back to top
Sabtu, Agustus 22, 2026

Malang dan Sejarah yang Tak Pernah Sederhana

NUMALANGID – Kalau hari ini kita menyebut Malang, yang terbayang mungkin kota berhawa sejuk, kampus, apel, Arema, kuliner, dan pegunungan. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang ternyata tidak mudah dijawab: sejak kapan wilayah ini disebut Malang?

Pertanyaan itu membawa kita pada jejak Kanjuruhan, Tumapel, Malangkuçeçwara, prasasti abad XII, bentang alam, hingga cerita rakyat tentang pasukan Mataram. Masalahnya, semua jejak tersebut tidak berada dalam satu zaman dan tidak memiliki kekuatan bukti yang sama.

Di sinilah sejarah perlu dibaca dengan hati-hati. Tidak semua cerita yang terdengar masuk akal otomatis menjadi fakta sejarah.

Kanjuruhan, Jauh Sebelum Singhasari

Salah satu kekeliruan yang sering muncul adalah anggapan bahwa sejarah Malang baru dimulai pada masa Tumapel, Ken Arok, dan Singhasari.

Padahal, jauh sebelumnya telah dikenal pemerintahan Kanjuruhan. Prasasti Dinoyo bertahun 682 Śaka atau 760 Masehi mencatat Raja Dewasimha dan putranya, Sang Liswa, yang kemudian bergelar Gajayana.

Pada masa Gajayana, Kanjuruhan tampil dalam sumber epigrafis sebagai pusat kekuasaan di kawasan Malang kuno. Prasasti tersebut juga mencatat pembangunan tempat suci untuk pemujaan Resi Agastya serta pembuatan arca Agastya dari batu hitam.

Artinya, ketika berbicara tentang sejarah Malang, Kanjuruhan tidak dapat dilewati.

Malang tidak tiba-tiba lahir sebagai sebuah kota. Ia tumbuh dari lapisan pemerintahan, permukiman, pusat keagamaan, dan jaringan kekuasaan yang telah ada berabad-abad sebelumnya.

Jangan Terjebak Kemiripan Nama

Perdebatan kemudian mengarah pada Watuhumalang.

Nama tersebut memang dikenal dalam Prasasti Mantyasih tahun 907 Masehi. Rakai Watuhumalang disebut sebagai salah satu raja yang memerintah sebelum Raja Balitung. Namun, Watuhumalang merupakan nama atau gelar seorang raja, bukan otomatis nama sebuah wilayah bernama Malang.

Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi penting dalam membaca sejarah.

Kemiripan bunyi tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan nama. Sejarawan harus membedakan nama raja, gelar, wilayah, desa, bangunan suci, dan nama geografis.

Kesalahan justru sering muncul ketika berbagai kategori tersebut dicampur menjadi satu narasi.

Malangkuçeçwara: Hipotesis, Bukan Kepastian

Nama Malangkuçeçwara muncul dalam sumber dari masa Raja Balitung, antara lain Prasasti Mantyasih tahun 907 Masehi dan prasasti tahun 908 Masehi.

Karena memiliki kemiripan bunyi dengan “Malang”, Malangkuçeçwara kemudian menjadi salah satu hipotesis penting mengenai asal-usul nama Malang.

Namun, di sinilah kita perlu membedakan antara hipotesis dan fakta.

Pemerintah Kota Malang juga menempatkan Malangkuçeçwara sebagai salah satu hipotesis asal-usul nama Malang dan menyebut bahwa lokasi persis bangunan suci tersebut belum memperoleh kesepakatan di kalangan ahli.

Maka, mengatakan “Malang pasti berasal dari Malangkuçeçwara” terlalu jauh.

Kalimat yang lebih bertanggung jawab adalah: Malangkuçeçwara merupakan salah satu hipotesis mengenai asal-usul nama Malang.

Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi maknanya besar.

Sebab sejarah tidak hanya membutuhkan cerita yang menarik. Sejarah membutuhkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika “Malang” Sudah Menjadi Nama Tempat

Salah satu titik penting dalam perdebatan ini adalah Prasasti Pamotoh atau Ukir Negara yang bertarikh 1120 Śaka atau 1198 Masehi.

Prasasti tersebut menyebut “Malang” sebagai nama sebuah daerah di sebelah timur Gunung Kawi. Dengan demikian, terdapat bukti tertulis mengenai penggunaan “Malang” sebagai nama tempat pada abad XII.

Hal ini perlu dibedakan dari Malangkuçeçwara.

Malangkuçeçwara muncul dalam sumber abad X sebagai nama yang berkaitan dengan bangunan atau pemujaan suci, sedangkan “Malang” muncul secara eksplisit sebagai nama tempat dalam sumber abad XII.

Apakah keduanya memiliki hubungan?
Sangat mungkin menjadi bahan penelitian.
Tetapi menarik untuk diteliti tidak sama dengan sudah terbukti.
Di sinilah batas antara sejarah dan spekulasi harus dijaga.

Tumapel Bukan Tumpang

Persoalan lain yang sering tercampur adalah Tumapel dan Tumpang.

Tumapel merupakan bagian penting dari fase awal kekuasaan Ken Arok yang kemudian berkembang menjadi Singhasari. Sementara itu, Tumpang merupakan kawasan yang memiliki sejumlah peninggalan masa Singhasari, seperti Candi Jago dan Candi Kidal.

Keduanya sama-sama penting dalam sejarah kawasan Malang. Namun, fakta tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa Tumapel adalah Tumpang.

Begitu pula ketika Kanjuruhan, Gajayana, Watuhumalang, Malangkuçeçwara, Tumapel, dan Ken Arok dirangkai menjadi satu garis cerita tanpa membedakan zaman dan konteksnya.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu ditegaskan:

Kanjuruhan bukan Tumapel.
Tumapel tidak otomatis berarti Tumpang.
Watuhumalang tidak otomatis menjadi asal nama Malang.
Malangkuçeçwara belum dapat dipastikan sebagai asal nama Malang.

Bagaimana dengan Gunung Malang dan Kisah “Menghalangi”?

Ada hipotesis lain yang berkaitan dengan bentang alam.

Sumber-sumber daerah mencatat adanya gunung yang disebut Malang di sekitar kawasan Buring. Dalam bahasa Jawa, kata malang dapat berkaitan dengan makna melintang, menghalangi, atau membentang.

Hipotesis tersebut menarik, tetapi belum dapat diposisikan sebagai bukti prasasti yang tegas.

Ada pula cerita mengenai serangan pasukan Mataram pada 1614. Dalam kisah yang berkembang, masyarakat setempat disebut “menghalangi” kedatangan pasukan sehingga wilayah itu kemudian disebut Malang.

Cerita ini tetap memiliki nilai sebagai tradisi sejarah lokal. Namun, secara kronologis, ia tidak mungkin menjadi bukti kemunculan pertama nama Malang jika Prasasti Pamotoh tahun 1198 Masehi telah menyebut nama tersebut berabad-abad sebelumnya.

Maka, tradisi lokal tidak harus dibuang.
Tetapi ia harus ditempatkan pada tempatnya.
Tradisi adalah tradisi. Prasasti adalah prasasti. Hipotesis adalah hipotesis.
Ketiganya dapat berdialog, tetapi tidak boleh dipertukarkan.

Sejarah Tidak Selalu Harus Memiliki Satu Jawaban

Lantas, dari mana sebenarnya nama Malang?
Setidaknya ada beberapa kemungkinan yang masih perlu dibaca secara kritis: Malangkuçeçwara, nama geografis Malang yang tercatat dalam prasasti, bentang alam, serta tradisi “malang” dalam pengertian menghalangi.

Tidak semua kemungkinan tersebut memiliki kedudukan bukti yang sama.
Dan justru di sinilah persoalan sejarah menjadi menarik.

Kita sering ingin sejarah memiliki satu jawaban sederhana. Kita ingin tahu siapa yang pertama, nama mana yang paling asli, dan cerita mana yang paling benar.

Padahal, sejarah tidak selalu bekerja seperti itu.

Sejarah Malang memperlihatkan sebuah kawasan dengan lapisan yang panjang: Kanjuruhan pada abad VIII, Malangkuçeçwara dalam sumber abad X, nama Malang sebagai toponim dalam sumber abad XII, kemudian Tumapel dan Singhasari, hingga perubahan kekuasaan dan masyarakat pada masa-masa berikutnya.

Karena itu, pertanyaan “Malang berasal dari mana?” mungkin tidak harus dijawab dengan satu nama.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita sampai pada jawaban tersebut.

Apakah berdasarkan prasasti?
Apakah berdasarkan penelitian?
Apakah berdasarkan tradisi lisan?
Atau sekadar karena sebuah cerita sudah terlalu sering diulang?
Sebab sejarah bukan lomba siapa yang paling cepat berkata, “ini pasti benar”.

Sejarah adalah keberanian untuk mengatakan: ini buktinya, ini tafsirnya, dan ini yang masih diperdebatkan.

Dari sana, penelitian dapat terus berjalan.
Sebab Malang bukan hanya sebuah nama di peta. Ia adalah jejak panjang manusia, kekuasaan, kebudayaan, kepercayaan, dan ingatan yang diwariskan dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Dan mungkin, justru karena sejarahnya tidak sederhana, Malang selalu punya alasan untuk terus diteliti.

Penulis: Syahrullah Mahmud

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan