Oleh: Khusnul Fatimah, M.Pd.
Guru Bahasa Indonesia MTs Hasyim Asy’ari Kota Batu (PC Fatayat NU Kota Batu) NUMALANG.ID.-Menjelang akhir tahun, biasanya kita sibuk menghitung apa yang sudah tercapai dan apa yang belum terlaksana. Kita membuat resolusi, menyusun harapan, dan berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang akan datang. Namun sering kali, evaluasi kita berhenti pada hal-hal yang bersifat lahiriah: karier, pencapaian, target hidup. Padahal ada satu aspek yang jarang disentuh, namun dampaknya sangat besar dalam kehidupan sosial kita, yakni cara bertutur kata.
Sepanjang satu tahun ke belakang, barangkali kita pernah berada dalam satu ruang yang terasa panas hanya karena satu-dua kalimat. Ada orang yang begitu cerdas dalam berbicara, cepat dalam menanggapi, dan piawai menyusun argumen. Sayangnya, kecerdasan itu tidak selalu dibarengi kebijaksanaan. Ucapannya mungkin benar, faktanya mungkin tepat, tetapi cara penyampaiannya melukai. Kata-katanya sederhana, namun efeknya ‘makjleb’ membuat orang tersinggung, sakit hati, dan suasana menjadi tidak kondusif.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa kepintaran tidak selalu identik dengan kedewasaan. Banyak orang mampu memenangkan perdebatan, tetapi gagal menjaga hubungan. Banyak yang ahli menyampaikan fakta, tetapi abai terhadap kondisi dan perasaan orang lain. Dalam situasi seperti ini, kebenaran sering kali berubah menjadi alat untuk menunjukkan siapa yang paling unggul, bukan sarana untuk saling memahami.
Islam telah lama mengajarkan bahwa lisan adalah amanah. Setiap kata yang keluar bukan hanya akan dipertanggungjawabkan, tetapi juga meninggalkan bekas pada orang lain. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa berbicara itu harus menenangkan, bukan mengeruhkan. Jika kata-kata justru memancing permusuhan, perdebatan, dan suasana panas, maka yang perlu dievaluasi bukanlah kecerdasan kita, melainkan akhlak kita dalam bertutur.
Akhir tahun adalah momentum yang tepat untuk bercermin. Mungkin selama ini kita pernah menjadi bagian dari orang yang “merasa paling benar” dalam berbicara. Atau sebaliknya, kita sering menjadi pihak yang memilih diam karena lelah menghadapi kata-kata yang menusuk. Keduanya sama-sama menyisakan kelelahan emosional. Maka, menyambut tahun 2026 seharusnya bukan hanya soal target baru, tetapi juga tentang memperbaiki cara kita berkomunikasi.
Menjadi pribadi yang lebih baik berarti belajar menahan lidah sebelum menahan pendapat. Belajar bertanya pada diri sendiri sebelum berbicara: apakah kata ini perlu? apakah ini waktu yang tepat? apakah ucapan ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperkeruh? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini adalah bentuk kebijaksanaan yang sering kalah oleh dorongan ego dan keinginan untuk terlihat pintar.
Di ruang sosial, baik keluarga, tempat kerja, organisasi, maupun komunitas, kita membutuhkan lebih banyak orang yang bijak, bukan sekadar cerdas. Orang yang mampu membaca suasana, memahami perasaan, dan memilih diam ketika kata-kata hanya akan melukai. Karena pada akhirnya, suasana yang sehat tidak dibangun oleh argumen yang paling kuat, tetapi oleh tutur kata yang paling menenangkan.
Menyongsong tahun 2026, barangkali resolusi terbaik yang bisa kita tanamkan adalah memperbaiki lisan. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua kebenaran harus diucapkan saat itu juga. Dan tidak semua perdebatan layak dimenangkan. Kadang, mengalah dalam bicara justru adalah kemenangan dalam menjaga hubungan.
Jika setiap dari kita mau melangkah ke tahun baru dengan kesadaran bahwa kepintaran perlu dibingkai kebijaksanaan, maka kita sedang menyiapkan ruang sosial yang lebih damai. Tahun baru tidak selalu harus diawali dengan target besar. Cukup dengan komitmen kecil: berbicara lebih lembut, lebih bijak, dan lebih manusiawi. Sebab dari situlah pribadi yang lebih baik benar-benar dimulai.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulumuddin (Jilid 3). Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qaradawi, Y. (2000). Akhlak Muslim. Jakarta, Indonesia: Gema Insani Press.
Mulyana, D. (2014). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya.




