NUMALANG.ID – Di banyak wilayah Indonesia, kenyang sering kali disalahartikan sebagai sehat.
Selama nasi masih mengepul di atas meja, persoalan dianggap selesai. Perut terisi, hari berjalan, hidup dianggap baik-baik saja. Namun, di balik piring yang tampak penuh itu, ada krisis yang bekerja diam-diam: tubuh yang kekurangan zat gizi penting, otak yang tumbuh tanpa nutrisi memadai, dan generasi yang dibesarkan dalam “lapar tersembunyi”.
Ironi? Ya saya nyatakan ini Adalah ironi.
Inilah wajah lain dari kemiskinan pangan di Indonesia. Bukan hanya soal tidak adanya makanan, tetapi makanan yang ada belum tentu memberi kehidupan yang layak.
Di wilayah rentan rawan pangan desa terpencil, daerah pascabencana, kawasan miskin urban, hingga wilayah dengan akses distribusi terbatas, masyarakat sering kali tetap bisa makan, tetapi tidak benar-benar mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Dan lebih Ironisnya, masalah ini sering tidak terlihat.
Anak-anak masih bermain, sekolah tetap berjalan, keluarga masih memasak nasi setiap hari. Namun di saat yang sama, tubuh mereka kekurangan zat besi, vitamin A, zinc, dan mikronutrien penting lain yang menjadi fondasi tumbuh kembang.
Di titik inilah kita harus berani mengakui satu hal: Indonesia belum selesai dengan persoalan gizi.
Menurut UNICEF Indonesia, negara ini masih menghadapi triple burden of malnutrition, yakni kurang gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan mikronutrien secara bersamaan. Bahkan lebih dari 4,5 juta anak balita masih mengalami stunting, sementara anemia pada ibu hamil dan remaja putri masih menjadi masalah serius. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerita tentang masa depan yang terhambat.
Lapar yang Tidak Terlihat
Masalah gizi di Indonesia sering terlalu lama dibaca secara dangkal. Selama angka produksi beras naik, kita merasa aman. Selama stok pangan nasional cukup, kita menganggap persoalan selesai. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Dan kita lihat Bersama ada jutaan anak yang tidak lapar secara kasat mata, tetapi tubuhnya sedang mengalami hidden hunger (kelaparan tersembunyi).
Mereka makan cukup untuk bertahan hidup, tetapi tidak cukup untuk tumbuh optimal.
Tubuh mungkin tidak kurus ekstrem, tetapi kemampuan kognitif bisa terganggu. Konsentrasi belajar menurun. Daya tahan tubuh melemah. Dalam jangka panjang, produktivitas generasi pun ikut terkikis.
UNICEF mencatat bahwa stunting di Indonesia masih menjadi bentuk kurang gizi yang paling dominan dan berdampak pada perkembangan kognitif serta risiko penyakit kronis di masa depan.
Di sinilah negara tidak boleh hanya sibuk menghitung tonase beras. Yang harus dihitung adalah kualitas hidup.
Pangan Fortifikasi: Solusi Realistis, Bukan Sekadar Wacana
Di tengah kompleksitas masalah ini, pangan fortifikasi hadir sebagai salah satu pendekatan paling rasional. Fortifikasi berarti penambahan zat gizi mikro ke bahan pangan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.
Contohnya: garam beryodium, minyak goreng dengan vitamin A, tepung terigu dengan zat besi dan asam folat, beras fortifikasi.
Keunggulan pendekatan ini justru ada pada kesederhanaannya. Masyarakat tidak perlu mengubah pola makan secara drastis. Tidak perlu membeli makanan mahal. Tidak perlu menunggu edukasi perilaku yang memakan waktu panjang. Mereka tetap makan seperti biasa, tetapi kualitas gizinya meningkat.
Dalam konteks wilayah rawan pangan, ini adalah strategi yang sangat masuk akal. Karena masalah di lapangan sering bukan kurangnya kesadaran saja, tetapi keterbatasan akses dan daya beli.
Namun, Jangan Jadikan Fortifikasi sebagai Tambal Sulam
Meski demikian, kita juga harus jujur dan kritis. Pangan fortifikasi bukan solusi ajaib. Perkara ini sangat penting, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya jawaban.
Sebab akar masalah kurang gizi di wilayah rentan jauh lebih dalam. Kemiskinan, sanitasi buruk, akses air bersih, pendidikan ibu, layanan kesehatan yang timpang, hingga distribusi pangan yang tidak merata tetap menjadi persoalan utama.
UNICEF juga menegaskan bahwa deprivasi gizi diperparah oleh kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, infrastruktur yang lemah, serta faktor lingkungan dan bencana alam. Jika akar ini tidak disentuh, fortifikasi hanya menjadi semacam “make up kebijakan”. Permukaan terlihat lebih baik, tetapi luka di dalam tetap terbuka.
Inilah kritik yang perlu ditegaskan. Kebijakan gizi kita jangan berhenti pada slogan populis seperti makan bergizi atau anti stunting, tetapi harus berani masuk pada pembenahan sistem pangan secara menyeluruh.
Wilayah Rentan Selalu Menjadi yang Terakhir
Ada ironi yang sering berulang. Wilayah yang paling membutuhkan justru sering menjadi yang paling akhir mendapatkan perhatian. Kota lebih dulu kenyang program. Desa lebih dulu kenyang janji.
Saat harga pangan naik, wilayah pinggiran yang paling dulu terdampak. Saat distribusi logistik terganggu, daerah terpencil yang paling dulu kosong. Saat bencana datang, anak-anak di wilayah rentan yang paling dulu masuk kategori kurang gizi.
Karena itu, pangan fortifikasi harus ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan perlindungan sosial. Bayangkan jika bantuan pangan pemerintah tidak lagi hanya berisi beras biasa, tetapi beras yang telah diperkaya zat besi dan zinc.
Itu bukan sekadar bantuan, Itu investasi masa depan.
Bangsa Tidak Bisa Dibangun Hanya dengan Perut Kenyang
Kita terlalu lama romantis pada kata “kenyang”. Padahal bangsa tidak dibangun oleh perut yang sekadar terisi. Bangsa dibangun oleh anak-anak yang tumbuh sehat, mampu berpikir jernih, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kekurangan gizi adalah bentuk ketidakadilan yang paling sunyi. Ia tidak selalu gaduh seperti krisis ekonomi, tetapi dampaknya jauh lebih panjang. Anak yang hari ini kekurangan mikronutrien bisa menjadi generasi yang besok kehilangan potensi.
Maka, pangan fortifikasi bukan hanya soal kebijakan pangan. Dan Menurut Saya harus menjadi kebijakan masa depan.
Karena di wilayah rentan, satu butir nasi yang lebih bergizi bisa berarti satu langkah lebih dekat menuju generasi yang lebih kuat.
Penulis : Ali Rofik/NU MALANG ID




