back to top
Sabtu, Agustus 22, 2026

Menghafal Aksara Qur’ani, Menapak Titian Islami

Pada tahun 2018, Pondok Pesantren Al-Qur’an (PPQ) Al-Qosimi mendapat lahan di sebelah kediaman Ning Maria Ulfa, selaku Pengasuh (Musyrifah), dari H. Lukman Mahmudji, mewakili keluarga Abah Mahmudji, setelah pada pertengahan tahun 2015 putri bungsu kiai Qosim Bukhori itu dapat tersenyum karena memperoleh sebidang tanah wakaf dan bangunan dibelakang rumahnya dari sosok yang sama.

Semenjak PPQ Al-Qosimi memiliki bangunan gedung yang dirasa lebih dari layak untuk ruang rebahan para santri, secara perlahan dan bertahap Ning Maria Ulfa mulai tancap gas menggerakkan seluruh sudut putaran roda kegiatan-kegiatan di pesantren ini baik terkait aspek hafalan Al-Qur’an, aspek spiritual transendental, aspek interaksi sosial, aspek kedermawanan, maupun aspek kebersihan dan ketertiban.

Aspek Hafalan Al-Qur’an

Sebagai rahim yang dirancang mampu melahirkan para penjaga wahyu yang tangguh, PPQ Al-Qosimi benar-benar tampil bagai menara mercusuar yang senantiasa memancarkan cahaya Kalam Ilahi. Dari aspek ini, keteraturan jadwal, ragam metode, sistem setoran, dan ujian dalam bentuk memperdengarkan hafalan di luar kepala (binnadzar) terus dijaga, dikoordinir dan bahkan ikhtiar-ikhtiar pengembangan dan pembaruan senantiasa diupayakan.

Per-hari ini, Ning Maria Ulfa telah menerapkan ragam cara setoran hafalan Al-Qur’an dengan jenis-jenis metode sesuai tahapan-tahapan setelah segala macam cara dijajal sebelumnya sebagai ikhtiar melahirkan generasi penghafal firman Tuhan. Ragam cara tersebut adalah:

Pertama, berdasarkan jenis muatan hafalan yang memuat: (1) Tambahan (ziyadah), yaitu setoran ayat-ayat atau halaman baru yang belum pernah disetorkan sebelumnya. (2) Pengulangan (murajaah), yaitu setoran ayat-ayat, halaman atau juz yang sudah di hafal. Lantunan bacaan (tasmi’), yaitu setorkan langsung sekian juz dalam sekali duduk tanpa jeda.

Kedua, berdasarkan metode interaksi (metode klasik) yang memuat: (1) Tatap muka (talaqqi), yaitu setoran hafalan secara langsung berhadapan (face-to-face) dengan guru. (2) Berpasangan (ardh), yaitu setoran hafalan kepada sesama teman sebaya. (3) Setoran mandiri (khitabah), yaitu bacaan hafalan dengan suara keras secara personal.

Praktik dan pendampingan Ning yang memiliki tiga putri itu dilandaskan atas anjuran tentang menghafal Al-Qur’an yang bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an:

بَلْ هُوَ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ

Artinya: “Bahkan, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut:49)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Artinya: “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar:17)

Bersumber dari hadits-hadits Nabi Muhammad SAW:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Artinya: “Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an (penghafal): Bacalah dan naiklah (ke derajat surga), serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Karena kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Tirmidzi)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Al-Qur’an, ibarat rumah yang runtuh (kosong).” (HR. Tirmidzi)

Aspek Spiritual Transendental

Aspek ini adalah dimensi kegiatan kehidupan yang berfokus pada hubungan hamba dengan Tuhannya. Kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kedamaian batin, pembersihan jiwa, dan pemahaman makna hidup yang melampaui batas fisik dan duniawi itu sebetulnya telah diwujudkan oleh Ning Maria Ulfa semenjak awal berdirinya pesantren ini. Aktivitas spritual meliputi:

Pertama, shalat berjamaah berikut dzikir-dzikir, baik sebelum maupun usai shalat, termasuk bacaan surah-surah Al-Qur’an tertentu setelah shalat. Sebagaimana shalat secara berjamaah merupakan kegiatan yang bersifat wajib diikuti setiap santri di lingkungan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, maka PPQ Al-Qosimi juga menerapkan hal yang sama terhadap pelaksanaan shalat berjamaah. Bahkan di PPQ Al-Qosimi, para santri diharuskan bersiap-siap sebelum adzan berkumandang, sehingga dimungkinkan mereka dapat menjawab panggilan Tuhan itu sekaligus membaca doa setelah adzan.

Kedua, shalat malam. Sekitar akhir bulan Mei 2026 ini, Ning Maria Ulfa turun gunung langsung membersamai para santri melaksanakan shalat tahajud. Kegiatan ini dimulai sekitar jam 03.00 bagi para pengurus dan santri senior dan sekitar jam 04.00 bagi santri yunior.

Ketiga, puasa Senin-Kamis serta hari-hari lain yang disunnahkan berpuasa. Sekalipun ibadah ini bersifat anjuran, tetapi hampir semua santri melaksanakan ritual ini lebih-lebih di hari Senin dan Kamis.

Tentu saja pelaksanaan ritual di atas dilandaskan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah:43). Dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Al-Qurtubi menjelaskan sisi fikihnya bahwa perintah “rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” merupakan penegasan tentang berjamaah.

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya: “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari-Muslim)

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Artinya: “Barangsiapa yang shalat Isyak berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat semalam suntuk.” (HR. Bukhari)

Selain firman Allah SWT dan sabda Rasulallah SAW, shalat berjamaah di lingkungan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo juga dilatari oleh anjuran yang senantiasa digaungkan KH Qosim Bukhori kepada santri-santrinya sekaligus menjadi rutinitas yang hampir-hampir tidak pernah ditanggalkan sehingga sosok beliau merepresentasikan konsistensi shalat berjamaah.

Demikian pula penyelenggaraan shalat tahajud yang dianggap paling utama setelah shalat fardhu dan berada di waktu paling mustajab untuk berdoa di PPQ Al-Qosimi didasarkan pada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya: “Dan pada sebagian malam hari, bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra:79)

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ ، وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ

Artinya: “Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, penghapus dosa-dosa, dan pencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi)

Begitu juga puasa Senin-Kamis dan puasa-puasa sunnah lainnya didorong oleh spirit Al-Qur’an dan hadits:

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَافِظَٰتِ وَٱذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab:35). Ayat ini mencakup orang-orang yang istiqamah menjaga puasa wajib dan menghidupkan hari-harinya dengan puasa sunnah.

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Berbagai amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Aspek Interaksi Sosial

Secara umum pola relasi di dunia pesantren tidak luput dari dua ranah interaksi santri:

Pertama, interaksi internal yang meliputi: (1) Hubungan sosial bersama kiai dan ustadz, termasuk pengurus. (2) Hubungan sosial sesama teman. Hampir sama dengan di pesantren lainnya, pola-pola relasi santri dengan kiai dan ustadz di lingkungan PPQ Al-Qosimi nyaris tidak ada masalah, sebab selain telah kukuh dalam bentuk tradisi santri, pola relasi santri dengan kiai dan ustadz juga kian kokoh melalui doktrin kajian kitab kuning. Oleh sebab itu, sejak awal berdirinya pesantren ini, Ning Maria Ulfa benar-benar memperhatikan pola interaksi antar sejawat dengan cara keharusan berbahasa halus (kromo inggil dalam bahasa Jawa) yang diberlakukan bagi segenap santri dalam semua strata.

Kedua, interaksi eksternal yang meliputi: (1) Hubungan sosial dengan orang tua. (2) Hubungan sosial dengan masyarakat. Dalam konteks ini, putri kiai yang lahir tahun 1978 itu lebih menekankan para santri PPQ Al-Qosimi supaya senantiasa memupuk rasa hormat (ta’dzim) yang sangat tinggi kepada orang tuanya, baik dari sisi sikap santun dalam bertutur kata, patuh pada nasihat maupun cara melayani (khidmah) kepada kedua orangnya.

Nilai-nilai berbakti kepada orang tua tersebut tidak saja didengungkan Ning Maria Ulfa dalam setiap kesempatan tatap muka di hadapan para santri, tetapi juga dikontrol melalui “Buku Monitoring PPQ Al-Qosimi” saat kembali ke pesantren usai masa liburan lewat tanya-jawab dengan orang tua mereka.

Etika berkomunikasi dan bersosial antar teman yang diharapkan PPQ Al-Qosimi supaya tercipta lingkungan yang harmonis, saling mendukung, dan jauh dari konflik sebenarnya dilandaskan kepada Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat:11)

Adapun landasan sabda Rasulullah SAW mengenai pertemanan memiliki dampak besar bagi karakter seseorang sebagaimana dalam hadits:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Artinya: “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat (memilih) siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” (HR. Abu Dawud)

Aspek Kedermawanan

Lebih spesifik implementasi aspek ini dipraktikkan dalam bentuk program yang diistilahkan oleh Ning Maria Ulfa dengan “Jariyah Subuh”, karena pelaksanannya dilakukan setiap shalat Subuh. Bersedekah bukan hanya diposisikan sebagai doktrin dogmatis agama belaka, tetapi Ning Maria Ulfa mendesak segenap santri PPQ Al-Qosimi untuk selalu berpartisipasi dan bahkan senantiasa memastikan keikutsertaan mereka melalui Pengurus.

“Jariyah Subuh” merupakan kegiatan berbagi bagi masing-masing santri yang bersifat wajib. Setiap santri harus mengisi sedekah ke dalam kotak yang telah disediakan untuk masing-masing santri, senilai Rp 2.000,00 bagi mereka yang dibekali uang saku Rp10.000,00 oleh orang tuanya, dan senilai Rp 1.500,00 bagi mereka yang punya uang saku Rp 5.000,00. Hasil dari program tersebut tidak kurang Rp 5.000.000,00 per-bulan dari jumlah santri 120 orang. Sementara ini, dana itu dialokasikan untuk pengembangan fisik pesantren.

Menurut Ning Maria Ulfa, “Jariyah Subuh” diancang sebagai wahana pembiasaan yang dapat diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi dermawan kelak ketika para santri telah kembali ke pangkuan masyarakat. Jargon yang selalu diperdengarkan Ning Maria Ulfa: “Berderma tidak harus menunggu kaya”.

Sebagaimana dimaklumi, perilaku dermawan dilandasi oleh firman Allah SWT:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah:261)

Persoalan bersedekah juga terdapat dalam berbagai hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, diantaranya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Aspek Kebersihan dan Ketertiban

Aspek ini memang selalu didengungkan di lingkungan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, pasalnya Nyai Hj Zainab Qosim, selaku Pengasuh, senantiasa melakukan kontroling dan monitoring terhadap proses-proses kebersihan yang terjadwal di kawasan pesantren putra.

Dimulai dari langkah berkiblat kepada gerakan kebersihan istri KH Qosim Bukhori itu, Ning Maria Ulfa kemudian membuat terobosan:

Pertama, memobilisasi masing-masing santri diharuskan menjaga kebersihan secara individual sehingga diproyeksikan PPQ Al-Qosimi menjelma menjadi ekosistem yang asri. Sebab itu, setiap sampah sekecil apapun akan dikejar pelakunya dan dikenai sanksi sesuai tata tertib yang diberlakukan.

Kedua, secara personal para santri diwajibkan memiliki segala kelengkapan fasilitas kebutuhan harian sehingga tercipta kebiasaan mandiri tanpa bergantung terhadap kepemilikan orang lain, apalagi bersikap mudah meminjam atau malah menggunakan bukan haknya (pencurian). Dalam konteks ini, labelisasi menjadi program wajib atas semua benda milik pribadi masing-masing santri.

Kedua gerakan ini tentu saja berlandaskan kepada firman Allah SWT:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah:222)

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

Artinya: “(Apa yang kamu infakkan itu) adalah bagi orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu mengira mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Kamu dapat mengenali mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta-minta kepada orang secara mendesak.” (QS. Al-Baqarah:273). Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang mulia adalah mereka yang menahan diri dari meminjam/meminta kepada orang lain sehingga orang awam mengira mereka berkecukupan.

Dan berdasarkan sabda Rasulallah SAW:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Kesucian (kebersihan setengah (sebagian) dari iman.” (HR. Muslim)

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

Artinya: “Barangsiapa yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya (secara zalim), maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga. Lalu ada seorang pria bertanya: Wahai Rasulullah, meskipun hanya sesuatu yang sedikit? Beliau menjawab: Meskipun hanya sebatang kayu siwak (kayu arak).” (HR. Muslim)

Dengan demikian, di bawah bimbingan Ning Maria Ulfa PPQ Al-Qosimi Putukrejo Gondanglegi Malang diimpikan mampu mengantarkan santri menjadi sosok-sosok yang mampu mengeja firman Allah SWT sekaligus dapat mengimplementasikan ajaran-ajaran-Nya.

Muhammad Madarik (Staf Pengajar Universitas Al-Qolam Malang)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan