back to top
Senin, Agustus 17, 2026

Dari NTT hingga Aceh, Bali dan Papua: Pesan Keras KH Marzuqi Mustamar tentang Masa Depan NKRI

NUMALANG — Pesan tentang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi salah satu penekanan utama dalam amanat kebangsaan KH Marzuqi Mustamar pada upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek.

Di hadapan para santri, KH Marzuqi menekankan bahwa negara yang berdaulat, stabil secara politik dan keamanan, memiliki kepastian hukum serta aparat yang adil merupakan fondasi penting bagi kehidupan masyarakat.

Menurut dia, keberadaan negara yang kuat bukan semata persoalan politik. Kedaulatan negara berkaitan langsung dengan kehidupan rakyat, mulai dari ekonomi, pendidikan, keamanan hingga kebebasan menjalankan ibadah.

Ia kemudian mengajak para santri belajar dari konflik yang terjadi di sejumlah negara Timur Tengah. Palestina dan Yaman disebut sebagai contoh bagaimana lemahnya stabilitas negara dapat membuat masyarakat sipil menjadi korban.

“Merah Putih Sedang Menangis”

Dalam bagian lain amanatnya, KH Marzuqi mengingatkan bahwa persoalan kebangsaan tidak hanya berkaitan dengan ancaman konflik, tetapi juga penderitaan masyarakat akibat bencana.

“Merah putih sedang menangis,” kata KH Marzuqi dalam amanatnya.

Ia menyebut gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), tsunami di sebagian wilayah Sulawesi, serta banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh.

Khusus Aceh, ia menyoroti masih adanya daerah yang menurutnya belum tertangani dengan baik serta persoalan kekurangan tenaga dokter.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan, menurutnya, harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Kritik Boleh, Provokasi Jangan

KH Marzuqi juga memberikan pesan kepada para santri mengenai cara menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Ia tidak melarang kritik. Sebaliknya, ia mendorong kritik dilakukan secara konstruktif dengan menunjukkan kelemahan, analisis, dampak, sekaligus memberikan masukan.

Yang ia ingatkan adalah kritik yang berubah menjadi penghinaan, provokasi, atau upaya memperkeruh keadaan.

“Tidak boleh main medsos presiden diolok-olok, menteri diolok-olok, ikut memperkeruh suasana, memanaskan suasana dan tidak memberi solusi,” demikian pesan yang disampaikannya.

Bagi KH Marzuqi, perbedaan pandangan tidak semestinya berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan nasional.

Belajar dari Suriah

Untuk menggambarkan bahaya konflik internal, KH Marzuqi mengambil contoh Suriah.

Ia mengaitkan konflik tersebut dengan munculnya narasi permusuhan dan saling mengkafirkan di media sosial yang kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata.

Menurutnya, ketika konflik berubah menjadi perang saudara, korban terbesar adalah masyarakat.

Pesan yang ingin ditekankan sederhana: kondisi negara yang belum sempurna masih lebih memungkinkan untuk diperbaiki dibandingkan negara yang kehilangan stabilitas dan terjebak dalam perang saudara.

Aceh, Papua dan Bali dalam Peringatan tentang Disintegrasi

Salah satu bagian paling kuat dalam amanat tersebut muncul ketika KH Marzuqi menggambarkan kemungkinan terburuk apabila negara kehilangan persatuan.

Ia menyebut Aceh, Papua dan Bali dalam konteks peringatan mengenai kemungkinan wilayah-wilayah tersebut terlepas apabila negara mengalami keruntuhan dan perang saudara.

Pernyataan itu bukan disampaikan sebagai prediksi bahwa wilayah-wilayah tersebut pasti akan merdeka, melainkan sebagai gambaran ekstrem mengenai risiko disintegrasi yang ingin ia ingatkan kepada para santri.

Dalam situasi seperti itu, menurutnya, persoalan bukan lagi sekadar perdebatan politik. Kehidupan sehari-hari masyarakat—makan, bekerja, belajar, beribadah, hingga keselamatan generasi berikutnya dapat ikut terancam.

Karena itu, ia menyerukan agar kedaulatan negara dijaga.

“Dengan adanya negara tetap berdaulat, hukum berjalan, aparat tegak, keamanan dijamin, maka aktivitas ekonomi berjalan dengan baik, pendidikan berjalan dengan baik, administrasi kantor berjalan dengan baik, rakyat petani bekerja dengan baik, dan umat beribadah dengan khusyuk.”

Dua Bendera dan Pesan NKRI Harga Mati

KH Marzuqi kemudian menjelaskan simbol dua bendera yang berada di lingkungan Gasek.

Menurutnya, keberadaan bendera Merah Putih dan bendera NU menjadi pesan bahwa Gasek ingin menegaskan komitmennya kepada NU sekaligus NKRI.

Ia menyampaikan bahwa komitmen tersebut harus terus dijaga, termasuk oleh generasi setelah para pengasuh dan tokoh pesantren tidak lagi berada di dunia.

Santri Tidak Cukup Hanya Saleh, Harus Menguasai Teknologi

Amanat KH Marzuqi tidak berhenti pada isu nasionalisme.
Ia juga menyampaikan pesan tentang masa depan santri.

Para santri didorong untuk belajar serius, menguasai sains dan teknologi, serta berani menembus pendidikan internasional.

Ia menyebut Australia, Prancis, Inggris dan Kanada sebagai contoh negara tujuan pendidikan yang diharapkan dapat ditembus oleh generasi SMA Gasek.

Namun ada syarat yang ia tekankan: ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama iman, akhlak, identitas kesantrian dan komitmen kebangsaan.

“Supaya kita mandiri, bermartabat, harus ditegakkan dengan takwa, dengan amal saleh, dengan akhlakul karimah, dan kuasai teknologi, kuasai ilmu pengetahuan.”

Pesan itu menjadi penutup penting dari amanat kebangsaan tersebut.

Bagi KH Marzuqi, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat negara menjaga kedaulatannya, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang akan mengisinya.

Santri, dalam pandangan itu, dituntut menjadi generasi yang religius, berakhlak, berilmu, menguasai teknologi, dan mampu mengambil peran dalam kehidupan bangsa.

Dari pesan tentang bencana di NTT dan Aceh, peringatan tentang potensi disintegrasi hingga penyebutan Bali dan Papua, benang merah amanat tersebut adalah satu: “Persatuan dan kedaulatan negara harus dijaga, sementara generasi muda harus dipersiapkan agar mampu membawa Indonesia maju.”

Penulis : Tim Ngaosabah

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan