back to top
Rabu, Februari 25, 2026

Bahagia Menyambut Ramadhan, Bijak Mengelola Tradisi

NUMalang.id — Setiap kali Ramadhan mendekat, ada getar kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Umat Islam merasakan kerinduan yang sama: kembali pada ruang-ruang spiritual yang mungkin selama sebelas bulan terasa menjauh. Ramadhan selalu dipahami sebagai momentum perbaikan diribulan ibadah, bulan pengendalian diri, sekaligus bulan penyucian hati.

Namun, di tengah kegembiraan itu, ada realitas sosial yang tidak bisa diabaikan. Datangnya Ramadhan sering kali identik dengan meningkatnya pengeluaran keluarga. Harga kebutuhan pokok naik, daftar belanja bertambah panjang, dan berbagai tradisi sosial mulai dipersiapkan. Megengan, berbagi hidangan, ater-ater atau weweh menjelang Idulfitri, persiapan pakaian baru, hingga uang saku anak-anak saat lebaran semuanya membutuhkan biaya dan perencanaan.

Tradisi-tradisi tersebut sejatinya lahir dari nilai luhur: sedekah, silaturahmi, dan kepedulian sosial. Di kalangan masyarakat Nahdliyin, budaya berbagi makanan dan mempererat relasi menjelang Ramadhan maupun Idulfitri adalah bentuk keberagamaan yang membumi. Islam hadir menyatu dengan budaya, selama tidak bertentangan dengan syariat.

Persoalan muncul ketika tradisi bergeser dari nilai menjadi tekanan sosial. Ketika berbagi tak lagi dimaknai sebagai keikhlasan, melainkan kewajiban tak tertulis. Ketika standar sosial memaksa seseorang melakukan sesuatu di luar kemampuan hanya demi menjaga gengsi atau penilaian lingkungan. Di titik inilah kebahagiaan menyambut Ramadhan perlahan berubah menjadi kecemasan.

Padahal, secara substansi, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa, bukan untuk meningkatkan konsumsi. Islam menegaskan prinsip keseimbangan dan melarang sikap berlebih-lebihan. Kesalehan tidak diukur dari mewahnya sajian berbuka atau meriahnya perayaan hari raya, melainkan dari ketulusan niat dan kualitas ibadah.

Karena itu, tradisi perlu ditempatkan secara proporsional. Megengan dapat dijalankan tanpa menjadi ajang kompetisi hidangan. Ater-ater bisa dilakukan sesuai kemampuan tanpa rasa terpaksa. Pakaian lebaran tidak harus baru selama bersih dan pantas. Uang saku anak-anak bukan soal besar nominalnya, melainkan tentang kebahagiaan sederhana yang tercipta.

Dalam prinsip Ahlussunnah wal Jamaah dikenal nilai tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (proporsional). Nilai-nilai ini sangat relevan dalam menyikapi dinamika sosial menjelang Ramadhan. Tradisi tetap dirawat sebagai sarana memperkuat ukhuwah, tetapi tidak boleh melampaui batas kemampuan keluarga.

Ramadhan semestinya menghadirkan ketenangan, bukan tekanan finansial. Jika beban ekonomi lebih mendominasi pikiran daripada persiapan spiritual, mungkin ada yang perlu diluruskan dalam cara kita memaknai kebiasaan.

Di tengah masyarakat yang semakin konsumtif, kesederhanaan justru menjadi sikap yang revolusioner. Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri tempat kita belajar menahan, bukan meluaskan keinginan. Ia bukan panggung gaya hidup, melainkan ruang latihan keikhlasan.

Pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan tidak ditentukan oleh seberapa besar pengeluaran yang dihabiskan, tetapi oleh seberapa dalam perubahan yang dirasakan. Yang seharusnya menjadi baru di hari raya bukanlah pakaian yang dikenakan, melainkan hati yang kembali bersih.

Marhaban ya Syahru Ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H.

Penulis: Khusnul Fatimah, M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia — MTs Hasyim Asy’ari Kota Batu — PC Fatayat NU Kota Batu)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan