back to top
Minggu, September 20, 2026

Pagar Nusa Donomulyo Telusuri Sejarah, dari Latihan di Masjid hingga Kaderisasi Atlet

Donomulyo, NUMALANG — Pagar Nusa Kecamatan Donomulyo memiliki perjalanan panjang yang tumbuh dari tempat-tempat sederhana. Sebelum berkembang melalui sekolah dan berbagai tempat latihan, aktivitas pencak silat di Donomulyo telah berlangsung di mushala dan masjid.

Jejak perjalanan tersebut dibedah dalam kegiatan Persamaan Jurus Baku dan Bedah Sejarah Pagar Nusa Donomulyo yang digelar PAC Pagar Nusa Kecamatan Donomulyo, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan berlangsung di halaman Masjid Baitul Kharim, Panggungwaru, Tugurejo, Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum menyamakan teknik jurus, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah perjalanan Pagar Nusa Donomulyo kepada generasi saat ini.

Salah satu tokoh yang menceritakan perjalanan tersebut ialah Ustadz Noor Efendi, pengasuh Pondok Pesantren Karimurozaq Donomulyo, sesepuh Pagar Nusa sekaligus pengurus PC Pagar Nusa Kabupaten Malang.

Menurut cerita yang diterimanya dari para sesepuh, sebelum 2008 latihan pencak silat di Donomulyo sebenarnya sudah berlangsung. Namun, saat itu kegiatan belum terorganisasi secara rapi.

Latihan dilakukan di sejumlah mushala dan masjid sebagai bagian dari syiar. Materi yang diberikan tidak hanya pencak silat, tetapi juga latihan tenaga dalam dan pembinaan spiritual.

Perjalanan tersebut mulai memasuki fase baru pada 2008 ketika Noor Efendi masuk lingkungan pendidikan.

“Pada 2008 saya mulai masuk lingkungan pendidikan. Awalnya saya hanya mengajar ekstrakurikuler. Kemudian karena ada dua guru IPA yang cuti melahirkan, saya diminta membantu mengajar karena memang latar belakang saya IPA,” tuturnya.

Dari lingkungan pendidikan, pembinaan pencak silat kemudian berkembang. Dalam sebuah Dies Natalis UIN, Noor Efendi mengirim delapan atlet. Para atlet menjalani latihan intensif empat hingga lima kali dalam sepekan. Latihan bahkan sesekali dilakukan di kawasan pantai.

Dari delapan atlet tersebut, dua di antaranya berhasil menjadi juara.

Pembinaan kemudian berlanjut. Pada 2010–2011, Noor Efendi mengajar di MAN Sumberoto. Selanjutnya pada 2012, sejumlah atlet dikirim ke Malang dan SMK 12 Singosari.

Dari proses tersebut, para atlet mulai diarahkan tidak hanya untuk mengikuti pertandingan, tetapi juga menjadi pelatih.

“Dari situ anak-anak mulai saya tata untuk ikut melatih di lembaga-lembaga sekitar Donomulyo. Ada sekitar sembilan lokasi,” ujarnya.

Menurut Noor Efendi, pembinaan atlet tidak berhenti pada pencapaian prestasi di gelanggang. Para atlet juga dipersiapkan agar mampu melatih dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

“Anak-anak ini tidak hanya saya siapkan untuk bertanding, tetapi juga bagaimana nanti bisa melatih dan meneruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Pola pembinaan tersebut kembali dilakukan pada 2017 ketika Noor Efendi melatih di SMK Nurul Huda Bantur. Setelah sekitar enam bulan pembinaan, sejumlah atlet dikirim mengikuti O2SN. Tiga di antaranya meraih kemenangan di kategori seni.

Memasuki 2020, PAC Pagar Nusa Donomulyo mulai terbentuk. Aktivitas para atlet kemudian semakin terhubung melalui rayon dan sekolah masing-masing.

Setahun berikutnya, Noor Efendi mendapat informasi mengenai kegiatan Gasmi di Tugurejo. Ia kemudian berusaha merangkul dan membina organisasi tersebut.

“Saya merasa ada amanah untuk ikut menjaga dan membina organisasi tersebut,” tuturnya.

Ketua PAC Pagar Nusa Donomulyo Muhammad Hanif Zukhrofi mengatakan perkembangan Pagar Nusa di Kecamatan Donomulyo kini mulai terlihat, salah satunya dari bertambahnya tempat latihan dan santri yang berprestasi.

“Alhamdulillah, perkembangan Pagar Nusa di Kecamatan Donomulyo semakin terlihat progresnya. Terbukti dengan semakin banyak tempat latihan dan semakin banyak santri Pagar Nusa yang berprestasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MWC NU Kecamatan Donomulyo KH Farhanudin menyampaikan harapannya agar Pagar Nusa terus hadir dalam berbagai kegiatan NU.

“Saya bangga dengan adanya Pagar Nusa di Donomulyo ini. Kami harap setiap kegiatan NU nanti Pagar Nusa selalu hadir memeriahkan acara tersebut, karena Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan bangsa,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rais Syuriyah NU Donomulyo Gus Muhyidin dan Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam.

Saiful Anam menekankan pentingnya barokah dalam kehidupan sebagai bagian dari orientasi khidmah dan perjalanan kader.

Sementara Gus Muhyidin mengingatkan bahwa pembinaan Pagar Nusa tidak cukup hanya pada penguasaan teknik. Kader juga perlu memiliki kemampuan jurus yang baik sekaligus kokoh dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Bagi Pagar Nusa Donomulyo, perjalanan tersebut menjadi bagian dari sejarah yang terus diwariskan. Dari mushala dan masjid, berkembang ke sekolah dan tempat-tempat latihan, hingga melahirkan atlet yang kemudian diarahkan menjadi pelatih.

Kontributor: Rofi

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan