back to top
Senin, April 6, 2026

Ritual Pembaitan di Tirtoyudo: Antara Tradisi, Disiplin, dan Arah Baru PAGAR NUSA Kabupaten Malang

NUMALANG.ID – Sabtu (04/04/26) baru saja menapak pukul 19.30 WIB ketika Balai Desa Purwodadi berubah menjadi ruang pengabdian. Ratusan santri memenuhi lokasi, bukan sekadar hadir, tetapi membawa semangat yang terjaga: berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama dan menguatkan barisan melalui PAGAR NUSA.

Diselenggarakan oleh PAC dan Ranting PAGAR NUSA Desa Purwodadi, kegiatan pembaitan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simpul penting antara tradisi, disiplin, dan arah gerak organisasi di tingkat akar rumput. Antusiasme peserta termasuk dukungan nyata dari para orang tua menjadi penanda bahwa nilai-nilai yang diusung PAGAR NUSA masih hidup dan terus menemukan relevansinya.

Ketua PC PAGAR NUSA Kabupaten Malang, Gus Saiful Anam, menegaskan bahwa organisasi ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia memikul mandat ideologis yang tidak ringan.

“PAGAR NUSA punya tugas esensial, yaitu mempertahankan faham Ahlussunah wal Jamaah melalui strategi budaya, salah satunya pencak silat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan pencak silat bukan semata seni bela diri, melainkan instrumen kebudayaan medium dakwah yang mengakar dan membumi. Di titik ini, pembaitan menjadi lebih dari sekadar ikrar; ia adalah internalisasi nilai.

Prosesi pembaitan sendiri dipimpin langsung oleh KH Romli Muar. Dengan khidmat, satu per satu anggota menerima baiat, menandai kesediaan mereka untuk tunduk pada disiplin organisasi sekaligus setia pada garis perjuangan.

Di tingkat lokal, Ketua Ranting PAGAR NUSA Desa Purwodadi, Ghorif Efendi, melihat momentum ini sebagai penguatan basis kader. Menurutnya, semangat santri yang hadir mencerminkan kesiapan generasi muda untuk menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Dukungan juga datang dari unsur pemerintah desa. Sekretaris Desa Purwodadi, Hermawan, menegaskan komitmen penuh pemerintah desa terhadap kegiatan keagamaan dan kepemudaan yang konstruktif. Hal senada disampaikan Ketua Tanfidziyah PRNU Desa Purwodadi, H. Suwanto, yang menilai pembaitan sebagai bagian dari kesinambungan tradisi ke-NU-an di tingkat desa.

Lebih dari itu, yang mengemuka dari kegiatan ini adalah energi kolektif antusiasme anggota dan orang tua yang tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pengabdian. Mereka memahami bahwa PAGAR NUSA bukan sekadar organisasi, melainkan jalan panjang pembentukan karakter dan loyalitas.

Di Purwodadi, pembaitan malam itu menjadi penegasan sederhana namun mendalam: bahwa tradisi tetap hidup ketika dijaga bersama, dan arah baru organisasi hanya mungkin terwujud ketika akar-akar kulturalnya tetap kokoh.

Kontributor : Saiful Anam/PAGAR NUSA

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan