back to top
Kamis, Maret 12, 2026

Ikbar Zakariya dari Kalipare Menyemai Literasi di Ruang Kelas dan Ruang Redaksi

Kalipare, NUMalang.id — Bagi Ikbar Zakariya, ruang kelas dan ruang redaksi bukanlah dua dunia yang terpisah. Dari keduanya, ia merawat satu keyakinan yang sama: ilmu harus disampaikan dan gagasan harus dibagikan. Mengajar baginya adalah cara menanamkan nilai kepada generasi muda, sementara menulis menjadi jalan untuk menyebarkan pemikiran kepada masyarakat yang lebih luas.

Ikbar Zakariya, lahir di Malang dan tumbuh di lingkungan masyarakat religius di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Ia dibesarkan dalam suasana keluarga sederhana yang menanamkan nilai kebersamaan, kerja keras, serta pentingnya adab sebelum ilmu. Lingkungan tersebut perlahan membentuk pandangannya tentang kehidupanbahwa ilmu tidak hanya diukur dari kecerdasan, tetapi juga dari karakter dan tanggung jawab sosial.

Sejak kecil, Ikbar terbiasa melihat bagaimana pendidikan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Dari para guru di sekolah, ia belajar bahwa seorang pendidik bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga memberi teladan. Pengalaman itu menumbuhkan kesadaran dalam dirinya bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk masa depan generasi muda.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari TK Muslimat NU Kalipare, kemudian dilanjutkan di SDN 01 Kalipare. Pada masa sekolah dasar, ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah, termasuk olahraga sepak bola yang sempat mengantarkannya meraih juara tingkat kabupaten. Bagi Ikbar kecil, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk mengenal kerja sama, disiplin, dan semangat berusaha.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi di MTs Ma’arif NU Sutojayan dan kemudian di MA Ma’arif NU Kota Blitar dengan jurusan keagamaan. Masa sekolah menengah menjadi fase penting yang menumbuhkan ketertarikannya terhadap dunia literasi, organisasi, serta kegiatan kepemudaan. Ia mulai aktif mengikuti diskusi, kegiatan sosial, serta berbagai aktivitas yang membentuk kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Ketertarikan tersebut semakin berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Malang pada program studi Pendidikan Agama Islam. Masa kuliah menjadi periode yang memperkaya pengalaman intelektual sekaligus sosial. Ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, kegiatan jurnalistik, serta penulisan karya fiksi maupun nonfiksi dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

Dari sinilah dunia tulis-menulis mulai menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Bagi Ikbar, menulis bukan sekadar kegiatan literasi, melainkan ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus merekam realitas sosial yang terjadi di sekitarnya.

Perjalanan jurnalistiknya semakin berkembang ketika ia bergabung dengan Gasek Multimedia di Kota Malang. Di komunitas media pondok tersebut, ia dipercaya menjadi Kepala Divisi Jurnalistik sekaligus Pemimpin Redaksi website ponpesgasek.id. Peran itu memberinya pengalaman dalam mengelola media digital, merencanakan konten, serta membangun kerja sama dengan berbagai komunitas media di lingkungan pesantren dan organisasi kepemudaan.

Selain aktif di dunia media, Ikbar juga terlibat dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Ia pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua I Remaja Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA), serta mengemban amanah di bidang jurnalistik dalam struktur Humas kampus.

Di lingkungan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama, Ikbar juga pernah dipercaya memimpin PAC IPNU Kalipare sebagai ketua pada periode 2022–2024. Dalam kepemimpinannya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan kaderisasi, penguatan organisasi, serta pengembangan literasi di kalangan generasi muda. Baginya, organisasi pelajar bukan sekadar ruang aktivitas, tetapi juga tempat menempa kepemimpinan dan kesadaran sosial generasi muda.

Komitmennya pada dunia literasi organisasi juga membawanya terlibat di tingkat nasional. Ikbar dipercaya menjadi bagian dari tim kreatif sekaligus admin media jurnalistik PP IPNU Pusat, yang hingga kini berkontribusi dalam pengelolaan konten dan penguatan literasi digital di lingkungan organisasi pelajar Nahdlatul Ulama. Melalui peran tersebut, ia ikut merawat ruang-ruang informasi dan gagasan agar tetap hidup di tengah perkembangan media digital yang semakin dinamis.

Pengalaman kepemimpinan ini mempertemukannya dengan banyak anak muda dari latar belakang yang beragam. Ia melihat bahwa organisasi tidak hanya menjadi tempat belajar kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran sosial dan memperluas wawasan.

Kiprah Ikbar di bidang jurnalistik berlanjut ketika ia bergabung sebagai staf redaksi di media numalang.id. Di media ini, ia terlibat dalam proses produksi berita, pengelolaan konten digital, serta pengembangan sumber daya manusia di bidang literasi media. Aktivitas tersebut mempertemukannya dengan berbagai dinamika masyarakat sekaligus memperkaya perspektifnya sebagai penulis.

Selain aktif di media, Ikbar juga konsisten menulis dalam bentuk buku. Ia terlibat dalam sejumlah karya literasi yang lahir dari kegelisahan sekaligus refleksi terhadap berbagai pengalaman hidup. Beberapa di antaranya adalah buku “Jangan Khawatir Semua Akan Baik-Baik Saja”, yang memuat kisah perjuangan dan refleksi kehidupan, serta “Road Map Abad ke-2 NU” yang mengangkat gagasan tentang arah gerakan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.

Ia juga terlibat dalam penulisan buku “KIAKU”, yang merekam kisah perjuangan para guru dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Islam, serta buku “Moderasi Beragama” yang membahas pentingnya sikap seimbang dalam kehidupan keberagamaan di tengah masyarakat yang beragam.

Konsistensinya dalam dunia penulisan juga mengantarkannya meraih Juara 2 dalam lomba penulisan Biografi Masyayikh tingkat Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Media Pondok Jatim. Kompetisi tersebut diikuti oleh perwakilan pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Bagi Ikbar, menulis adalah cara untuk merawat ingatan sekaligus menyampaikan nilai kepada masyarakat. Sementara mengajar adalah ruang untuk menanamkan karakter kepada generasi yang akan datang.

Ia memegang prinsip sederhana dalam dunia pendidikan; “Mengajar dengan hati dan memberi teladan sebelum memberi nasihat”. Menurutnya, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan cara berpikir seseorang.

Dalam perjalanan hidupnya, Ikbar menyadari bahwa setiap proses memiliki tantangan tersendiri. Namun justru dari pengalaman-pengalaman itulah seseorang belajar tentang ketekunan, kesabaran, dan ketangguhan.

Dukungan keluarga, pengalaman organisasi, serta keyakinan kepada Allah menjadi sumber kekuatan yang terus menuntunnya dalam menjalani berbagai peran kehidupan.

Bagi Ikbar, kesuksesan tidak selalu diukur dari jabatan atau pencapaian materi. Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain dan meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan masyarakat.

Melalui dunia pendidikan dan tulisan, ia terus berusaha menebar manfaat. Mengajar dan menulis baginya adalah dua jalan yang saling melengkapi jalan panjang untuk merawat ilmu, menyebarkan gagasan, serta menghadirkan inspirasi bagi generasi muda.

Di sanalah ia percaya, setiap ilmu yang dibagikan dan setiap tulisan yang lahir dapat menjadi jejak kecil yang memberi arti bagi perjalanan zaman. (*)

Dokumentasi foto bersama setelah wawancara dengan narasumber sebagai bagian dari tugas sekolah menulis biografi seorang pendidik inspiratif. (Foto: Aisyah/numalang.id)

Penulis: Roudlotul Aisyah (Siswi SMK Brantas Karangkates)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan