Pakisaji, NUMalang.id — Masjid Baitul Hikmah di Jalan Raya Dusun Cerme, Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, menjadi pusat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-55 Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU), Senin (9/2/2026). Momentum ini dirangkai dengan peringatan satu abad Nahdlatul Ulama versi Masehi serta persiapan menyambut Ramadhan 1447 Hijriah.
Kegiatan tersebut diikuti jajaran takmir masjid, pengurus NU setempat, serta jamaah dan warga sekitar. Peringatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi ruang konsolidasi untuk meneguhkan kembali peran masjid NU sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pelayanan umat yang berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah di tingkat desa.
Ketua PC LTM NU Kabupaten Malang, KH Maman S. Abdul Karim, hadir sebagai pengisi utama. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Pengurus MWC NU Kecamatan Pakisaji dan Takmir Masjid Baitul Hikmah yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia juga menegaskan posisi strategis masjid dalam sejarah dan struktur organisasi NU.
Menurut dia, Dewan Masjid Indonesia (DMI) memiliki keterkaitan historis dengan NU. “Yang mendirikan DMI adalah NU. DMI itu aset NU. DMI tidak memiliki masjid, yang memiliki masjid adalah NU melalui LTM NU,” ujarnya.
KH Maman menyebutkan, secara kuantitatif, jumlah masjid NU di Kabupaten Malang menjadi yang terbanyak di Jawa Timur, yakni sekitar 2.631 masjid. Data tersebut, menurut dia, menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab dalam pengelolaan dan pemberdayaan masjid.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memperkuat dua pilar utama masjid NU, yakni quwwatul ‘amaliyah dan quwwatul maliyah. Penguatan amaliyah diwujudkan dengan menjaga tradisi ke-NU-an di masjid, seperti wiridan, pujian setelah adzan, serta praktik khutbah sesuai tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Adapun penguatan maliyah dilakukan melalui penataan aset dan penguatan legalitas, termasuk sertifikasi tanah masjid berbadan hukum NU.
“Di momentum Harlah LTM NU ini, mari kita jaga dan rawat masjid-masjid NU dengan dua amaliyah tersebut agar masjid semakin kuat dan berdaya,” kata dia, seraya mengingatkan bahwa kemakmuran masjid sangat bergantung pada peran aktif takmir.
Di sisi lain, PC LTM NU Kabupaten Malang juga melakukan langkah penguatan kapasitas kelembagaan melalui studi tiru ke Masjid Moedhar Arifin, Sidayu, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini bertujuan mendorong tata kelola masjid berbasis manajemen modern dan digitalisasi.
Dalam kunjungan tersebut, jajaran pengurus mempelajari sistem manajemen masjid terintegrasi, mulai dari pendataan jamaah, transparansi laporan keuangan digital, hingga pemanfaatan media sosial dan platform daring untuk dakwah dan publikasi kegiatan. Pengelola Masjid Moedhar Arifin juga berbagi pengalaman mengenai penerapan sistem digital untuk meningkatkan efisiensi kerja takmir sekaligus memperluas keterlibatan generasi muda.
Selain itu, rombongan turut bersilaturahmi ke Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kabupaten Gresik guna mendalami tata kelola organisasi dan pola pembinaan masjid yang berkelanjutan. Melalui studi banding tersebut, LTM NU Kabupaten Malang berharap transformasi manajemen dan digitalisasi masjid di lingkungan NU dapat berjalan lebih profesional, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Kontributor: Roihan Rikza




