NUMalang — Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, khidmah bukan sekadar keterlibatan struktural atau aktivitas organisasi. Ia adalah jalan pengabdian yang berakar pada kemurnian niat, keteguhan batin, serta kesediaan menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan pribadi. Khidmah tidak bekerja dengan logika transaksi, melainkan dengan keyakinan akan keberkahan.
Karena itu, berkhidmahlah kepada NU dan Pagar Nusa tanpa menjadikan hasil sebagai tujuan utama. Sebab dalam khidmah, hasil hanyalah konsekuensibukan orientasi. Ia boleh datang, tetapi tidak boleh menjadi pusat kesadaran.
Di sinilah letak ujian perjuangan. Dalam dinamika organisasi, tidak jarang pengabdian diuji oleh niat yang samar. Ada yang tampak aktif, hadir di banyak ruang, dan lantang mengatasnamakan NU atau Pagar Nusa, tetapi tanpa disadari perjuangannya mulai bergeser dari jam’iyyah menuju kepentingan personal atau kelompok kecil.
Pada titik ini, khidmah berisiko kehilangan ruhnya. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pendidikan jiwa bisa berubah menjadi arena kompetisi pengaruh. Padahal NU sejak awal didirikan bukan untuk membesarkan individu, melainkan untuk menjaga sanad keilmuan, merawat tradisi keagamaan, menegakkan maslahat sosial, dan mengokohkan nilai kebangsaan.
Begitu pula Pagar Nusa. Ia tidak hanya mendidik ketangkasan fisik, tetapi membentuk karakter: disiplin, kesetiaan, dan pengendalian diri. Kekuatan sejati yang diajarkan bukanlah menundukkan orang lain, melainkan menaklukkan ego yang kerap bersembunyi di balik simbol dan atribut organisasi.
Musuh paling berbahaya dalam perjuangan bukan selalu datang dari luar. Ia justru sering hadir dari dalam diri: keinginan diakui, hasrat dihormati, dorongan untuk menang sendiri, atau ambisi menguasai ruang-ruang organisasi. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai fitnah amal—ketika amal tampak mulia, tetapi niatnya mulai condong pada orientasi duniawi.
Karena itu, pesan moral bagi kader NU dan santri Pagar Nusa adalah kesediaan untuk tidak menggantungkan khidmah pada hasil. Bukan berarti menolak prestasi atau memusuhi kemajuan, tetapi menolak menjadikan capaian sebagai pusat orientasi batin.
Khidmah sejati bukan tentang “apa yang saya dapatkan”, melainkan tentang “apa yang harus saya tunaikan”. Menjaga adab, merawat barisan, setia kepada guru dan jam’iyyah, serta bekerja meski tanpa sorotan.
Jika kelak amanah datang berupa jabatan atau penghargaan, terimalah sebagai tanggung jawab, bukan kemenangan. Dan jika tidak mendapatkan apa pun, jangan merasa rugi. Sebab sering kali khidmah yang paling murni justru lahir dari kesunyian.
Di sanalah NU mendidik kedewasaan ruhani: bahwa amal tidak selalu dinilai oleh manusia, tetapi selalu ditimbang oleh Allah.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling keras berbicara tentang perjuangan, melainkan siapa yang paling istiqamah dalam pengabdian.
Khidmah memang sunyi.
Namun justru dalam kesunyian itulah nilai amal menjadi tinggi.
Penulis: Saiful Anam




