Singosari, NUMALANG.ID – Pagar Nusa Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, membina 312 santri aktif yang tersebar di sembilan tempat latihan. Jumlah tersebut menjadi potensi besar bagi penguatan kaderisasi organisasi sekaligus tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kemampuan bela diri, pembentukan akhlak, dan tradisi kesantrian.
Hal itu menjadi perhatian Ketua Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Kabupaten Malang, Saiful Anam, saat melaksanakan turba (turun ke bawah) sekaligus pembinaan organisasi di halaman SMP Raudloh, Plosokerep, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kamis (5/11/2026) pukul 21.30 WIB.
Dalam kegiatan tersebut, Saiful menegaskan bahwa Pimpinan Anak Cabang (PAC) merupakan ujung tombak organisasi. Menurutnya, kekuatan Pagar Nusa di tingkat cabang sangat ditentukan oleh soliditas kepengurusan dan keberhasilan pembinaan kader di tingkat kecamatan hingga ranting.
“PAC adalah ujung tombak organisasi. Kalau PAC kuat, Pagar Nusa kuat sampai ke akar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa identitas pendekar Pagar Nusa tidak cukup diukur dari penguasaan jurus maupun keterampilan bela diri. Seorang pendekar harus memiliki akhlak yang baik, menghormati ulama, serta menempatkan diri sebagai bagian dari tradisi kesantrian Nahdlatul Ulama.
“Pendekar sejati harus punya akhlak yang baik. Pagar Nusa harus sungkem atau salim kepada kiai NU dan menempatkan diri sebagai santri,” ujarnya.
Saiful menekankan bahwa kemampuan bela diri harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Pendidikan Pagar Nusa, menurutnya, bukan semata-mata untuk melahirkan pesilat yang kuat secara fisik, melainkan juga pribadi yang mampu menjaga adab dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua PAC Pagar Nusa Kecamatan Singosari, Moch. Wildan, S.Pd., menjelaskan bahwa lingkungan Yayasan Arroudloh Singosari juga memiliki kegiatan pencak silat GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia). Kegiatan tersebut hadir sebagai ekstrakurikuler bela diri yang berjalan berdampingan dengan pembinaan Pagar Nusa.
Wildan menjelaskan, GASMI merupakan organisasi pencak silat tersendiri yang didirikan oleh almarhum KH Abdullah Maksum Jauhari di Lirboyo, Kediri. Dengan demikian, GASMI dan Pagar Nusa merupakan dua organisasi berbeda, baik dari sisi kelembagaan maupun identitas organisasinya.
Meski demikian, keduanya memiliki kedekatan dalam tradisi pencak silat pesantren, terutama dalam memadukan keterampilan bela diri dengan pendidikan akhlak, kedisiplinan, dan nilai-nilai keislaman.
Yayasan Arroudloh sendiri menaungi sejumlah lembaga pendidikan, mulai dari RA, MI, SMPQ, SMKS hingga pondok pesantren. Melalui berbagai lembaga tersebut, yayasan turut mengembangkan pendidikan dan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah masyarakat.
Wildan berharap kegiatan bela diri tidak hanya menjadi sarana olahraga dan pengembangan kemampuan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi santri yang mampu menjaga diri, merawat tradisi, dan mengamalkan nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman.
Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan yang dikenal di kalangan pesantren dan dinisbatkan kepada KH Abdul Wahab Hasbullah, “Santri kudu iso silat ben gak kalah ambek wong seng gak sholat.”
Ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya santri memiliki kemampuan menjaga diri tanpa meninggalkan identitas keagamaan, adab, dan akhlaknya.
Pandangan serupa disampaikan pelatih PAC Pagar Nusa Singosari, Muhammad Faiz Setia Budi. Ia menilai pembinaan pesilat tidak boleh berhenti pada latihan fisik. Penguatan rohani juga perlu mendapatkan perhatian agar kemampuan bela diri tetap berada dalam koridor akhlak dan nilai kemanusiaan.
“Kami mengajak adik-adik untuk tidak hanya melatih fisiknya, tetapi rohaninya juga perlu dilatih agar menjadi pesilat berkarakter mulia dan tidak menjadi binatang buas,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan tersebut, pihaknya mengajak para santri dan anggota Pagar Nusa mengikuti pengajian Jausyan dan kajian kitab yang dilaksanakan setiap bulan.
Melalui kegiatan itu, para santri diharapkan tidak hanya memperdalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga semakin dekat dengan kehidupan masyarakat serta mampu memberikan kontribusi melalui ilmu dan kemampuan yang dimiliki.
Dengan 312 santri aktif yang tersebar di sembilan tempat latihan, Pagar Nusa Singosari memiliki modal kaderisasi yang cukup besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan pembinaan berjalan secara berkelanjutan sehingga pertumbuhan jumlah anggota diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan pencak silat pesantren tidak hanya diukur dari jumlah anggota maupun kemampuan di gelanggang. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut tercermin dari karakter para pendekar dalam kehidupan sehari-hari: menghormati kiai, menjaga akhlak, merawat tradisi, dan hadir memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kontributor: Saiful Anam




