back to top
Jumat, Juli 10, 2026

Workshop Eksplorasi Digital Bekali Kader IPNU-IPPNU Sutojayan Kuasai AI untuk Dakwah dan Konten Kreatif

MALANG, NUMALANG.ID – Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Sutojayan menggelar Workshop Eksplorasi Digital bertajuk “Prompting Hacks dan Produksi Konten Kreatif untuk Penggerak IPNU-IPPNU” di Gedung Serbaguna NU Sutojayan, Jumat (10/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal, M.Pd., dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sebagai narasumber utama.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kader pelajar Nahdlatul Ulama dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya untuk mendukung dakwah, kaderisasi, serta pengelolaan media digital organisasi.

Dalam pemaparannya, Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal menjelaskan bahwa perkembangan AI generatif telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Oleh karena itu, kader IPNU-IPPNU perlu memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara cerdas tanpa meninggalkan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.

“AI bukan pengganti kader. AI hanyalah alat bantu untuk mempercepat proses berpikir dan berkarya. Nilai perjuangan, adab, serta keputusan tetap berada di tangan manusia,” tegas Ahsan.

Ia menambahkan, saat ini sebagian besar pelajar lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Kondisi tersebut menuntut organisasi pelajar untuk mampu menghadirkan konten yang cepat, menarik, edukatif, sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada konsep dasar prompting, yakni teknik menyusun instruksi kepada AI agar menghasilkan keluaran yang sesuai kebutuhan. Menurut Ahsan, kualitas hasil AI sangat ditentukan oleh kualitas prompt yang diberikan.

Peserta juga mendapatkan materi mengenai framework penyusunan prompt yang efektif, mulai dari menentukan peran AI (role prompting), memberikan konteks, menjelaskan tugas secara spesifik, menentukan format keluaran, hingga menetapkan berbagai batasan agar hasil lebih presisi.

Selain teori, workshop menghadirkan lima teknik utama atau Prompting Hacks, yaitu:

  1. Role Prompting;
  2. Few-shot Prompting (memberikan contoh);
  3. Memecah pekerjaan menjadi beberapa tahap;
  4. Mengunci format keluaran (output);
  5. Melakukan revisi secara bertahap (iterative prompting).

Materi berikutnya mengulas berbagai perangkat AI yang dapat dimanfaatkan kader untuk memproduksi konten organisasi, mulai dari ChatGPT, Claude, Gemini, Canva AI, Adobe Firefly, CapCut AI, InShot, hingga ElevenLabs untuk kebutuhan teks, desain grafis, video pendek, dan voice over. Namun demikian, seluruh hasil AI tetap harus melalui proses penyuntingan dan verifikasi fakta sebelum dipublikasikan.

Ahsan menekankan bahwa kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan etika digital. Ia mengingatkan peserta agar selalu memeriksa kebenaran informasi, menjaga orisinalitas karya, menghormati hak cipta, serta bersikap transparan ketika penggunaan AI memberikan kontribusi yang signifikan terhadap sebuah karya.

Sebagai bagian dari sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyusun prompt, membuat caption, konsep poster, maupun naskah video pendek berdasarkan tema kegiatan IPNU-IPPNU. Hasil karya kemudian dipresentasikan sebagai bahan evaluasi bersama.

Melalui kegiatan tersebut, IPNU-IPPNU Ranting Sutojayan berharap para kader tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi digital, tetapi juga menjadi kreator konten yang produktif, inovatif, serta mampu menyebarkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah secara santun di ruang digital.

“AI hanyalah alat. Semangat juang, ketulusan, dan pengabdian kepada organisasi tetap menjadi identitas utama kader IPNU-IPPNU. Gunakan teknologi untuk memperkuat dakwah dan pelayanan kepada masyarakat,” pungkas Ahsan.

Editor: Redaksi NUMALANG.ID

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan