Poncokusumo, NUMALANG — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Poncokusumo, Kabupaten Malang, menggelar gerak jalan dalam rangka memperingati Hari Santri 2026, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan yang diikuti 102 regu ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus menguatkan semangat khidmah warga Nahdlatul Ulama (NU) kepada umat.
Gerak jalan dimulai pukul 07.00 WIB dengan titik pemberangkatan di Desa Karangnongko dan berakhir di Balai Desa Belung. Peserta berasal dari berbagai unsur NU di Kecamatan Poncokusumo, mulai dari pengurus ranting, lembaga, badan otonom (banom), hingga masyarakat setempat.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Poncokusumo, HM Zainuri, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi antusiasme warga NU dan masyarakat yang turut berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian peringatan Hari Santri.
“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Kami bersyukur atas antusiasme warga NU dan masyarakat yang turut berpartisipasi. Semoga kegiatan ini semakin mempererat persaudaraan, meningkatkan kepedulian terhadap kemaslahatan umat, dan menguatkan khidmah kita kepada NU,” ujarnya.
Gerak jalan tersebut merupakan satu dari 12 jenis perlombaan yang diselenggarakan MWCNU Poncokusumo dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Sejumlah perlombaan lainnya meliputi kreator konten, public speaking, pencak silat, dan berbagai kegiatan lain yang dilaksanakan secara luring maupun daring.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang partisipasi bagi berbagai unsur NU, termasuk generasi muda, untuk mengembangkan potensi sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat. Perpaduan kegiatan yang berorientasi pada tradisi dan kreativitas juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat santri dalam menjawab tantangan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, H. Syamsu Duha, S.Sos., mengajak warga NU menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum meneladani ghirah atau semangat perjuangan para ulama dalam membangun dan menjaga Nahdlatul Ulama.
Ia mengingatkan kisah KH As’ad Syamsul Arifin yang mendapat amanah dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan untuk menyampaikan pesan kepada KH Hasyim Asy’ari di Jombang. Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan sejarah yang berkaitan dengan proses berdirinya NU.
Menurutnya, semangat perjuangan para ulama perlu diwariskan melalui pengabdian nyata, baik dalam kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat.
“Semangat perjuangan para ulama harus terus kita kobarkan sebagai bentuk khidmah kepada NU. Khidmah bukan hanya tentang jabatan atau kedudukan, melainkan kesediaan memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan untuk kepentingan umat. Semangat itulah yang harus kita rawat dan teruskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, khidmah merupakan wujud pengabdian yang berlandaskan keikhlasan, adab, dan tanggung jawab sosial. Pengabdian kepada organisasi diharapkan bermuara pada kemaslahatan umat, bukan semata-mata kepentingan pribadi atau kelompok.
Gerak jalan Hari Santri juga menjadi simbol perjalanan bersama dalam merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa. Semangat tersebut membutuhkan kebersamaan dan kesinambungan antargenerasi agar nilai-nilai perjuangan para ulama tetap hidup di tengah masyarakat.
Nilai-nilai itu juga relevan dengan cita-cita Indonesia Emas. Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh perkembangan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh karakter, kepedulian sosial, serta kemampuan masyarakat menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Rangkaian peringatan Hari Santri yang diselenggarakan MWCNU Poncokusumo dijadwalkan mencapai puncaknya melalui upacara Hari Santri pada 22 Oktober 2026.
Kegiatan gerak jalan tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Poncokusumo, termasuk Camat Poncokusumo Didik Agus Purnomo, S.P., M.A.P. Hadir pula perwakilan pengurus LP Ma’arif NU Poncokusumo, Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh NU setempat.

Panitia menyampaikan terima kasih kepada jajaran Forkopimcam dan Dinas Perhubungan atas dukungan serta kerja sama dalam membantu kelancaran kegiatan.
MWCNU Poncokusumo berharap rangkaian peringatan Hari Santri dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kemaslahatan umat sekaligus memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di tengah dinamika sosial masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, MWCNU Poncokusumo mengajak warga NU terus merawat persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga persatuan. Semangat khidmah diharapkan tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui pengabdian berkelanjutan demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Kontributor: Saiful Anam




