serta berkhidmat kepada kebaikkan pada sesama manusia. Makanya beliau kyai Dada Putih bersih hatinya hingga dadanya bercahaya berwarna putih. Dalam perkembangan tehnologi saat ini manusia harus kembali kepada ajaran Allah Swt melalui risalah nabi Muhammad Saw karena dengan modal risalah dan ajaran Rasulullah Saw kita akan terarah hidup kita, kyai Dada Putih adalah simbul bahwa beliau benar-benar menghamba kepada Allah Swt dan tanpa ada tendensi apapun dari manusia, sehingga Allah memberi hikmah hati, dada yang putih bersih hingga bercahaya putih.




