NUMalang — Kebersamaan di pesantren layak disebut sebagai “sekolah hidup paling jujur”, sebuah istilah yang bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang hidup di banyak pesantren di Kabupaten Malang. Di ruang-ruang sederhana itu, kehidupan berjalan apa adanya tanpa polesan, tanpa kepura-puraan. Para santri ditempa oleh rutinitas yang padat dan kolektif, mulai dari bangun sebelum subuh, antre mandi, belajar di kelas, hingga beristirahat di malam hari. Ritme harian ini tidak hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga menumbuhkan ikatan emosional yang kuat antarsantri, menjadikan kebersamaan sebagai fondasi utama dalam proses pembentukan karakter.
Namun, kebersamaan di pesantren bukan tanpa dinamika. Santri datang dari latar belakang yang beragam budaya, kebiasaan, hingga kondisi ekonomi yang kerap melahirkan perbedaan, bahkan gesekan kecil. Di titik inilah pesantren memainkan perannya sebagai ruang belajar sosial yang nyata. Toleransi tidak diajarkan lewat teori semata, melainkan dipraktikkan dalam keseharian. Konflik menjadi bagian dari proses pendewasaan, melatih santri untuk saling memahami, menghargai, dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang bijak.
Lebih jauh, kebersamaan itu melahirkan empati yang tumbuh secara organik. Ketika ada santri yang sakit, yang lain sigap membantu; saat ada yang kesulitan belajar, teman sebaya menjadi tempat bertanya pertama. Bahkan hal-hal sederhana seperti berbagi makanan kiriman dari rumah atau saling menguatkan saat rindu keluarga, menjelma menjadi momen berharga yang membekas dalam ingatan. Dalam keterbatasan fasilitas yang kerap ditemui di pesantren-pesantren Kabupaten Malang, justru solidaritas menemukan ruang tumbuhnya. Keterbatasan tidak memecah, melainkan merekatkan.
Tentu, kehidupan pesantren tidak selalu mudah. Rasa lelah, jenuh, hingga rindu rumah adalah bagian dari realitas yang tak terelakkan. Namun, dari situlah santri belajar tentang kesabaran, kemandirian, dan ketangguhan menghadapi situasi. Pada akhirnya, kebersamaan di pesantren bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi tentang tumbuh bersama, saling menguatkan, dan menempa diri menjadi pribadi yang lebih matang. Di sanalah pesantren menemukan maknanya sebagai “sekolah hidup paling jujur” tempat di mana pelajaran tidak hanya diajarkan, tetapi dijalani sepenuhnya.
Penulis : Nailul Mazidah (Prodi PPKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)




