PONCOKUSUMO, MALANG – Masyarakat Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, mengikuti peringatan Nabi Muhammad SAW yang digelar Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Ar Ridlo Belung, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung selepas salat Jumat sekitar pukul 12.00 WIB itu diikuti jamaah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sejumlah pengurus organisasi keagamaan.
Ceramah agama disampaikan KH Drs Syaifudin Zuhri. Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurut Syaifudin, shalawat tidak semestinya dipahami sebatas bacaan yang diulang secara lisan. Shalawat juga merupakan ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW yang semestinya diwujudkan melalui upaya meneladani akhlak dan perjuangan beliau.
“Semua makhluk membutuhkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Karena itu, memperbanyak shalawat hendaknya tidak berhenti pada lisan. Shalawat harus menggerakkan hati untuk mencintai Rasulullah dan menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan,” tutur KH Syaifudin Zuhri.
Ia menekankan, kecintaan kepada Rasulullah SAW memiliki konsekuensi moral. Menurutnya, semakin seseorang mencintai Nabi, semestinya semakin baik pula akhlaknya terhadap sesama.
Dalam perspektif tersebut, shalawat tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sarana pendidikan batin. Lisan mengucapkan shalawat, hati menumbuhkan mahabbah, sedangkan perilaku berusaha mengikuti akhlak Rasulullah.
“Shalawat menghubungkan manusia dengan teladan kenabian. Ketika shalawat benar-benar masuk ke dalam kesadaran, ia seharusnya melahirkan akhlak: rendah hati, kasih sayang, jujur, dan mampu menghormati orang lain,” jelasnya.
Takmir Masjid Ar Ridlo, Gus Abdul Hamid Sobri atau Gus Hamid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari agenda rutin yang telah dirintis pengurus takmir sebelumnya.
“Kegiatan ini meneruskan agenda dan tradisi baik dari pengurus takmir sebelumnya. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara istiqamah,” ujarnya.
Menurut Gus Hamid, kesinambungan tradisi keagamaan penting untuk menjaga masjid tetap hidup sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah mahdhah, tetapi juga ruang pendidikan, silaturahmi, dan penguatan kehidupan sosial.
Sementara itu, H Syamsu Duha, yang akrab dipanggil Abah Duha dari PC DMI, menyambut baik kegiatan tersebut.
“Kami merespons baik kegiatan ini. Ini merupakan kolaborasi antara pengurus takmir masjid, pemerintah desa, masyarakat Desa Belung, dan warga NU yang secara kultural memang menjadi bagian besar dari masyarakat Belung,” katanya.
Abah Duha menilai kegiatan tersebut merupakan bentuk hubungan antara agama dan kebudayaan masyarakat.
“Agama tidak dibangun dengan memutus masyarakat dari budayanya. Justru nilai agama dapat tumbuh kuat ketika hadir dalam kebudayaan yang baik. Dari sinilah tradisi keagamaan menjadi media untuk menanamkan nilai, merawat persaudaraan, dan membangun karakter masyarakat,” tuturnya.
Menurut dia, tradisi keagamaan seperti peringatan Nabi Muhammad SAW tidak sekadar mengulang kegiatan yang sama setiap tahun. Di dalamnya terdapat proses pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Budaya berkumpul, bershalawat, mendengarkan pengajian, dan bersilaturahmi menjadi ruang sosial yang memungkinkan nilai-nilai keislaman terus hidup di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang; H Zainuri, Ketua Tanfidziyah MWC NU Poncokusumo; H Drs Turmudzi; K Syaifudin Romli; unsur DKM Kecamatan Poncokusumo; serta sejumlah tokoh NU dan tokoh masyarakat Kecamatan Poncokusumo.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan juga memiliki fungsi sosial. Masjid menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana persaudaraan.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kegiatan keagamaan dan kebudayaan masyarakat kerap berjalan beriringan. Shalawat, pengajian, peringatan Maulid Nabi, tahlilan, dan berbagai tradisi keagamaan lainnya tidak hanya menjadi ekspresi keberislaman, tetapi juga sarana membangun kohesi sosial.
Antusiasme masyarakat Belung dalam mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Peringatan Nabi Muhammad SAW pun tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi ruang untuk kembali merefleksikan sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah SAW diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mencintai Nabi tidak hanya dilakukan dengan memperbanyak penyebutan namanya, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlaknya dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan.
Kontributor: Saiful Anam




