back to top
Selasa, Mei 12, 2026

PAGAR NUSA Poncokusumo Jaga Ruh Aswaja dan Sejarah Ranting Tertua di Kabupaten Malang

Poncokusumo, NUMalang — Di tengah hawa sejuk lereng Poncokusumo, para kader muda PAGAR NUSA duduk bersila mendengarkan kisah perjuangan para sesepuh. Tidak sekadar latihan bela diri, pertemuan itu menjadi ruang sinau sejarah sekaligus pengingat tentang ruh perjuangan Nahdlatul Ulama yang terus dijaga lintas generasi.

Suasana itu tampak dalam kegiatan kunjungan Ketua PC PAGAR NUSA Kabupaten Malang, Gus Saiful Anam, ke PR PAGAR NUSA Poncokusumo pada Minggu (10/5/2026) di halaman Masjid Poncokusumo.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB tersebut mengangkat bedah sejarah PAGAR NUSA Poncokusumo, salah satu ranting tertua di Kabupaten Malang. Para kader diajak memahami perjalanan organisasi sejak masa awal berdiri hingga transformasinya saat ini.

Sesepuh PAGAR NUSA Poncokusumo, Khoirul Anam atau akrab disapa Mbah Irul, menuturkan bahwa PAGAR NUSA di wilayah tersebut resmi bergabung pada tahun 1990. Awalnya, masyarakat Poncokusumo memiliki ketertarikan besar terhadap olah kanuragan yang kala itu dibimbing almarhum Ustadz Nurhadi.

Kader dan sesepuh PAGAR NUSA Poncokusumo mengikuti kegiatan sinau sejarah bersama PC PAGAR NUSA Kabupaten Malang di halaman Masjid Poncokusumo, Minggu (10/5/2026).

“Awalnya warga sini senang olah kanuragan. Kemudian dibimbing almarhum Ustadz Nurhadi hingga akhirnya tersambung dengan pengurus cabang saat itu seperti almarhum H. Farhan dan Ustadz Aksin. Dari situlah akhirnya resmi bergabung menjadi PAGAR NUSA tahun 1990,” tutur Mbah Irul.

Menurutnya, PAGAR NUSA sejak awal tidak hanya hadir sebagai wadah bela diri, tetapi juga benteng penjaga karakter ke-NU-an dan nilai Ahlussunah wal Jamaah di tengah perubahan zaman.

Ia juga mengenang salah satu momentum bersejarah ketika PAGAR NUSA Poncokusumo mendapat kehormatan mengawal KH Abdurrahman Wahid atau Abdurrahman Wahid pada 6 Juni 1996 di Lapangan Poncokusumo.

“Sesuai dawuh Gus Dur saat menjadi Ketua Umum PBNU waktu itu, beliau meminta dikawal PAGAR NUSA. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujarnya.

Bagi Mbah Irul, perubahan generasi tidak boleh menghilangkan ruh utama PAGAR NUSA, yakni karakter, mental spiritual, dan haluan Ahlussunah wal Jamaah.

“Ada yang harus tetap dipertahankan, yaitu karakter, mental spiritual, dan haluan Ahlussunah wal Jamaah,” tegasnya.

Ia menggambarkan PAGAR NUSA sebagai organisasi dengan banyak dimensi pengabdian. Selain bidang prestasi pencak silat, terdapat pula pengobatan tradisional, petabiban, sembur suwuk, hingga olah pernapasan dan olah rasa untuk kesehatan.

“Di PAGAR NUSA ini ibarat menu sangat lengkap. Ada bidang prestasi, ada pengobatan atau petabiban, ada juga pernapasan untuk kesehatan dan olah rasa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelatih PAGAR NUSA Ranting Poncokusumo, Ustadz Yudin Eko Prasetya, mengatakan pihaknya terus melakukan transformasi organisasi sesuai arahan pengurus cabang. Jika dahulu identik dengan kanuragan, kini PAGAR NUSA juga semakin berkembang di jalur prestasi.

“Kami berusaha mengikuti arahan cabang untuk bertransformasi menuju arah prestasi. Semua berawal dari sinau, dan Alhamdulillah secara prestasi kami tidak kalah dengan ranting lain,” ujarnya.

Perkembangan kaderisasi juga terus meluas. Saat ini, PAGAR NUSA Poncokusumo telah memiliki delapan rayon di bawah kepengurusan ranting.

“Sekarang kami sudah melebarkan sayap. Dari ranting ini sudah ada delapan rayon di bawah pengurus PAGAR NUSA Poncokusumo,” katanya.

Di akhir kegiatan, para kader diingatkan bahwa perjuangan di tubuh PAGAR NUSA harus terus berjalan tanpa memikirkan posisi maupun kepentingan pribadi.

“Perjuangan harus tetap berjalan. Yang penting kita berperan dalam PAGAR NUSA demi tegaknya NU dan ajaran Ahlussunah wal Jamaah,” pungkasnya.

Kegiatan bedah sejarah tersebut bukan sekadar nostalgia masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa PAGAR NUSA lahir dari rahim tradisi NU yang membentuk kekuatan fisik sekaligus keteguhan akhlak, spiritualitas, dan loyalitas terhadap jam’iyah. Dari lereng Poncokusumo, jejak perjuangan itu terus dijaga agar tetap hidup dalam denyut generasi muda Nahdliyin hari ini.(*)

Kontributor: Saiful Anam

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan