NUMALANGID – Pondok Pesantren Al-Qur’an (PPQ) Al-Qosimi pada mulanya bernama “Pondok Pesantren Al-Qur’an Raudlatul Ulum 2” (nama ini kemudian disingkat dengan sebutan PPQ-RU2). Secara geografis pesantren yang berada disebelah timur pesantren Raudlatul Ulum 2 putri (Pondok Induk) itu resmi didirikan pada tanggal 03 Oktober 2014 M / 08 Dzulhijjah 1435 H. Proses awal terbentuknya pesantren ini dimulai dari dua orang santri putri yang bernama Nur Aini, asal Sumbermanjing Wetan Malang, dan Maftuhah, asal Pontianak Kalimantan Barat, yang berminat mengaji Al-Qur’an (binnadzar) sekaligus melakukan setoran hafalan (tahfidz) kepada Ning Maria Ulfa di rumahnya. Kegiatan keduanya dilaksanakan setelah shalat Subuh di ruang tamu rumah putri bungsu kiai Qosim Bukhori itu, walaupun sebenarnya ia masih disibukkan dengan pengajaran di SMA Raudlatul Ulum dan program pengajian pagi pesantren Raudlatul Ulum 2 putri. Keberlangsungan kegiatan yang hampir setahun lebih itu rupanya membuat menarik minat beberapa santri putri yang lain untuk ikut bergabung melakukan hal yang sama.
Setelah dilihat jumlah santri calon penghafal Al-Qur’an mencapai delapan orang, Ning Ulfa kemudian mengutarakan kondisi tersebut kepada Nyah Hj Zainab Qosim, selaku Pengasuh Utama PP Raudlatul Ulum 2, dan kepada Dewan Pengasuh yang lain sekaligus memohon doa restu untuk memfasilitasi para santri putri yang memiliki animo menghafalkan kitab suci. Bersamaan dengan bertambahnya jumlah peminat hafalan Al-Qur’an dan disertai restu Nyah Hj. Zainab Qosim, pada awal kalender pendidikan formal tahun 2014, Ning Maria Ulfa memutuskan untuk berhenti mengajar di SMA guna memilih memantapkan komitmen membimbing peserta penghafal Al-Qur’an. Agar kegiatan hafalan lebih fokus, Ning Ulfa bernisiatif menjadikan ruang makan keluarga sebagai kamar hunian para santri dengan pemasangan sekat triplek yang ketika itu mereka masih menetap di lokasi pesantren Raudlatul Ulum 2 putri.
Tanggal di atas ditetapkan sebagai momentum waktu berdirinya pesantren khusus putri itu karena dua hal, kendati sebelum tanggal tersebut beberapa orang santri sudah melakukan setoran hafalan Al-Qur’an. Pertama, pada tanggal ini buku Kasyful Hudlur yang menjadi acuan proses hafalan dapat diperbanyak. Kedua, pada tanggal ini pula, yakni tahun hijriyah, bertepatan dengan wafatnya KH Qosim Bukhori. Momen inilah saat yang dianggap paling tepat untuk menandai kelahiran pesantren ini. Lebih-lebih peristiwa wafatnya pendiri PP Raudlatul Ulum 2 itu akan diperingati dengan haul sepanjang tahun oleh keluarga, alumni, wali santri, ihkwan-akhawat thariqah Naqsyabandiyah, dan masyarakat, sehingga waktu kelahiran kawah candradimuka para penghafal firman Tuhan itu diharapkan mendapatkan berkah doa dari semua pihak dalam setiap kegiatan haul.
Pada pertengahan tahun 2015, Nyai Hj. Zainab Qosim memohon kepada H. Lukman Mahmudji, agar mewakafkan tanah dan bangunan dibelakang rumah Ning Maria Ulfa untuk kepentingan hunian para santri penghafal Al-Qur’an. Setelah persetujuan diperoleh, dan berkat bantuan anggota keluarga serta beberapa pihak secara finansial, proses rehab kamar dilakukan. Ruang hunian yang terdiri dari tiga kamar dan satu ruang utama kemudian ditempati meninggalkan kamar yang asalnya ruang makan. Pada akhir bulan Oktober 2015, ruang hunian diperlebar ke arah timur sesuai luas tanah yang diberikan oleh salah satu ahli waris Abah Mahmudji tersebut.

Sejak tanggal 29 November 2016, pesantren tahfidz ini mengalami perubahan nama. Atas keinginan Ning Maria Ulfa sendiri, selaku Pengasuh (Musyrifah) pesantren ini, “Al-Qosimi” dipilih sebagai nama dengan niatan pengharapan baik dan permohonan berkah (tafa’ulan wa tabarrukan) dari kealiman sosok sang ayah, sekaligus pendiri PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo dan Mursyid thariqah Naqsyabandiyah itu. Oleh sebab itu, nama “PPQ-RU 2” berubah menjadi “PPQ Al-Qosimi”.
Mempertimbangkan bahwa pembelajaran dan menghafal Al-Qur’an bukan sekadar tradisi spiritual, melainkan sebuah sistem pendidikan holistik, maka secara ilmiah-normatif, dan landasan empiris, pendirian PPQ Al-Qosimi Putukrejo didasarkan pada tiga bangunan landasan keilmuan:
- Berlandaskan beberapa ayat Al-Qur’an, dan hadits, di antaranya:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Artinya: “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.” (QS. 29:49)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (QS. 08:02)
Berlandaskan sabda Nabi Muhammad SAW, di antaranya:
خَيْرُكُم مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَه
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah seseorang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.” (HR. Bukhori)
أَشْرَافُ أُمَّتِي حَمَلَةُ القُرآنِ وَأَصْحابُ اللَّيْل
Artinya: “Umatku yang paling mulia ialah penghafal Al-Qur’an dan orang-orang yang bangun (beribadah) malam.” (HR. Baihaqy)
- Berlandaskan pada pesan KH Qosim Bukhori:
“Kalau diberikan rezeki anak perempuan, suruh menghafal Al-Qur’an saja di zaman sekarang biar lebih selamat.”
- Berlandaskan kepada nalar fenomena sosial:
Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan kebebasan tanpa batas melahirkan sikap, cara pandang dan perilaku yang kian menjauhkan kehidupan sebagian besar masyarakat dari nilai-nilai agama, melahirkan sendi-sendi religiutas generasi muda Islam mulai menampakkan gelagat semakin runtuh, sehingga tata nilai dan moralitas mereka tak lagi diukur dengan standar ajaran agama. Hal ini dapat dicermati dari pergaulan bebas yang melanda anak bangsa sudah mulai mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan kebanyakan orang tua.
Mengacu dari korelasi landasan normatif (transenden) dari ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad SAW, anjuran kiai Qosim Bukhori, lalu ditambah kekhawatiran pihak orang tua menghadapi fenomena globalisasi yang ditandai arus tsunami digitalisasi, maka semakin menegasikan bahwa belajar dan menghafal firman Allah SWT merupakan jangkar paling kuat di tengah-tengah badai informasi yang tak terbendung (information overload).
Tiga landasan inilah yang melatari kehadiran PPQ Al-Qosimi di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo. Sedangkan Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang dipercaya sebagai pedoman hidup setiap insan beriman, dipandang sebagai satu-satunya petunjuk kebenaran dan juru penyelamat dari setiap terpaan pendangkalan akidah dan dekadensi moral, dan diyakini sebagai filter mental di tengah gangguan (distraction) digital di masa sekarang. Melalui Al-Qur’an yang dihafalkan dan selanjutnya diamalkan, menjadikan lulusan PPQ Al-Qosimi bisa tetap menjunjung tinggi doktrin agama, tatakrama dan norma-norma di dalam kehidupan masyarakat global.
Identitas PPQ Al-Qosimi Putukrejo dapat diuraikan dalam tabel sebagai berikut:
| PROFIL PPQ AL-QOSIMI PUTUKREJO | |
| Aspek | Rincian Uraian |
| Akidah | Islam ‘ala Ahlussunnah Wal Jama’ah. |
| Azas | Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. |
| Sifat | Kekeluargaan, kemasyarakatan dan keagamaan. |
| Visi | Menghantar santri mampu membaca atau menghafal Al-Qur’an sesuai ilmu tajwid. |
| Misi | ü Mencetak santri mampu membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai ilmu tajwid.
ü Menciptakan santri sebagai penghafal Al-Qur’an. ü Menjadikan santri mampu mengajar dan membimbing dalam pembelajaran Al-Qur’an |
Adapun susunan struktur pengelola dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
| STRUKTUR PENGELOLA PPQ AL-QOSIMI PUTUKREJO | |
| Penasihat | Pengasuh dan Dewan Pengasuh PPRU 2 Putukrejo. |
| Pembina | Gus Muhammad Madarik. |
| Pengasuh (Musyrifah) | Ning Maria Ulfa. |
| Pelaksana Harian | Jajaran Pengurus. |
Sementara logo yang dimiliki PPQ Al-Qosimi Putukrejo secara filosofis dapat diuraikan sebagai berikut:
- Bingkai bertuliskan “Q” berarti kepanjangan dari nama “Qosim” yang bermakna bahwa asa dari eksistensi pesantren ini tetap berada dibawah naungan berkah kiai Qosim Bukhori.
- Kalimat berbahasa Arab “al-Ma’had al-Qur’ni Raudlatul Ulum al-Tsani” menandaskan bahwa pesantren ini tetap di dalam lingkungan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, baik dalam struktur kepengasuhan maupun dalam keorganisasian.
- Rekal/rehal atau meja kecil alat penyangga dengan tulisan di atasnya “al-Qur’an al-Karim” berarti mempertajam wujud pesantren ini sebagai wahana menghafal dan mendalami kitab suci.
- Kalimat “PPQ AL-QOSIMI MALANG” menunjukkan nama dan tempat domisili pesantren ini.
- Warna dasar putih menggambarkan esensi pesantren ini berpangkal pada kemurnian, kesucian, dan ketulusan.
Penulis: Muhammad Madarik (Staf Pengajar Universitas Al-Qolam Malang)




