back to top
Kamis, Februari 12, 2026

Catatan Kader Pinggiran: Antara Percaya Barokah atau Fokus Biaya Hidup Keluarga

Saya adalah kader muda Nahdlatul Ulama. Saya memilih berkhidmat di dunia pers dan digital ruang yang hari ini menjadi medan dakwah baru, tempat narasi dipertarungkan, dan nilai-nilai diuji oleh algoritma.

Saya percaya tulisan adalah perjuangan. Saya percaya konten yang jernih adalah bagian dari amar ma’ruf. Saya percaya bahwa khidmah tidak selalu harus berdiri di mimbar; ia bisa hadir dalam artikel, video, opini, dan advokasi digital. Tetapi belakangan, saya mulai goyah.

Bukan karena saya kehilangan iman. Bukan karena saya lelah mencintai organisasi. Melainkan karena realitas ekonomi keluarga mengetuk dengan suara yang lebih keras daripada idealisme. Saya hidup di antara dua keyakinan: percaya pada barokah, atau percaya pada kalkulasi rasional dunia kerja.

Dalam tradisi yang saya pelajari, para masyayikh selalu menanamkan bahwa khidmah menghadirkan keberkahan. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya niat yang lurus dalam berjuang. KH. Ahmad Siddiq berbicara tentang keseimbangan antara keislaman dan kebangsaan, antara nilai dan realitas. Gus Dur bahkan menunjukkan bahwa berkhidmat tidak berarti menutup mata terhadap profesionalisme; ia justru mengajarkan keberanian berpikir dan berdiri mandiri.

Namun ketika kebutuhan keluarga semakin mendesak, saya mulai bertanya dalam diam: apakah barokah cukup untuk membayar kebutuhan hidup? Apakah khidmah harus selalu identik dengan pengorbanan finansial?

Ambiguitas ini menggerogoti semangat saya. Di satu sisi, saya tidak ingin perjuangan ini berhenti hanya karena uang. Di sisi lain, saya tidak ingin keluarga saya menanggung konsekuensi dari idealisme saya.

Gus Dur pernah mengajarkan bahwa tradisi harus dirawat dengan akal sehat. Artinya, perjuangan di dunia digital juga harus dibarengi dengan kecakapan manajerial, literasi ekonomi, dan keberanian berinovasi. Dunia pers tidak cukup hanya dengan semangat; ia memerlukan model keberlanjutan. Jika tidak, kader muda seperti saya akan terus berada di persimpangan yang melelahkan.

Saya mulai melihat bahwa solusi dari ambiguitas ini bukan memilih salah satu, melainkan merumuskan sintesis:

Pertama, saya perlu menguatkan kompetensi profesional. Khidmah di dunia digital harus dikelola secara serius membangun jaringan, meningkatkan kualitas karya, dan mencari model monetisasi yang etis tanpa mengorbankan nilai.

Kedua, organisasi dan ekosistem kaderisasi perlu memikirkan keberlanjutan kader muda. Idealisme tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri tanpa dukungan struktural.

Ketiga, saya sendiri harus jujur bahwa membantu keluarga adalah bagian dari tanggung jawab moral. Dalam Islam, menafkahi keluarga adalah kewajiban, bukan opsi. Maka mencari stabilitas ekonomi bukan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan, melainkan bagian dari ibadah.

Ambiguitas saya belum sepenuhnya selesai. Saya masih belajar berdamai dengan keadaan. Namun hari ini saya mulai memahami: barokah tidak meniadakan strategi, dan profesionalitas tidak meniadakan nilai. Saya tidak ingin berhenti berkhidmat. Saya hanya ingin berkhidmat dengan cara yang lebih matang.

Mungkin inilah fase kedewasaan seorang kader muda: ketika ia tidak lagi memandang perjuangan sebagai romantika pengorbanan semata, tetapi sebagai tanggung jawab yang harus dikelola dengan akal, hati, dan keberanian.

Dan saya percaya, jika niat tetap lurus dan ikhtiar diperbaiki, barokah tidak akan hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan dalam bentuk yang lebih dewasa.

Penulis : Ali Rofik/LTNNU

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan