NUMALANGID, Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran yang semakin penting. Sekolah tidak cukup hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Di sinilah mutu Pendidikan Agama Islam menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Dalam praktiknya, pembicaraan mengenai mutu pendidikan sering kali identik dengan kelengkapan administrasi, dokumen pembelajaran, maupun capaian nilai peserta didik. Padahal, sebagai guru PAI saya meyakini bahwa ukuran keberhasilan pendidikan agama tidak berhenti pada angka di rapor. Keberhasilan yang sesungguhnya terlihat ketika peserta didik terbiasa berkata jujur, menghormati guru dan orang tua, disiplin menjalankan ibadah, serta mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman mengajar menunjukkan bahwa membentuk karakter jauh lebih sulit dibandingkan menyampaikan materi pelajaran. Menjelaskan tata cara salat dapat dilakukan dalam satu pertemuan, tetapi menumbuhkan kesadaran untuk menjaga salat membutuhkan proses yang panjang, keteladanan, dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh sebab itu, mutu Pendidikan Agama Islam tidak dapat dibangun melalui pembelajaran di kelas saja, melainkan harus menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran dosen mata kuliah Penjaminan Mutu Pendidikan Agama Islam, Dr. Sutrisno, M.Pd., yang menekankan bahwa mutu pendidikan bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Mutu lahir dari proses perencanaan yang baik, pelaksanaan yang konsisten, evaluasi yang objektif, dan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Dengan kata lain, penjaminan mutu bukan sekadar memenuhi tuntutan administrasi, melainkan membangun sistem yang mampu menghasilkan perubahan nyata dalam kualitas pembelajaran dan karakter peserta didik.
Pemikiran tersebut sangat relevan dengan kondisi di sekolah saat ini. Tidak sedikit guru yang menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan berbagai dokumen administrasi, sementara kesempatan melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran justru semakin terbatas. Padahal, pembelajaran agama membutuhkan kreativitas, pendekatan yang humanis, serta kemampuan guru menghadirkan pengalaman belajar yang menyentuh hati peserta didik.
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar guru PAI saat ini adalah bagaimana menghubungkan materi pelajaran dengan realitas kehidupan anak-anak. Ketika peserta didik akrab dengan media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai informasi yang datang tanpa batas, maka pembelajaran agama tidak cukup disampaikan melalui metode ceramah. Guru perlu mengajak peserta didik berdialog, berpikir kritis, sekaligus memberikan teladan dalam menggunakan teknologi secara bijaksana sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Upaya menjaga mutu Pendidikan Agama Islam juga tidak bisa dibebankan kepada guru PAI semata. Kepala sekolah harus mampu menciptakan budaya sekolah yang religius, guru mata pelajaran lain ikut menguatkan pendidikan karakter, sementara orang tua melanjutkan pembiasaan tersebut di rumah. Ketika semua unsur berjalan searah, peserta didik akan memperoleh pengalaman pendidikan yang utuh, bukan sekadar menerima teori di ruang kelas.
Program-program seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, infak, bakti sosial, maupun pembiasaan mengucapkan salam merupakan langkah yang baik. Namun, kegiatan tersebut perlu dievaluasi secara berkala agar tidak berhenti sebagai rutinitas. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kegiatan tersebut benar-benar membentuk kebiasaan positif dalam diri peserta didik.
Pada akhirnya, mutu Pendidikan Agama Islam tidak diukur dari seberapa lengkap perangkat pembelajaran yang tersimpan di lemari sekolah ataupun banyaknya laporan yang berhasil disusun. Mutu yang sesungguhnya tampak ketika nilai-nilai agama menjadi karakter yang melekat dalam diri peserta didik. Jika sekolah mampu melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, santun, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, maka di situlah tujuan Pendidikan Agama Islam benar-benar tercapai.
Sudah saatnya penjaminan mutu Pendidikan Agama Islam dipahami sebagai gerakan bersama untuk membangun budaya sekolah yang lebih bermakna. Administrasi tetap penting sebagai bagian dari tata kelola, tetapi ia tidak boleh mengalahkan tujuan utama pendidikan, yaitu membentuk manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. (*)
Penulis: M. Kasan Hidayat, S.Pd.I — Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SDN 2 Plandi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Editor: Syaifudin Zuhri




