Kota Batu, NUMALANGID — Pengurus Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa, Dr. Hasanuddin Wahid, mengingatkan keluarga besar Pagar Nusa Kabupaten Malang agar terus meningkatkan prestasi tanpa meninggalkan tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan para guru. Pesan tersebut disampaikan dalam silaturahmi bersama Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, Saiful Anam, di Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/10/2026) malam.
“Oke prestasi, oke tradisi, memegang nilai-nilai. Jangan pernah lelah jadi pendekar. Karena manusia sejati harus jadi pendekar,” ujar Hasanuddin.
Pesan tersebut menekankan bahwa keberhasilan Pagar Nusa tidak hanya diukur dari medali dan kemampuan bela diri, tetapi juga dari adab, penghormatan kepada guru, serta komitmen menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Dalam pertemuan yang berlangsung di kediaman Hasanuddin, Jalan Kenongo Nomor 45, Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, keduanya berbincang mengenai persilatan, tradisi keilmuan, budaya, dan tantangan menjaga jati diri Pagar Nusa di tengah perubahan zaman.
Saiful Anam menjelaskan bahwa tradisi memiliki jalur pewarisan antargenerasi melalui guru dan generasi pendahulunya. Dalam khazanah keilmuan Islam, kesinambungan pewarisan ilmu tersebut berkaitan dengan sanad.
“Nilai menjadi tonggak utama tradisi. Nilainya harus tetap dijaga, meskipun ekspresinya bisa berubah mengikuti perkembangan zaman,” kata Saiful.
Menurut dia, Pagar Nusa perlu terus meningkatkan prestasi, mengasah kemampuan pesilat, dan mengembangkan organisasi tanpa meninggalkan adab serta nilai-nilai yang diwariskan para guru.
Suasana perbincangan kemudian mencair ketika keduanya membahas budaya populer dan media sosial.
“Kalau budaya sekarang, misalnya TikTok, Facebook, atau Twitter, saya yakin tidak ada yang belajar itu dari kakeknya,” ujar Saiful.
Hasanuddin menyambut pernyataan tersebut dengan tawa. Percakapan itu menggambarkan perbedaan antara tradisi yang diwariskan lintas generasi dan budaya populer yang berkembang seiring kemajuan teknologi serta interaksi sosial.
Meski demikian, keduanya menyoroti pentingnya menyikapi perubahan zaman secara bijaksana. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan organisasi, memperluas silaturahmi, dan memperkenalkan prestasi Pagar Nusa, tanpa mengabaikan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Komitmen menjaga tradisi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman juga berkaitan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, yakni tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil dan tegak lurus).
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membentuk pendekar yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki kematangan moral, mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menjalankan tanggung jawab.
Bagi Pagar Nusa Kabupaten Malang, pesan Hasanuddin menjadi pengingat bahwa prestasi di gelanggang perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kemampuan bela diri yang semakin tinggi harus diimbangi dengan tanggung jawab untuk menjaga adab dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pendekar sejati bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan lawan, tetapi juga mereka yang mampu mengendalikan diri, menjaga persaudaraan, dan memegang teguh nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.
Kontributor: Saiful Anam




