SINGOSARI, NUMALANG.ID — Malam merambat pelan di Watugede, Singosari. Di balik pendar cahaya lampu Kedai Coffee Abimanyu yang hangat, aroma sangrai biji kopi menyeruak, beradu dengan gemuruh obrolan anak-anak muda yang melingkar di meja kayu.
Rabu malam (21/10/2026) itu, arena kedai kopi tak cuma diisi gelak tawa atau denting cangkir. Puluhan pemuda berseragam hijau dan berpeci hitam—kader Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Singosari bersama Ranting GP Ansor Desa Watugede—tampak begitu serius mengamati selembar demi selembar lembaran naskah. Malam itu, mereka menggelar Bedah Buku Panyirep Gemuruh Part 2.
Bagi mereka, karya sang muassis Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), bukan sekadar manuskrip tua yang berdebu di lemari perpustakaan. Gagasan Mbah Wahab adalah kompas pergerakan yang dirasa masih sangat “menyinggung” realitas pemuda hari ini.
“Sindiran Manis” dari Masa Lalu
“Jujur saja, kegiatan ini secara tidak langsung menjadi sindiran keras bagi kami,” ujar Ketua PAC GP Ansor Singosari, Gus Afifudin, saat membagikan refleksinya di tengah diskusi.
Gus Afif mengajak para kader menengok ke belakang. Pada usia yang masih sangat muda, Mbah Wahab sudah mengambil peran besar sebagai panyirep gemuruh—sebuah idiom Jawa yang bermakna peredam gejolak atau pemadam perselisihan—ketika terjadi konflik di Masjid Peneleh.
Bagi Gus Afif, keteladanan itu melemparkan pertanyaan tajam bagi generasi muda NU hari ini: Sudah sejauh mana kita memberi manfaat nyata di tengah masyarakat?
“Mbah Wahab mencontohkan bahwa di usia muda, beliau sudah mampu menjadi juru damai dan pemberi solusi. Ini ikhtiar kita agar kader Ansor tidak cuma aktif mengurus organisasi, tapi juga matang secara intelektual dan berani mengambil peran,” tambangnya.
Membangunkan Kader yang “Tertidur”
Dampak hangatnya diskusi literasi di meja kopi ini dirasakan langsung di tingkat akar rumput. Ketua PR GP Ansor Desa Watugede, Sahabat Ahmad Fauzi atau yang akrab disapa Bung Fauzi, menyebut ruang-ruang diskusi seperti ini adalah “obat penawar” dahaga keilmuan sekaligus mesin penggerak organisasi.
“Acara ini punya dampak yang sangat terasa buat ranting. Salah satunya, membangunkan kembali sahabat-sahabat kader yang selama ini tertidur agar bangkit,” tutur Bung Fauzi dengan nada mantap.
Ia menambahkan, perjumpaan ini juga melunakkan sekat-sekat komunikasi, menyatukan ritme gerak antara pengurus NU Ranting Watugede dengan para pemuda Ansor dalam satu frekuensi perjuangan.
Menghidupkan Sosok Mbah Wahab dalam Keseharian
Suasana diskusi semakin bernas saat Dr. Kiai Muhammad Kholison naik mimbar sebagai pemantik. Menyambut momentum Hari Santri, Kiai Kholison menegaskan bahwa mengagumi sosok ulama besar tak cukup hanya dengan membaca sejarah atau menghafal biografinya.
“Kita harus menjadi wujud dari Mbah Wahab—mulai dari cara berpikir, cara bertutur kata, hingga tingkah laku kita sehari-hari,” tegasnya di hadapan para peserta yang menyimak penuh hidmat.
Sementara itu, Fathul H. Panata Praja, penerjemah kitab Panyirep Gemuruh, membedah potensi besar manuskrip Pegon yang kerap terabaikan. Menurutnya, khazanah naskah lokal nusantara menyimpan kekayaan gagasan yang bisa dikaji dari berbagai sudut pandang modern, mulai dari fikih sosial, filsafat, hingga strategi komunikasi publik.
Dari Kedai Kopi Menuju Ruang Publik
Diskusi yang berlangsung hingga larut malam tersebut akhirnya menetaskan banyak gagasan segar. Tak ingin berhenti di meja kedai, para kader Ansor Singosari berencana memboyong tradisi bedah buku dan kajian tematik ini ke ruang-ruang masjid serta musala di seluruh penjuru Singosari. Ada pula wacana untuk menginventarisasi naskah-naskah kuno Pegon di kawasan Malang Raya agar bisa diterjemahkan dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Bagi penanggung jawab acara, Sahabat Ilham Muhtadi, ikhtiar literasi ini adalah bukti bahwa spirit santri tidak pernah usang oleh zaman.
“Semoga semangat Mbah Wahab Chasbullah selalu menjadi pengingat bahwa generasi muda harus terus belajar, berpikir kritis, berani bergerak, dan produktif dalam berkhidmat,” pungkasnya.
Di Watugede malam itu, seruputan kopi dan hangatnya diskusi telah membuktikan satu hal: di tangan pemuda yang tepat, tradisi dan pemikiran luhur ulama akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan dan bernyawa.(*)




