Poncokusumo, NUMALANGID — Sekitar 3.000 warga Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, mengikuti Baiturrahim Islamic Carnival pada Sabtu (12/9/2026) malam. Kegiatan yang digelar Pengurus Masjid Baiturrahim Poncokusumo tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus penyampaian pesan keislaman melalui kreativitas masyarakat.
Karnaval dimulai pukul 19.00 WIB dengan titik start di Dusun Trigu dan finis di depan Masjid Baiturrahim. Peserta berasal dari TPQ, Madrasah Diniyah (Madin), lembaga pendidikan, wali santri, serta masyarakat dari tujuh blok di Desa Poncokusumo.
Kegiatan yang digelar dua tahun sekali pada bulan Maulid tersebut memasuki penyelenggaraan ketiga. Tahun ini, panitia mengangkat tema “Akulturasi Akhlak Rasulullah di Era Digital: Bijak Berteknologi, Santun Berinteraksi.”
Takmir Masjid Baiturrahim Poncokusumo, Ustadz Angga Kusuma Putra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus media untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui kreativitas masyarakat.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Masyarakat bisa bersilaturahmi sekaligus menyampaikan pesan keislaman melalui kreativitas,” ujarnya.
Tokoh masyarakat Poncokusumo, Khoirul Anam, yang akrab disapa Embah, mengatakan tingginya antusiasme warga menunjukkan adanya kerinduan terhadap karnaval yang memiliki substansi.
“Masyarakat kangen dengan karnaval yang mengusung nilai-nilai dan kreativitas dari daerah masing-masing. Tidak harus keras, tetapi pesan moral, substansi, dan nilai yang ingin disampaikan harus jelas,” katanya.

Menurutnya, karnaval semestinya tidak berhenti sebagai tontonan. Kreativitas masyarakat dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Tema tentang akhlak Rasulullah di era digital dinilai relevan dengan perkembangan teknologi. Kemudahan berkomunikasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kesantunan. Media sosial menjadi ruang ekspresi yang luas sehingga etika dan tanggung jawab perlu tetap diperhatikan.
Melalui Baiturrahim Islamic Carnival, nilai-nilai Islam disampaikan melalui kreativitas masyarakat, sementara kearifan lokal tetap menjadi bagian dari identitas warga Poncokusumo.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang kebersamaan bagi warga dari berbagai unsur, mulai dari peserta TPQ, Madin, lembaga pendidikan, wali santri hingga masyarakat dari tujuh blok di Desa Poncokusumo.
Antusiasme warga dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa karnaval tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana silaturahmi, ekspresi kreativitas, serta penyampaian pesan moral dan keislaman di tengah perkembangan kehidupan digital.
Kontributor: Saiful Anam




