back to top
Jumat, April 4, 2025

Tradisi Jajanan Kering di Hari Raya Idulfitri: Antara Kehormatan dan Makna Religius

NU Malang – Hari Raya Idulfitri merupakan momen istimewa yang dinanti oleh umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Selain menjadi ajang perayaan kemenangan spiritual, Idulfitri juga menjadi waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, tetangga, serta kerabat. Salah satu tradisi yang selalu hadir dalam perayaan ini adalah penyajian jajanan kering bagi para tamu yang berkunjung. Namun, apakah kebiasaan ini sekadar budaya, ataukah memiliki makna lebih dalam?

Memuliakan Tamu sebagai Bentuk Ibadah

Dalam ajaran Islam, memuliakan tamu merupakan tindakan yang memiliki nilai ibadah. Setiap tamu yang datang membawa berkah dan harus disambut dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa penghormatan kepada tamu tidak hanya menjadi wujud kesopanan sosial, tetapi juga merupakan refleksi dari keimanan seseorang. Oleh karena itu, menyediakan jajanan bagi tamu yang datang saat Idulfitri menjadi salah satu cara untuk menjalankan anjuran agama ini.

Jajanan Kering sebagai Wujud Rasa Syukur

Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu, penyediaan jajanan kering juga mencerminkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Setelah sebulan penuh menahan diri dari makan dan minum di siang hari selama Ramadan, Idulfitri menjadi momentum untuk merayakan keberhasilan dalam mengendalikan hawa nafsu. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'”

Dengan adanya jajanan kering di setiap rumah, umat Islam tidak hanya berbagi kebahagiaan dengan sesama, tetapi juga mengaktualisasikan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT

Tradisi menyajikan jajanan kering di Hari Raya Idulfitri bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki makna mendalam yang selaras dengan ajaran Islam. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu, tradisi ini juga menjadi manifestasi dari rasa syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mempertahankan dan melestarikan tradisi ini bukan hanya memperkaya budaya, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan umat Islam.

Penulis: Ali Rofik (LTN NU Kabupaten Malang)

Editor: Ikbar Zakariya

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan