back to top
Minggu, Juli 26, 2026

Dari Sebuah Dawuh Menjadi Madrasah: Merawat Sanad Ilmu, Adab, dan Khidmah Nahdliyin

NUMALANGID, Madrasah yang besar tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Ia tumbuh dari kepatuhan seorang santri kepada gurunya, disiram keikhlasan masyarakat, lalu bertahan karena doa-doa yang tak tercatat dalam buku sejarah.

Pagi di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, berembus membawa kesejukan pegunungan. Di halaman MI KH. Romly Tamim, anak-anak berseragam hijau-putih berlarian menuju kelas, menyempatkan mencium tangan guru sebelum melangkah masuk. Pemandangan yang tampak biasa, tetapi menyimpan akar sejarah yang panjang tentang kepatuhan, gotong royong, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah instrumen utama membangun peradaban.

Untuk menelusuri kisah itu, saya menemui H. Muhammad Samsudduha, sosok yang akrab disapa Abah Duha, yang memimpin madrasah ini selama 17 tahun (2008–2025). Meski estafet kepemimpinan telah berganti, hampir setiap hari beliau tetap hadir di lingkungan sekolah.

Ketika saya berseloroh menanyakan alasannya tetap datang meski tak lagi menjabat, beliau tersenyum. “Lha wong ini rumah saya yang kedua. Kalau tidak ke sini, rasanya seperti santri pulang tanpa sowan.” Jawaban sederhana itu menegaskan satu hal: ada pengabdian yang digerakkan oleh jabatan, tetapi ada pula yang digerakkan oleh cinta.

Foto: Gedung Madrasah. (numalang.id/anam)

Menembus Batas Zaman lewat Dawuh

Asal-usul madrasah ini tidak bermula dari Rencana Anggaran Belanja atau proposal fisik, melainkan dari sebuah dawuh. Sekitar tahun 1960, seorang pemuda setempat bernama Ahmad Tarfa’u sowan kepada KH. Romly Tamim di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang. Tujuannya sederhana: meminta restu untuk menjadi penghulu di Surabaya.

Namun, jawaban sang guru justru membelokkan arah hidupnya. “Tidak usah menjadi penghulu. Pulanglah ke Belung. Dirikan madrasah.”

Bagi tradisi pesantren, dawuh seorang guru bukanlah ruang perdebatan, melainkan mandat moral untuk dijalankan. Berbekal semangat sami’na wa atha’na, Ahmad Tarfa’u pulang. Bersama tokoh-tokoh perintis seperti Ust. Abdul Jalil dan Ust. Asy’ari, beliau merintis pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah keterbatasan ekstrem.

Pada masa-masa awal berdiri, madrasah ini bahkan belum memiliki gedung. Pembelajaran berlangsung secara lesehan di rumah warga dari kediaman Mbok Tun, rumah KH. Tiyamin Ruslan, hingga rumah Ibu Salamah. Seperti yang diungkapkan oleh Ust. Abu Bakar Ashidiq, guru senior yang mengajar sejak 1985, “Yang dibangun pertama kali bukan gedungnya, melainkan keyakinan masyarakat bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.”

Gotong Royong dan Pusat Peradaban

Seiring bertambahnya murid, kebutuhan akan ruang permanen mendesak. Di sinilah kekuatan kultural Nahdliyin berbicara. Para ulama memimpin arah perjuangan, para aghniya menginfakkan harta, dan warga bergotong royong tanpa pamrih. Di atas tanah wakaf dari Hajah Kayah, berdirilah gedung madrasah yang diresmikan pada 22 Mei 1964.

Namun, fungsi MI KH. Romly Tamim dengan cepat melampaui batas-batas ruang kelas formal. Tempat ini bertransformasi menjadi simpul kehidupan sosial masyarakat Belung: ruang tumbuh RAT/K Muslimat NU, arena musyawarah warga sebelum desa memiliki balai resmi, hingga embrio lahirnya lembaga pendidikan lanjutan seperti MTs dan MA Al-Ittihad.

Perjalanan panjang ini dijaga melalui estafet kepemimpinan yang konsisten dari dirintis oleh Ahmad Tarfa’u hingga kini dinakhodai oleh Muhammad Hamdan Rosyidi sejak 2025. Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar suksesi administratif, melainkan ikhtiar merawat ruh perjuangan agar tetap berpijak pada tiga pilar utama: iman, ilmu, dan akhlakul karimah.

Epilog: Menjaga Adab di Tengah Zaman

Di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi pendidikan hari ini, tantangan institusi madrasah bukan lagi ketiadaan bangunan, melainkan menjaga relevansi nilai.

Sebelum berpamitan, saya mengajukan satu pertanyaan terakhir kepada Ust. Abu Bakar Ashidiq: “Kalau suatu hari nanti gedung ini semakin megah, apa yang tidak boleh berubah?”

Beliau memandang halaman sekolah sejenak, lalu menjawab pelan, “Gedung boleh bertambah tinggi, teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jangan sampai adab murid kepada gurunya semakin rendah.”

Ketika saya meninggalkan gerbang MI KH. Romly Tamim, sayup-sayup suara anak-anak melantunkan doa terdengar dari ruang-ruang kelas. Dari sebuah dawuh sederhana di masa lalu, madrasah ini membuktikan bahwa institusi pendidikan yang kokoh tidak diukur dari seberapa tinggi fondasi betonnya, melainkan dari seberapa dalam akar sanad ilmu dan akhlak yang ia rawat untuk bangsa.

Penulis: Saiful Anam

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan