back to top
Senin, Agustus 10, 2026

Mengenal dan Mengenal Gus Dur Melalui Karyanya: Menelaah NU, Muhammadiyah, dan Budaya Arab

NUMALANGID, Andai nama KH Abdurrahman Wahid tidak tertera pada sampul karya-karyanya, pembaca mungkin akan mengira penulisnya adalah seorang aktivis progresif yang gemar melontarkan humor sekaligus kritik tajam. Namun, Gus Dur memang pengecualian. Sebagai intelektual organik, ia konsisten menyuarakan kebenaran dari rahim tradisi pesantren.

Melalui buku Insya Allah, Saya Serius: NU, Muhammadiyah, & Budaya Arab (Gading, 2024), kita disuguhi 26 esai Gus Dur yang ditulis pada rentang 1970-an hingga 1980-an. Penyunting buku ini, Hairus Salim HS, berjasa besar menghimpun kembali fragmen pemikiran yang tersebar di berbagai media tersebut. Buku ini bukan sekadar arsip sejarah, melainkan “buku panduan” yang tetap relevan untuk didiskusikan dan diresapi oleh masyarakat Indonesia hari ini.

Kekuatan utama Gus Dur dalam kumpulan esai ini terletak pada kemampuannya menyederhanakan gagasan yang pelik menjadi narasi yang renyah. Ia mampu menjahit ide-ide besar—mulai dari sastra, film, hingga kemanusiaan—menjadi diskursus yang egaliter. Gus Dur tidak sedang menggurui; ia mengajak pembaca untuk melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap diri sendiri dan masyarakat.

Dalam esai “Fungsi Kesenian dalam Pembentukan Manusia Utuh”, Gus Dur berargumen bahwa kesenian adalah salah satu pilar pembentuk kepribadian, bersanding dengan ilmu pengetahuan, agama, dan ideologi. Baginya, kesenian berfungsi menumbuhkan kepekaan sikap dan keluhuran budi. Pandangan ini tentu sempat memicu perdebatan di kalangan konservatif yang kerap menempatkan agama dan ilmu sebagai satu-satunya otoritas. Namun, itulah Gus Dur: ia selalu menantang kita untuk melihat realitas dari banyak sisi.

Apa yang membuat tulisan-tulisan Gus Dur dalam buku ini tetap segar? Setidaknya ada tiga pola yang konsisten. Pertama, ia selalu mengawinkan perspektif keagamaan dengan analisis sosial yang mendalam. Kedua, nada kritisnya selalu tajam, namun tidak pernah provokatif. Ketiga, Gus Dur selalu mengimbangi kritik dengan apresiasi—ia selalu menimbang sisi kelebihan di balik kekurangan suatu fenomena.

Buku ini juga menyentuh isu-isu praktis yang masih relevan dengan tantangan zaman. Misalnya, bagaimana ia melihat Muhammadiyah dengan watak egaliternya, atau bagaimana ia menyarankan NU agar menjadi “satpam” republik yang menjaga tanpa harus memegang kendali penuh. Gus Dur mendorong pengembangan konsep amar ma’ruf nahi munkar yang diperluas, agar masuk ke bidang-bidang yang selama ini luput dari jangkauan umat.

Membaca kembali pemikiran Gus Dur di tengah polarisasi hari ini adalah sebuah kebutuhan mendesak. Kita tidak sekadar mengenang sosoknya, tetapi belajar cara berpikir yang merangkul keberagaman. Gus Dur mengajarkan bahwa intelektualitas yang sejati adalah intelektualitas yang membumi, yang kritis namun tetap santun, dan yang mampu menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai napas bagi peradaban.

Pada akhirnya, buku ini membuktikan bahwa karya Gus Dur tidak lekang oleh waktu. Ia telah meletakkan fondasi dialektika yang sehat bagi bangsa ini. Tugas kita kini bukan sekadar memuja namanya, melainkan menghidupkan tradisi intelektual yang berani, merdeka, dan selalu berpijak pada kemanusiaan.

Penulis: Akhmad (Dosen Pengajar Tadris Bahasa Indonesia Universitas Al-qolam Malang)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan