NUMalang — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI), Universitas Al-Qolam Malang (UQM) menggelar Simposium dan Diskusi Ilmiah bertajuk “Erosi Epistemik: Tantangan Otoritas Keilmuan Menghadapi Dominasi Artificial Intelligence (AI)”, Selasa (13/1/2026), di Meeting Room Rektorat UQM.
Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, sebagai narasumber utama. Hadir pula jajaran pimpinan universitas, mulai Wakil Rektor, para Dekan dan Wakil Dekan, dosen UQM, serta mahasiswa Program Doktoral PAI-BSI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mempertemukan perspektif akademik dan tradisi pesantren.
Dalam paparannya, Prof. Barizi mengingatkan adanya pergeseran otoritas keilmuan di era digital. Menurutnya, AI yang bekerja berbasis data dan algoritma berpotensi mereduksi cara manusia memaknai kebenaran. Pengetahuan tidak lagi semata diukur dari kedalaman dan keabsahan sumber, tetapi kerap ditentukan oleh popularitas dan kecepatan sebaran informasi.
“Di sinilah kita perlu waspada. Ketika kebenaran ditentukan oleh apa yang viral, maka otoritas keilmuan perlahan bisa terkikis,” ujarnya.
Ia juga mengutip kritik pemikir Muslim, Seyyed Hossein Nasr, tentang bahaya ketergantungan berlebihan pada teknologi. Prof. Barizi menilai dominasi AI tanpa kendali nilai dapat melahirkan keterbelahan kepribadian dan integritas manusia, karena dimensi etika dan spiritual tidak lagi menjadi rujukan utama.
Sebagai tawaran solusi, Prof. Barizi menempatkan tasawuf sebagai penyangga penting di tengah kemajuan teknologi. Ia menegaskan tasawuf bukan sikap menjauh dari dunia modern, melainkan jalan menjaga kesadaran dan kejernihan batin.
“Tradisi tasawuf memiliki sistem sanad dan etika keilmuan yang jelas. Ini penting agar teknologi tetap menjadi alat bantu manusia, bukan justru mengambil alih peran kemanusiaan,” jelasnya.
Menurutnya, dimensi metafisika dalam tasawuf merupakan kekuatan batin yang tidak bisa ditiru oleh kecerdasan buatan. Di sinilah nilai-nilai pesantren memiliki relevansi kuat untuk merespons tantangan zaman.
Menutup pemaparan, Prof. Barizi mendorong Universitas Al-Qolam Malang agar terus mengambil peran strategis dalam merumuskan kerangka epistemik yang kokoh dan berakar pada tradisi pesantren. Visi “Transformatif Berbasis Pesantren” dinilai penting sebagai pijakan dalam menjaga otoritas keilmuan di tengah arus teknologi global.
Simposium ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Antusiasme peserta mencerminkan kesadaran sivitas akademika UQM untuk menyikapi perkembangan teknologi secara kritis, bijaksana, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keilmuan pesantren.
Kontributor: Muh. Wafiq




