NUMALANGID – Di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, nama KH Abdullah Amiin dikenang melalui jejak pengabdiannya di bidang keagamaan, pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai ulama yang tekun, pengayom umat, sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama (NU) yang mendedikasikan diri untuk masyarakat.
Makamnya berada di halaman depan rumah yang berhadapan dengan halaman Masjid Jami’ Al-Musthofa. Letak tersebut menjadi pengingat bagi warga akan sosok kiai yang semasa hidupnya dekat dengan masjid dan jamaah. Bagi masyarakat Urek-Urek, pengabdian KH Abdullah Amiin tidak hanya tercatat dalam perjalanan hidupnya, tetapi juga dalam lembaga pendidikan, kegiatan keagamaan, dan organisasi yang pernah dipimpinnya.
Tumbuh dalam Keluarga Religius
KH Abdullah Amiin lahir dan tumbuh di Malang dari pasangan H. Ali Abdul Syukur dan Hj. Siti Fatimah. Ayahnya dikenal sebagai figur terpandang yang akrab disapa Pak Moden Piyo Putatlor sekitar dekade 1960-an.
Lingkungan keluarga yang religius menjadi tempat awal pembentukan karakter Abdullah Amiin. Kedua orang tuanya menanamkan dasar keilmuan dan ketakwaan sejak kecil. Pendidikan keluarga tersebut menjadi bekal yang mengiringi langkahnya ketika mulai mendalami ilmu agama.
Untuk memperluas pengetahuan keislamannya, Abdullah Amiin kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren PPAI Ketapang, Kepanjen, Kabupaten Malang. Di pesantren itu, ia belajar ilmu-ilmu syariat di bawah bimbingan KH Moh. Said.
Masa pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan keilmuannya. Di sana, ia bahkan berada dalam satu kelas dan satu kamar dengan KH Muhsin dari Maqbul, Bululawang. Kebersamaan sebagai sesama santri menjadi bagian dari pengalaman yang mengiringi perjalanan mereka sebelum terjun ke tengah masyarakat.
Membangun Keluarga dan Meneruskan Khidmah
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, KH Abdullah Amiin menetap di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di desa itu, ia membangun rumah tangga bersama Hj. Sholikhah binti Kiai Shohib bin KH Abdurrahman.
Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai delapan anak. Keluarga menjadi salah satu ruang penting dalam keberlanjutan pengabdian mereka. Sejumlah putra-putrinya kemudian berkiprah di bidang pendidikan, perdagangan, pesantren, dan organisasi kemasyarakatan.
Di antara mereka, Hj. Rofiatin dikenal sebagai pebisnis sekaligus Ketua Muslimat NU Ranting Desa Urek-Urek. H. Nadhiroh berkiprah sebagai guru dan Ketua III PAC Muslimat NU Gondanglegi, sedangkan Siti Rohmah menjadi guru sekaligus pendiri TPQ Al-Hikmah.
Putri lainnya, Hj. Nikmatul Hasanah, menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’bar di Jepara. Sementara itu, H. Zainuddin, M.Pd., berkiprah sebagai guru dan dosen, kepala MI Miftahul Ulum, serta pengurus sejumlah lembaga NU. Asnifah, Siti Asiyah, dan Amirul Muslimin juga menjadi bagian dari keluarga yang dibangun KH Abdullah Amiin bersama Hj. Sholikhah.
Keterlibatan putra-putrinya dalam berbagai bidang tersebut menjadi bagian dari perjalanan keluarga yang tumbuh dalam lingkungan keagamaan dan pengabdian masyarakat.
Meletakkan Fondasi Pendidikan Islam
Kepedulian terhadap pendidikan Islam menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan KH Abdullah Amiin. Ia menaruh perhatian pada kebutuhan anak-anak di lingkungannya untuk memperoleh pemahaman agama yang memadai.
Kepedulian itu diwujudkan melalui keterlibatannya dalam pendirian dan pengembangan Yayasan Madrasah Miftahul Ulum Urek-Urek. Ia menjadi pelopor sekaligus dipercaya masyarakat sebagai ketua pengurus pertama yayasan tersebut.
Melalui madrasah, KH Abdullah Amiin ikut meletakkan fondasi pendidikan Islam yang lebih terstruktur di Desa Urek-Urek. Lembaga itu menjadi wadah pembelajaran agama bagi generasi muda, dengan harapan mereka tumbuh sebagai pribadi yang mampu mengaji, berakhlak mulia, dan memiliki pengetahuan.
Peran tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian seorang ulama tidak terbatas pada kegiatan ibadah dan dakwah. Pendidikan juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Menjadi Imam dan Pengayom Jamaah
Kehadiran KH Abdullah Amiin di tengah masyarakat Urek-Urek juga erat kaitannya dengan Masjid Jami’ Al-Musthofa. Ia dikenal sebagai tokoh agama yang dipercaya masyarakat untuk memimpin kegiatan keagamaan.
Sejak dekade 1970-an hingga pertengahan 1980-an, ia tercatat mengemban amanah sebagai ketua takmir Masjid Darul Hikmah, yang kini dikenal sebagai Masjid Jami’ Al-Musthofa.
Tanggung jawabnya tidak berhenti pada pengelolaan masjid. Ia juga menjadi imam salat berjamaah, menyampaikan ceramah keagamaan, dan membuka rumahnya bagi warga yang ingin berkonsultasi mengenai persoalan agama.
Peran tersebut menempatkan masjid sebagai salah satu pusat pengabdiannya. Di tempat itu, kegiatan ibadah berjalan beriringan dengan pembinaan keagamaan dan hubungan sosial masyarakat.
Bagi seorang ulama yang dekat dengan jamaahnya, tugas mengimami salat dan memberikan ceramah merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Melalui peran itu pula, KH Abdullah Amiin menjalankan pengabdiannya di tengah kehidupan warga.
Penggerak Nahdlatul Ulama di Urek-Urek
Selain berkiprah di lingkungan masjid dan madrasah, KH Abdullah Amiin dikenal sebagai penggerak Nahdlatul Ulama di Desa Urek-Urek. Ia mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting NU setempat sejak dekade 1970-an hingga dekade 1990-an.
Masa kepemimpinan yang berlangsung selama puluhan tahun itu menjadi bagian penting dari rekam jejak pengabdiannya. Ia turut merawat tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah, mempererat silaturahmi antarwarga, serta menggerakkan kegiatan sosial dan keagamaan di wilayah Gondanglegi.
Peran sebagai penggerak atau muharrik menunjukkan keterlibatannya dalam kehidupan organisasi. Pengabdian tersebut berjalan beriringan dengan aktivitasnya di masjid dan lembaga pendidikan.
Di tengah masyarakat, ketiga ruang itu—organisasi, pendidikan, dan masjid—menjadi bagian dari perjalanan KH Abdullah Amiin dalam menjalankan khidmah. Ia tidak hanya terlibat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga mengambil tanggung jawab dalam lembaga yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Warisan Pengabdian yang Terus Dikenang
KH Abdullah Amiin wafat pada 9 November 2001. Ia dimakamkan di halaman depan rumahnya, berhadapan dengan halaman Masjid Jami’ Al-Musthofa, tempat yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan pengabdiannya.
Kepergiannya mengakhiri perjalanan hidup seorang ulama yang selama bertahun-tahun berkiprah dalam pendidikan Islam, kepemimpinan masjid, dan organisasi Nahdlatul Ulama di Desa Urek-Urek.
Namun, rekam jejak pengabdiannya tetap tercatat dalam sejarah masyarakat setempat. Yayasan Madrasah Miftahul Ulum, Masjid Jami’ Al-Musthofa, serta kiprah keluarga dan masyarakat yang meneruskan kegiatan keagamaan menjadi bagian dari perjalanan yang ditinggalkannya.
Dari seorang santri yang menimba ilmu di PPAI Ketapang, KH Abdullah Amiin tumbuh menjadi tokoh agama dan penggerak organisasi di tengah masyarakat. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana ilmu yang diperoleh di pesantren dapat menjadi bekal untuk mengabdi melalui pendidikan, masjid, dan organisasi.
Jejak itulah yang membuat namanya tetap penting dalam ingatan masyarakat Urek-Urek. Bukan semata karena kedudukannya sebagai kiai, melainkan karena berbagai amanah yang pernah diembannya dalam kehidupan keagamaan dan sosial.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah KH Abdullah Amiin, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Lahul Fatihah.




