NUMALANG.ID – Gerakan Pemuda Ansor Korwil II Kabupaten Malang kembali menggelar Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) di Masjid Jami’ Al Azhar Turen, Sabtu malam (09/05/2026). Mengusung tema “Reinterpretasi Konsep Khidmat dan Barokah dalam Ansor”, kegiatan ini dihadiri lebih dari 100 kader Ansor dari PAC Dampit, Ampelgading, Turen, dan Tirtoyudo.
Acara dimulai pukul 19.30 WIB dengan lantunan dzikir dan sholawat bersama yang dipimpin jajaran Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Turen. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa sejak awal kegiatan berlangsung.
Turut hadir Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang H. Fatkhurrozi, Ketua MDS RA Kabupaten Malang Muhammad Tholchah Al Fayyadl beserta jajaran, perwakilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Turen, serta para Ketua PAC GP Ansor se-Korwil II.
Dalam sambutannya, H. Fatkhurrozi menyampaikan apresiasi kepada tuan rumah yakni PAC GP Ansor Turen yang dinilai memiliki semangat berbeda dibanding PAC lainnya.
“Turen berbeda dari PAC yang lain. Mulai dari semangat menjaga nilai khidmat, nilai sosial, sampai nilai roda perekonomian,” ungkapnya disambut tepuk tangan para kader.
Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya ramai kegiatan, tetapi juga harus mampu hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Sementara itu, upgrading kader sekaligus mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. Rijal Mumazziq Zionis selaku Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur. Penyampaian materi berlangsung santai namun penuh pesan mendalam tentang mentalitas kader dan arah gerakan Ansor ke depan.
Dalam penyampaiannya, Dr. Rijal mengingatkan agar kader Ansor tidak mudah membandingkan diri dengan kader lainnya. Setiap kader memiliki jalan perjuangan, proses, dan kapasitas masing-masing.
Selain itu, kader juga diminta untuk tidak gampang terbawa perasaan saat menghadapi dinamika organisasi. Sebab organisasi membutuhkan kedewasaan dalam berpikir maupun bersikap.
“Tempatkan personal kader pada tempatnya. Jangan semua persoalan dibawa ke hati,” pesannya.
Dr. Rijal juga menjelaskan bahwa khidmat merupakan pondasi utama dalam organisasi. Dari khidmat akan lahir harokah atau gerakan, dan dari gerakan itulah nantinya muncul barokah.
Pesan lain yang cukup menarik perhatian peserta adalah pentingnya regenerasi di tubuh Ansor. Menurutnya, kaderisasi memang penting, namun regenerasi jauh lebih penting agar organisasi terus berjalan dan tidak berhenti pada satu generasi saja.
“Organisasi dikatakan aktif bukan karena banyak acaranya, tetapi ketika keberadaannya benar-benar berdampak secara sosial,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung khidmat hingga akhir acara. Para kader mengikuti seluruh rangkaian dengan antusias, mulai dari dzikir dan sholawat, upgrading kader, hingga doa bersama sebagai bentuk penguatan spiritual dan pengabdian terhadap Nahdlatul Ulama.
Penulis : Ali Rofik




