back to top
Sabtu, Agustus 1, 2026

Sebelum Lisanmu Menilai, Ingatlah Betapa Sering Allah Menutupi Aibmu

NUMALANGID, Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, setiap orang kini seolah memiliki mimbar untuk berbicara. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, seseorang dapat menyebarkan informasi, memberi komentar, bahkan menjatuhkan vonis kepada orang lain. Fenomena ini menghadirkan ruang publik yang semakin bising oleh cibiran, prasangka, dan penghakiman. Ironisnya, budaya membuka aib sering kali dianggap sebagai bentuk kepedulian, padahal tidak jarang justru menjadi pintu lahirnya fitnah dan permusuhan.

Di sinilah ajaran Islam menunjukkan kemuliaannya. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pemburu kesalahan, tetapi penjaga kehormatan sesama manusia. Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah bukan dengan budaya saling mempermalukan, melainkan lewat semangat saling menasihati, menutupi kekurangan, dan mendoakan.

Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Sejumlah ahli tafsir, termasuk Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa larangan tajassus (mencari-cari aib) dalam ayat ini bertujuan menjaga kehormatan seorang mukmin, sebab kehormatan seorang Muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.

Sayangnya, realitas hari ini justru sebaliknya. Kesalahan orang lain menjadi konsumsi publik, sementara introspeksi diri semakin langka. Kita begitu cepat mengomentari kehidupan orang lain, tetapi begitu lambat mengevaluasi diri sendiri. Seolah-olah dosa yang dilakukan orang lain tampak sangat besar, sedangkan dosa yang kita sembunyikan terasa kecil dan biasa.

Padahal, apabila Allah membuka seluruh aib kita kepada manusia, mungkin tidak ada lagi keberanian untuk berdiri tegak di hadapan mereka. Jabatan, kehormatan, bahkan citra kesalehan yang selama ini kita bangun bisa runtuh dalam sekejap. Namun, Allah Yang Maha Sattar (Maha Menutupi Aib) masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat tanpa dipermalukan di hadapan manusia.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“…Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat…” (HR. Muslim)

Hadis ini mengandung pesan timbal balik yang sangat indah. Siapa yang menjaga kehormatan orang lain, Allah akan menjaga kehormatannya. Sebaliknya, orang yang gemar membuka aib saudaranya hendaknya khawatir jika suatu hari Allah membuka aibnya di hadapan manusia.

Dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, Imam Abu Hamid al-Ghazali menempatkan ghibah sebagai salah satu penyakit hati yang membinasakan, sejajar dengan kesombongan, hasad, dan riya. Pangkalnya bisa berupa perasaan lebih mulia dari orang lain atau keinginan mencari pengakuan dengan menjatuhkan sesama. Seseorang yang sibuk membicarakan dosa orang lain sering kali lupa terhadap dosa dirinya sendiri.

Pesan serupa ditegaskan oleh Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, yang memuat bab khusus tentang haramnya ghibah dan namimah. Menjaga lisan bukan sekadar kesalehan pribadi, tetapi fondasi terciptanya kedamaian sosial.

Nilai-nilai inilah yang selama ini hidup dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah dan diwariskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama. Dakwah para kiai NU sejak dahulu tidak dibangun di atas budaya mempermalukan, tetapi merangkul. Mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk berubah. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, melalui karya adab keilmuannya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, menekankan bahwa ilmu harus melahirkan tawaduk dan kasih sayang, bukan rasa paling benar lalu mudah mencela.

Dalam tradisi pesantren juga dikenal hikmah ulama salaf yang dinukil oleh Imam Ibnu Hibban:

مَنِ اشْتَغَلَ بِعُيُوْبِ النَّاسِ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِهِ عَمِيَ قَلْبُهُ

“Barang siapa sibuk dengan aib orang lain hingga lalai dari aib dirinya sendiri, maka hatinya akan menjadi buta.”

Fenomena saling membuka aib di media sosial perlu menjadi perhatian bersama. Tidak semua kebenaran layak diumbar ke ruang publik. Islam mengenal konsep satrul ‘uyub, tabayyun, islah, dan nasihah sirriyah. Budaya “viral” sering kali membuat manusia kehilangan empati, di mana penderitaan orang lain dijadikan tontonan. Padahal, boleh jadi orang yang sedang dicaci justru sedang berada di jalan taubat yang lebih dicintai Allah daripada mereka yang sibuk mencacinya.

Sebelum lisan berbicara atau jari menuliskan komentar, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ucapan ini mendatangkan maslahat atau justru memperpanjang permusuhan? Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas dari kesalahan, tetapi masyarakat yang memiliki adab ketika menghadapi kesalahan.

Pada akhirnya, kita semua adalah hamba yang sama-sama membutuhkan ampunan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan rahmat-Nya. Kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa banyak ia menemukan kesalahan orang lain, tetapi dari seberapa sungguh ia memperbaiki dirinya sendiri.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga kehormatan sesama, menutup aib saudaranya, memperbanyak muhasabah, dan dianugerahi husnul khatimah. Sebab, pada hari ketika seluruh rahasia dibuka di hadapan-Nya, tidak ada yang paling kita harapkan selain rahmat Allah yang telah berulang kali menutupi aib-aib kita di dunia. Aamiin.

Catatan Referensi:

  • QS. Al-Hujurat (49): 12 — Kementerian Agama RI.

  • Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah (Hadits Arbain Nawawi ke-36).

  • Hikmah “man isytaghala…” dinukil dari Ibnu Hibban dalam Raudhah al-‘Uqala.

  • Rujukan pemikiran Imam al-Ghazali (Ihya’ Ulum al-Din), Imam an-Nawawi (Riyadhus Shalihin), dan KH. Hasyim Asy’ari (Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim).

Penulis: Syahrullah Mahmud (Wakil Ketua PC Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kabupaten Malang)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan