back to top
Sabtu, Agustus 15, 2026

Ketika Merah Putih Bertemu Bulan Maulid: Meriah Boleh, tapi Jangan Kehilangan Adab

NUMALANGID – Ada momentum istimewa yang layak direnungkan bersama pada 14 Agustus 2026 ini. Bangsa Indonesia tidak sekadar menghitung hari menuju peringatan 81 tahun kemerdekaan. Pada tanggal yang sama, berdasarkan penetapan Lembaga Falakiyah PBNU melalui hasil rukyatul hilal, 1 Rabiul Awwal 1448 H bertepatan dengan hari Jumat ini. Artinya, kita tengah berada di ambang bulan kemerdekaan sekaligus memasuki bulan yang lekat dengan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah Muhammad ï·º.

Merah Putih sedang berkibar. Shalawat sedang bergema. Pertanyaannya: sebenarnya apa yang sedang kita rayakan?

Apakah kemerdekaan cukup dirayakan dengan lomba dan panggung hiburan? Apakah Maulid cukup dimeriahkan dengan sound system megah dan ribuan massa? Rasanya belum cukup. Sebab, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada kemeriahan semata, yaitu adab.

Isu adab di ruang publik ini kembali mengemuka menjelang Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 hari ini. Ketika Ketua DPR RI Puan Maharani meminta seluruh anggota dewan menjaga sikap dan lebih khidmat mengevaluasi sorotan publik terhadap aksi berjoget pada sidang tahun lalu kita diingatkan pada satu hal fundamental. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara, tetapi manusia yang paham kapan harus bergembira, kapan harus khidmat, dan kapan saatnya menahan diri.

Di titik inilah peringatan Maulid Nabi ï·º menemukan relevansinya yang paling tajam. Rasulullah ï·º diutus bukan sekadar mengajarkan cara berbicara tentang agama, melainkan untuk menyempurnakan akhlak. Jika setelah bershalawat kita masih mudah menghina, jika setelah memuji Nabi kita masih gemar menebar kebencian, boleh jadi yang bertambah baru suara kita, bukan akhlak kita.

Pemerintah mengusung tema HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini: Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Tema tersebut merupakan cita-cita besar agar kemerdekaan menghasilkan kehidupan berbangsa yang bermartabat. Kemerdekaan yang matang menegaskan prinsip: saya bebas, tetapi saya bertanggung jawab. Bebas berbicara namun tidak memfitnah, bebas berbeda pilihan namun tidak bermusuhan, bebas bergembira namun tahu tempat, serta bebas bermedia sosial namun tidak menjadi budak kegaduhan. Itulah kemerdekaan yang berkelas.

Tidak ada pertentangan antara mencintai Rasulullah ï·º dan mencintai Indonesia. Tidak ada pula pertentangan antara bershalawat dan menghormati bendera. Yang perlu dijaga bukan semarak perayaannya, melainkan ruh yang menjiwainya.

Maka, tahun ini mari kita naik kelas. Tampilkan kreativitas karnaval tanpa kehilangan kesopanan. Rayakan panggung hiburan tanpa merendahkan martabat sesama. Jadikan media sosial sebagai ladang dakwah, bukan tempat menumpahkan kebencian.

Indonesia tidak kekurangan orang pandai berteriak atau fasih berteori nasionalisme. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang mampu menjaga sikap di ruang publik dan konsisten berkhidmat untuk masyarakat. Begitulah cara terbaik menyambut Rabiul Awwal sekaligus mensyukuri kemerdekaan: bukan dengan mematikan kegembiraan, melainkan dengan memberinya adab dan arah.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Selamat datang Rabiul Awwal 1448 H. Semoga Merah Putih berkibar, shalawat bergema, dan akhlak Rasulullah ï·º hidup mengakar di bumi pertiwi.

Wallahu a’lam.

Penulis: Syahrullah Mahmud (Khodimul Majlis Maulid Watta’lim As-Syafa’ah / Wakil Ketua Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kabupaten Malang)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan