back to top
Kamis, Oktober 15, 2026

Pembimbing Haji, Tuntun Jamaah dengan Hati

NUMALANGID – Seperti diketahui, KBIHU Asy-Syafa’ah didirikan oleh KH Ahmad Hariri, dan para jamaah pun mengikuti bimbingan yang beliau prakarsai. Putra keempat KH Yahya Syabrowi itu dinilai tepat membidani kelompok bimbingan ibadah haji. Pasalnya, beliau pernah bertahun-tahun bermukim di kota suci sehingga seluk-beluk wilayah Makkah tidak asing baginya.

Menurut KH Mukhlis Yahya, KH Ahmad Hariri menetap di tanah haram sejak 1982 dan baru kembali ke Tanah Air pada 1999. Dengan demikian, beliau bermukim di wilayah yang juga dikenal dengan sebutan Bakkah itu selama kurang lebih 17 tahun.

Tanda-tanda bahwa KH Ahmad Hariri akan menetap lama di tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, konon, telah tersirat dalam sebuah peristiwa yang melibatkan KH Bukhori Ismail. Sebagaimana dikisahkan KH Mukhlis Yahya, suatu ketika, sebelum berangkat ke Makkah, Ahmad Hariri muda memijat KH Bukhori Ismail di kamar beliau. Di meja samping tempat tidur sang kiai terdapat piring berisi semangka yang telah diiris. Saat Ahmad Hariri sedang memijat, tiba-tiba KH Bukhori melemparkan buah itu ke tubuhnya hingga bajunya berlumur noda semangka.

Sambil terisak, Ahmad Hariri muda keluar dari kamar dan bertemu dengan KH Mujtaba Bukhori. “Kenapa menangis?” tanya putra bungsu KH Bukhori itu. Ahmad Hariri muda kemudian menceritakan kejadian yang baru dialaminya. “Mungkin kamu punya kesempatan bermukim lama di Makkah,” ujar pamannya.

Pengalaman bermukim di kota suci menjadi salah satu bekal yang membuat KH Ahmad Hariri dinilai layak membimbing jamaah dalam menjalankan rangkaian ibadah haji. Ibadah ini tidak hanya menuntut kekuatan fisik dan vitalitas jasmani, tetapi juga kesabaran dalam menghadapi beragam kondisi. Dalam situasi tersebut, jamaah kerap menghadapi kesulitan, terlebih bagi mereka yang belum berpengalaman dan masih awam dalam pengetahuan tentang tata cara ibadah haji.

Dalam konteks itulah, komentar KH Musthofa Siradj pada masa awal berdirinya KBIH ini menjadi relevan. “Orang-orang di Desa Ganjaran, apabila naik haji tidak ikut Kiai Ahmad Hariri ya sangat rugi.” Penilaian pengasuh PP Al-Falah Ganjaran tersebut, menurut penulis, tidak lepas dari kesabaran dan ketelitian KH Ahmad Hariri dalam memperhatikan detail pelaksanaan ibadah haji.

Keteladanan beliau tidak hanya tampak dalam ketelitian membimbing ritual, tetapi juga dalam kesungguhan menjaga kekhusyukan jamaah. Ketika menengadahkan tangan untuk berdoa, bibir beliau seolah kelu di antara untaian doa dan tangis. Suara seraknya kerap membuat jamaah dan para pengantar turut larut dalam suasana haru.

Beliau juga dikenal tegas dalam mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan tempat-tempat suci sebagai ajang berswafoto. Di Masjidil Haram, Raudhah di Masjid Nabawi, maupun di sekitar makam Nabi Muhammad SAW, beliau mengutamakan penghormatan dan kekhusyukan daripada keinginan mengambil gambar. Bahkan, menurut kesaksian sejumlah jamaah, sejak dari hotel tempat menginap, beliau telah berulang kali mengingatkan agar mereka tidak membawa telepon genggam ke Masjidil Haram.

Seorang jamaah, dengan mata berkaca-kaca, pernah bercerita tentang pengalaman yang membekas dalam ingatannya. Sebagaimana lazimnya, sebelum pelaksanaan ibadah haji, jamaah diajak berkunjung ke sejumlah tempat bersejarah. Mereka merasa senang karena memperoleh pengalaman baru sekaligus berkesempatan membeli oleh-oleh untuk keluarga di tanah Jawa.

Namun, ketika bus hampir tiba di kawasan Arafah, KH Ahmad Hariri tiba-tiba menyampaikan wejangan yang menyentuh hati. Beliau menyampaikannya sambil menangis tersedu-sedu. Suasana yang semula dipenuhi kegembiraan menjelang kesempatan berfoto di sekitar Jabal Rahmah itu pun berubah menjadi haru. Para jamaah ikut meneteskan air mata.

KH Ahmad Hariri Yahya dan Nyai Hj. Khodijah merupakan pasangan pembimbing yang meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah. Perpaduan keduanya membuat banyak jamaah mengenang perjalanan ibadah haji dengan penuh rasa syukur. Sepulang ke Tanah Air, tidak sedikit jamaah yang menyampaikan kesaksian serupa: “Masyaallah, Kiai Ahmad Hariri dan Nyai Khodijah, sungguh pembimbing yang sangat sabar.”

KH Ahmad Hariri dikenal sebagai pribadi yang khusyuk dan berhati lembut. Beliau senantiasa menuntun, menjaga, dan mengawasi pelaksanaan ibadah jamaah. Bahkan, menurut penuturan yang berkembang di kalangan jamaah, beliau juga memperhatikan keabsahan ritual yang dikerjakan masing-masing jamaah.

Sementara itu, Nyai Khodijah dikenal cekatan, tegas, sekaligus penyabar. Beliau senantiasa mendampingi jamaah, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan membutuhkan perhatian lebih. Kehadiran beliau membantu mengatasi berbagai kesulitan yang muncul selama perjalanan ibadah, termasuk persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi jamaah.

Jika KH Ahmad Hariri lebih banyak memperhatikan detail ritual ibadah, Nyai Khodijah berkonsentrasi menangani persoalan-persoalan yang muncul dalam hubungan ant jamaah. Keduanya saling melengkapi, menghadirkan harmoni yang mendukung kenyamanan jamaah dalam menjalankan ibadah haji.

Semasa hidup, keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kini, pada 2026, batu nisan menjadi penanda bahwa keduanya telah kembali bersanding. KBIHU Asy-Syafa’ah menjadi salah satu peninggalan yang mengingatkan kita pada ketabahan, keikhlasan, dan ketekunan mereka dalam mendampingi jamaah haji.

Kisah KH Ahmad Hariri dan Nyai Khodijah memperlihatkan bahwa tugas pembimbing haji tidak berhenti pada tuntunan tata cara ibadah. Kesabaran, ketelitian, ketegasan, dan kepedulian terhadap jamaah merupakan bagian penting dari pengabdian tersebut.

Membimbing haji berarti menuntun jamaah agar tidak hanya mampu menjalankan ritual, tetapi juga menjalaninya dengan kekhusyukan dan kesadaran.

Penulis: Muhammad Madarik, Staf Pengajar Universitas Al-Qolam Malang (UQM)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan