back to top
Minggu, Juli 26, 2026

Menjaga Adab, Merawat Amanah Kepemimpinan

NUMALANGID, Di tengah maraknya konflik internal organisasi, budaya saling menyerang di ruang digital, dan menurunnya keteladanan pemimpin, ada satu nilai yang kian terpinggirkan: adab. Banyak orang berlomba menyampaikan pendapat, tetapi sedikit yang bersedia mendengar. Banyak yang ingin memimpin, tetapi enggan belajar menjadi pengikut yang bertanggung jawab. Padahal, kualitas kepemimpinan selalu berawal dari kualitas adab.

Pesantren sejak lama mewariskan sebuah prinsip yang tetap relevan hingga kini: al-adabu fauqal ‘ilm adab didahulukan sebelum ilmu. Bukan karena ilmu tidak penting, melainkan karena ilmu hanya akan menjadi cahaya jika bersemayam dalam hati yang beradab. Dari nilai inilah peradaban Islam bertumbuh: bukan semata-mata oleh kecerdasan, tetapi oleh akhlak yang mengarahkannya.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, adab tidak berhenti pada sopan santun. Adab adalah kemampuan menempatkan diri secara proporsional di hadapan Allah, Rasulullah, guru, orang tua, ulama, serta pemimpin yang memikul amanah. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa keberkahan ilmu dan kokohnya jamaah bertumpu pada penghormatan terhadap adab.

Namun, tantangan zaman bergerak ke arah sebaliknya. Ruang digital mendorong siapa pun untuk berbicara tanpa batas, sementara kemampuan mendengar, bermusyawarah, dan menerima perbedaan justru melemah. Akibatnya, kritik kerap berubah menjadi celaan, perbedaan pendapat berkembang menjadi permusuhan, dan kepentingan pribadi mengalahkan kemaslahatan bersama.

Imam Al-Ghazali menyebut salah satu penyakit hati yang paling halus sebagai hubbul jah kecintaan berlebihan terhadap kedudukan dan pengaruh. Penyakit ini sering menyamar sebagai semangat memperjuangkan kebenaran, padahal yang diperjuangkan sesungguhnya adalah ego. Ketika ego mengambil alih, musyawarah kehilangan makna, amanah mudah diabaikan, dan persatuan menjadi rapuh.

Karena itu, ketaatan dalam organisasi tidak boleh dimaknai sebagai penghambaan kepada manusia. Ketaatan merupakan penghormatan terhadap amanah dan kesepakatan bersama selama kepemimpinan berjalan dalam koridor syariat, keadilan, dan kemaslahatan. Sebaliknya, kritik tetap merupakan bagian penting dari kehidupan organisasi, tetapi harus disampaikan melalui adab, musyawarah, dan niat memperbaiki, bukan mempermalukan.

Gus Dur memberikan teladan bahwa perbedaan bukan ancaman bagi persatuan. Yang membahayakan justru hilangnya rasa saling menghormati. Ketika adab dijaga, perbedaan melahirkan kebijaksanaan. Sebaliknya, ketika adab hilang, bahkan kebenaran dapat berubah menjadi alat untuk saling menjatuhkan.

Dalam kehidupan berjamaah, pengkhianatan tidak selalu hadir dalam bentuk penolakan terbuka. Ia juga dapat muncul melalui pengabaian amanah, rusaknya kepercayaan, penyebaran prasangka, atau kecenderungan mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Luka yang ditinggalkannya sering kali lebih dalam daripada sekadar perbedaan pandangan.

Tasawuf mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri. Mereka yang mampu mengendalikan ego akan lebih mudah menerima nasihat, menghormati pemimpin yang amanah, dan menjaga adab meskipun berbeda pendapat.

Kekuatan Nahdlatul Ulama sejak dahulu tidak hanya lahir dari besarnya jumlah warga, luasnya jaringan pesantren, atau banyaknya lembaga yang dimiliki. Kekuatan itu tumbuh dari budaya adab yang diwariskan para masyayikh: memuliakan musyawarah, menjaga amanah, menghormati perbedaan, dan menempatkan kemaslahatan jamaah di atas kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, merawat adab terhadap kepemimpinan yang amanah bukan sekadar menjaga ketertiban organisasi. Ia adalah ikhtiar merawat warisan akhlak para ulama. Sebab organisasi tidak runtuh karena kekurangan orang cerdas, melainkan ketika kehilangan orang-orang yang menjunjung adab. Aturan dapat membangun sebuah organisasi, tetapi hanya adab dan kepercayaan yang mampu membuatnya bertahan.

Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Penulis: Saiful Anam

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan