numalang.id – Ada satu kesalahan kecil yang sering luput disadari banyak orang saat mencari pasangan hidup: menaruh agama di urutan terakhir, bukan pertama. Bukan karena tidak percaya pada ajaran Nabi, tapi karena dalam praktiknya, pertimbangan lainnya adalah penampilan, pekerjaan, status sosial, bahkan validasi orang sekitar selalu didahulukan lebih dulu, sementara akhlak dan keimanan baru dilirik belakangan, kalau sempat.
Padahal Rasulullah ï·º sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau menyebutkan bahwa perempuan biasa dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Lalu beliau berpesan agar mendahulukan yang beragama, sebab jika tidak, seseorang bisa merugi. Hadis ini bukan berarti melarang mempertimbangkan tiga hal lainnya. Yang ditegaskan adalah urutannya; agama dan akhlak semestinya jadi pijakan awal, bukan pertimbangan tambahan di akhir.
Ada kisah masyhur yang sering diceritakan di kalangan pesantren, tentang Hasan al-Bashri. Suatu hari seorang lelaki datang mengadu, bingung hendak menikahkan putrinya dengan siapa. Hasan al-Bashri menjawab singkat: nikahkan ia dengan lelaki yang bertakwa. Sebab jika lelaki itu mencintainya, ia akan memuliakannya. Dan jika kelak rasa cinta itu pudar, ia tetap tidak akan berbuat zalim. Jawaban ini sederhana, tapi menunjukkan cara pandang ulama salaf soal apa yang sebenarnya menjamin keselamatan rumah tangga bukan harta, bukan rupa, tapi ketakwaan.
Persoalannya, di zaman sekarang standar itu justru sering terbalik. Media sosial membuat orang lebih mudah menilai calon pasangan dari apa yang tampak: potret pekerjaan, gaya hidup, penampilan fisik. Sementara akhlak dan kualitas agama seseorang tidak bisa difoto, tidak bisa dipamerkan lewat unggahan. Akibatnya, tanpa sadar banyak yang menyusun kriteria jodoh yang justru menomorduakan hal yang paling utama.
Padahal akhlak dan agama bukan sekadar pelengkap kriteria. Ia fondasi. Harta bisa habis, kecantikan bisa pudar, status sosial bisa berubah tapi orang yang berpegang teguh pada agamanya punya rem, punya rasa takut kepada Allah, yang menjaganya tetap berbuat baik meski keadaan berubah. Rumah tangga yang dibangun di atas fondasi itu punya kemungkinan lebih besar untuk bertahan, bukan karena bebas dari masalah, tapi karena punya pijakan yang sama saat masalah itu datang.




