back to top
Sabtu, Juni 27, 2026

Muslimat NU Belung Istiqamah Santuni Anak Yatim dan Dhuafa, Tradisi Kepedulian Sosial Sejak 1978

NUMALANGID – Pimpinan Ranting (PR) Muslimat NU Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kembali menggelar santunan bagi anak yatim dan dhuafa dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan momentum 10 Muharam, Kamis (25/6/2026) malam.

Kegiatan bertajuk “Merajut Kepedulian, Menebar Kebaikan dalam Menggapai Ridha Allah” tersebut berlangsung di Pendopo Balai Desa Belung mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai. Ratusan jamaah Muslimat NU memadati lokasi kegiatan bersama jajaran pengurus NU, badan otonom (Banom), pemerintah desa, serta tokoh masyarakat setempat.

Ketua PR Muslimat NU Desa Belung, Dra. Hj. Raudhatul Jannah, mengatakan santunan tahun ini diberikan kepada 58 anak yatim dan 260 dhuafa. Dana kegiatan berasal dari para aghniya, warga Nahdlatul Ulama, dan masyarakat Desa Belung yang secara gotong royong mendukung terlaksananya kegiatan tersebut.

“Kegiatan santunan ini dilandasi semangat Tahun Baru Islam dan keutamaan 10 Muharam sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial. Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.

Menurutnya, santunan tidak semata dimaknai sebagai penyaluran bantuan material, melainkan ikhtiar kolektif untuk merawat kemanusiaan, memperkuat solidaritas sosial, serta menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.

Ia berharap ke depan semakin banyak masyarakat yang diberi kelapangan rezeki untuk berbagi sehingga semakin sedikit warga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

“Kami berharap seluruh panitia senantiasa diberikan kekuatan lahir dan batin, ghirah perjuangan yang kuat, serta keikhlasan dalam mengabdi demi meraih ridha Allah SWT dan keberkahan para muassis Nahdlatul Ulama. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi Desa Belung menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, mantan Ketua PR Muslimat NU Desa Belung periode 1990–2014, Hj. Umi Zahriyah, mengisahkan bahwa tradisi santunan anak yatim telah berlangsung sejak sekitar tahun 1978.

Menurutnya, kegiatan tersebut dirintis pada masa kepemimpinan almarhumah Hj. Rodhiyah, kemudian dilanjutkan oleh Hj. Maryam, Hj. Umi Zahriyah, Hj. Lilik Roihana, hingga kini diteruskan oleh Dra. Hj. Raudhatul Jannah.

“Istiqamahnya kegiatan ini menunjukkan bahwa Muslimat NU tidak hanya mewariskan sebuah program sosial, tetapi juga mewariskan nilai pengabdian, kepedulian, dan tanggung jawab sosial kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, penceramah Dr. Agus Ichwan Mahmudi menyampaikan hikmah mendalam tentang keutamaan menyantuni anak yatim dalam perspektif Islam. Menurutnya, perhatian kepada anak yatim bukan hanya berbentuk bantuan materi, tetapi juga kasih sayang, penghormatan terhadap martabat mereka, dan pendampingan agar tumbuh menjadi generasi yang berilmu serta berakhlak mulia.

“Dalam tradisi Islam, mengusap kepala anak yatim bukan sekadar simbol kasih sayang, tetapi manifestasi kehadiran kemanusiaan yang mampu menghadirkan harapan dan menguatkan masa depan mereka,” tuturnya.

Rois Syuriah PRNU Belung, Ustadz Kasiali, menambahkan bahwa momentum 10 Muharam hendaknya menjadi sarana membangkitkan optimisme sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Semoga dengan keberkahan 10 Muharam, kaum dhuafa mendapatkan jalan kehidupan yang lebih baik dan anak-anak yatim mampu mengangkat derajatnya melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu. Sebab ilmu pengetahuan merupakan jalan utama untuk memutus rantai keterbatasan dan mewujudkan kemuliaan hidup,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Belung Erdie Fuadi, H. Mashudi, Slamet Suyono, Ustadz Abdul Muntolib, Hj. Lilik Roihana, Mahsusotur Rohmania selaku Ketua PR Fatayat NU Belung, Ustadz Imron Afandi selaku pengurus PRNU Belung, serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya.

Keberhasilan penyelenggaraan santunan ini menjadi cerminan kuatnya sinergi antara jajaran PRNU Belung, Muslimat NU, Fatayat NU, badan otonom NU lainnya, pemerintah desa, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi modal sosial penting dalam merawat tradisi kepedulian yang telah bertahan hampir setengah abad dan terus memberi manfaat bagi warga Desa Belung.

Kontributor: Saiful Anam

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan