Maulid Ad-Diba’ adalah salah satu khazanah tradisi Islam Nusantara yang kaya makna perpaduan antara sastra Arab, sejarah Nabi, dan spiritualitas kolektif. Ia bukan sekadar lantunan shalawat, melainkan ruang pendidikan rasa, adab, dan cinta kepada Rasulullah. Namun, di tengah hiruk-pikuk zaman digital, tradisi ini kian terasa asing bagi kawula muda. Bukan karena ia kehilangan nilai, melainkan karena jarak antara tradisi dan generasi baru semakin melebar.
Pertama, pergeseran medium dan cara berinteraksi. Kawula muda hari ini tumbuh dalam budaya visual, cepat, dan instan. Video pendek, musik populer, dan narasi ringkas lebih mudah dicerna dibandingkan pembacaan Ad-Diba’ yang panjang, berbahasa Arab klasik, dan menuntut kesabaran. Tanpa jembatan pemaknaan, Ad-Diba’ dipersepsi sebagai ritual formal—bukan pengalaman spiritual yang relevan dengan kehidupan mereka.
Kedua, krisis konteks dan narasi. Banyak pembacaan Ad-Diba’ berlangsung secara rutin, tetapi minim penjelasan makna. Generasi muda sering tidak diajak memahami: mengapa bagian tertentu dibaca, apa pesan sosial dan etisnya, serta bagaimana kisah Nabi di dalamnya berkelindan dengan problem kekinian—keadilan, empati, krisis moral, dan identitas. Ketika makna tidak dikontekstualisasikan, tradisi terasa seperti warisan yang dipikul, bukan dirayakan.
Ketiga, gaya penyajian yang kurang adaptif. Ad-Diba’ kerap hadir dalam format yang sama dari waktu ke waktu, tanpa inovasi metode baik dalam irama, tata acara, maupun ruang dialog. Padahal, kawula muda merespons positif pada ruang yang partisipatif: diskusi singkat, pengantar tematik, visualisasi teks, atau penggabungan dengan seni dan literasi digital. Ketika tradisi tidak beradaptasi, ia kalah bersaing dengan tawaran hiburan lain.
Keempat, tantangan identitas dan otoritas. Sebagian anak muda hidup di persimpangan narasi keagamaan yang beragam bahkan saling berseberangan. Di media sosial, perdebatan soal bid’ah dan otentisitas sering lebih nyaring daripada penjelasan yang menyejukkan. Akibatnya, Ad-Diba’ terjebak dalam labelisasi, bukan dialog; dalam stigma, bukan pemahaman.
Namun, rendahnya minat bukan vonis kematian. Justru ini undangan untuk berbenah. Ad-Diba’ perlu dihadirkan kembali sebagai ruang belajar makna, bukan sekadar acara. Diperlukan pengantar yang membumi, narasi yang mengaitkan kisah Nabi dengan realitas anak muda, serta keberanian memanfaatkan media digital sebagai jembatan tanpa kehilangan ruh.
Pada akhirnya, kawula muda tidak menolak tradisi; mereka menolak tradisi yang tak berbicara kepada hidup mereka. Ketika Ad-Diba’ dihidupkan dengan makna, konteks, dan empati, ia akan kembali menemukan pendengarnya bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan jiwa.
Kontributor:Sholikan




