back to top
Minggu, Juli 12, 2026

Pondok Pesantren Mambaul Ulum Rayakan Satu Abad, Luncurkan Buku Sejarah dan Gelar Haul Akbar

NUMALANGID, Rangkaian Haul Akbar dan Peringatan Satu Abad Pondok Pesantren Mambaul Ulum Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, berlangsung selama tiga hari, Jumat–Ahad (10–12 Juli 2026). Kegiatan tersebut dihadiri ratusan alumni dari berbagai angkatan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti rangkaian acara sekaligus mempererat silaturahmi.

Peringatan satu abad ini juga menjadi momentum mengenang jasa para pendiri dan masyayikh yang telah meletakkan fondasi pendidikan Pondok Pesantren Mambaul Ulum selama satu abad terakhir.

Suasana haru mewarnai kedatangan para alumni yang kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah. Sepanjang kegiatan, santri, alumni, dan masyarakat memadati kompleks pesantren untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.

Rangkaian pembukaan diawali dengan Khatmil Al-Qur’an mulai pukul 05.00 WIB hingga menjelang Salat Jumat pukul 11.00 WIB. Pembacaan Al-Qur’an tersebut dipersembahkan sebagai doa bagi para pendiri, masyayikh, alumni, dan keluarga besar Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Selanjutnya, jamaah mengikuti pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan doa bersama untuk para muassis pondok, yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian umum oleh KH Abdul Qoyum.

Dalam tausiyahnya, KH Abdul Qoyum mengajak jamaah agar tidak hanya mewarisi bangunan pesantren, tetapi juga mewarisi akhlak, adab, dan perjuangan para ulama. Menurutnya, Pondok Pesantren Mambaul Ulum mampu bertahan hingga satu abad karena dibangun di atas keikhlasan, kesabaran, dan keberkahan para pendirinya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun karakter minas shabirin, yakni pribadi yang senantiasa bersabar dalam berjuang, mengabdi, dan mendidik umat. Menurutnya, nilai kesabaran menjadi salah satu kekuatan utama pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman.

Peluncuran Buku Satu Abad

Salah satu agenda utama dalam peringatan tersebut adalah peluncuran Buku Satu Abad Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan panjang pesantren sejak didirikan oleh KH Hasbullah bin Basyir, dilanjutkan kepemimpinan almarhum KH Imam Arifin, hingga kini berada di bawah pengasuhan KH Faiqurrahman.

Selain memuat sejarah berdirinya pesantren, buku tersebut merekam perjalanan perjuangan, nilai-nilai pendidikan, keteladanan para masyayikh, serta perkembangan Pondok Pesantren Mambaul Ulum selama satu abad pengabdian kepada masyarakat.

Peluncuran buku mendapat sambutan antusias dari para alumni yang selama ini mengharapkan adanya dokumentasi resmi mengenai sejarah pesantren.

Setelah peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan Temu Kangen Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum. Para alumni kemudian bersilaturahmi dan sowan kepada para masyayikh untuk memohon doa serta keberkahan agar tetap mampu menjaga nilai-nilai yang diperoleh selama menimba ilmu di pesantren.

Pada malam hari, selepas Salat Isya, ribuan jamaah mengikuti Majelis Shalawat yang menghadirkan Veve Zulfikar bersama Gambus Habib Muhsin.

Berlangsung Hingga Tiga Hari

Rangkaian peringatan berlanjut pada Sabtu (11/7/2026) dengan Parade Drumband yang berlangsung pukul 09.00–13.00 WIB, dilanjutkan pengajian bersama Ning Sheila Hasina.

Malam harinya kembali digelar Majelis Shalawat yang diikuti gabungan berbagai majelis taklim di bawah naungan alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Sementara itu, pada Ahad (12/7/2026), seluruh rangkaian kegiatan ditutup melalui penyelenggaraan Jantiko Mantab bersama KH Agus Abuth Panoto Projo sebagai puncak doa bersama sekaligus peneguhan semangat meneruskan perjuangan para pendiri pesantren.

Alumni Soroti Keterkaitan Tausiyah dan Buku Sejarah Pesantren

Foto: numalang.id

Salah seorang alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum angkatan awal 2000-an, Abdus Syakur, mengaku terkesan dengan rangkaian kegiatan, terutama tausiyah KH Abdul Qoyum dan peluncuran Buku Satu Abad Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

Menurutnya, terdapat keterkaitan yang kuat antara materi pengajian yang disampaikan KH Abdul Qoyum dengan sosok almarhum KH Imam Arifin yang menjadi salah satu tokoh utama dalam buku tersebut.

“Kesan yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika Gus Qoyum membahas karakter mulia minas shabirin. Entah ini hanya kebetulan atau sebuah isyarat karamah bahwa telah ada komunikasi batin antara almaghfurlah KH Imam Arifin dengan beliau. Materi yang disampaikan benar-benar konek, titis, dan sangat relate dengan karakter tokoh yang ditulis dalam buku yang baru saja dilaunching,” ujarnya.

Pria yang kini menetap di Gresik itu menilai kesabaran merupakan benang merah yang menyatukan perjalanan para masyayikh Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

“Atau jangan-jangan, sabar memang merupakan bahasa universal yang sejak dahulu sudah melebur menjadi jati diri para masyayikh. Dan hari ini kita sedang berupaya menjadikan kesabaran itu sebagai karakter utuh kita, meskipun kadarnya kadang mengembang, kadang juga mengempis,” katanya.

Ia juga mengaku merasakan pengalaman emosional saat membaca Buku Satu Abad Pondok Pesantren Mambaul Ulum.

“Membaca buku ini tiba-tiba ada rasa melankolis menyeruak. Bukan karena apa, tetapi dari sudut pandang kami sebagai alumni, buku ini begitu indah. Ada pesan mendalam di dalamnya, ada kerinduan yang begitu kuat, ada pesan perdamaian yang tersirat maupun tersurat, tersusun indah dalam daftar isinya,” tuturnya.

Peringatan satu abad Pondok Pesantren Mambaul Ulum tidak hanya menjadi penanda usia lembaga pendidikan, tetapi juga momentum memperkuat ikatan antara pesantren, para masyayikh, santri, alumni, dan masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus merawat warisan ilmu, akhlak, dan perjuangan yang telah ditanamkan sejak masa KH Hasbullah bin Basyir kepada generasi berikutnya.

Kontributor: Royhan

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan