back to top
Minggu, Oktober 4, 2026

Belung Culture Carnival, Warga Rawat Tradisi dan Lintas Generasi Kreativitas

Poncokusumo, NUMALANG — Jalan Raya Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi ruang perjumpaan warga dalam Belung Culture Carnival 2026, Sabtu (3/10/2026). Sekitar 35 kelompok masyarakat mengikuti kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Belung bersama masyarakat untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Mengusung tema “Menjaga Tradisi, Merayakan Kreasi”, karnaval dimulai pukul 10.00 WIB. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk lembaga pendidikan dari jenjang TK, TPQ, MI, SD, MTs, hingga MA di Desa Belung.

Keterlibatan lembaga pendidikan membuat karnaval tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat lintas usia. Anak-anak dan pelajar turut mengambil bagian dalam ekspresi budaya bersama masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Poncokusumo Didik Agus Mulyono, S.P., M.P.A., jajaran Muspika Kecamatan Poncokusumo, tokoh masyarakat, serta warga Desa Belung.

Plh. Kepala Desa Belung Sulhan Hadi Wijaya, S.E., mengatakan Belung Culture Carnival menjadi bagian dari upaya merawat identitas sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

“Hari ini kita tidak sekadar menyelenggarakan karnaval. Kita sedang merayakan jati diri, persatuan, dan kreativitas warga Belung dalam momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81,” ujar Sulhan.

Ia menjelaskan, tema “Menjaga Tradisi, Merayakan Kreasi” menempatkan tradisi sebagai akar identitas masyarakat sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas.

“Tradisi adalah akar yang menjaga identitas kita, sementara kreasi adalah ruang untuk tumbuh dan berkembang,” katanya.

Menurut Sulhan, kegiatan tersebut juga diharapkan memberi dampak bagi masyarakat melalui aktivitas ekonomi kreatif yang melibatkan UMKM, penjahit, perias, seniman, dan pelaku usaha lokal.

Ketua BPD Desa Belung Imam Suyuti mengatakan unsur tradisi dan budaya menjadi bagian yang menonjol dalam karnaval tersebut.

“Ini betul-betul karnaval, karena memunculkan unsur tradisi dan budaya masyarakat,” ujarnya.

Keterlibatan lembaga pendidikan dari berbagai jenjang menunjukkan adanya ruang perjumpaan antargenerasi dalam kegiatan tersebut. Tradisi diperkenalkan kepada generasi muda melalui bentuk yang lebih kreatif dan dekat dengan kehidupan mereka.

Namun, kemeriahan karnaval belum dengan sendirinya memastikan keberlanjutan tradisi. Pelestarian membutuhkan proses yang lebih panjang, terutama melalui pewarisan pengetahuan, praktik budaya, serta keterlibatan generasi muda secara berkelanjutan.

Belung Culture Carnival dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kegiatan kebudayaan di tingkat desa. Keberlanjutannya bergantung pada bagaimana semangat yang muncul dalam perayaan tersebut dapat diteruskan melalui kegiatan budaya dalam kehidupan masyarakat.

Menjaga tradisi bukan berarti membekukan masa lalu. Tradisi dapat tetap hidup ketika generasi baru mengenalnya, memahaminya, dan memberinya bentuk baru tanpa kehilangan akar budayanya.

Kontributor: Saiful Anam

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan