numalang.id — Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama bukan semata peristiwa seremonial, melainkan momentum peneguhan etika keber-NU-an: relasi antara sanad keilmuan, kepemimpinan kiai, dan disiplin jam’iyah. Dalam konteks inilah, Pagar Nusa Malang Raya memposisikan diri bukan sekadar sebagai unsur pengaman massa, tetapi sebagai subjek khidmah dalam struktur peradaban NU.
Kesadaran tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi dan interaksi Pagar Nusa Malang Raya yang digelar di Kantor PCNU Kota Malang, Jalan Hasyim Asy’ari No. 21, Jumat (30/1) pukul 16.00 WIB. Forum ini menjadi ruang artikulasi ideologis tentang bagaimana Banom NU membaca makna satu abad perjalanan jam’iyah terbesar di Indonesia.
Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang sekaligus Koordinator Pagar Nusa Malang Raya, Gus Saiful Anam, menegaskan bahwa kehadiran Pagar Nusa dalam Harlah 1 Abad NU harus dipahami sebagai tindakan etis, bukan instruksi administratif semata.
“Khidmah kepada Nahdlatul Ulama adalah kewajiban moral dan ideologis. Maka kehadiran Pagar Nusa di Harlah Satu Abad NU bukan pilihan, melainkan konsekuensi logis dari keberadaan kami sebagai Banom NU,” ujarnya.
Dalam perspektif NU, lanjut Gus Saiful, slogan nderek kiai nganti mati bukan ungkapan emosional, melainkan prinsip epistemologis dan etis yang mengikat santri pada otoritas keilmuan dan kebijaksanaan kiai.
“Ketaatan kepada kiai harus diimplementasikan secara komprehensif: taat secara struktural, sadar secara ideologis, dan disiplin secara praksis. Di situlah marwah Pagar Nusa dijaga,” katanya.
Sikap tersebut dipertegas oleh Sekretaris PC Pagar Nusa Kota Malang, M. Lutfi Zakaria, yang memandang Resolusi 1 Abad NU sebagai ajakan untuk merefleksikan ulang arah gerak Banom NU di tengah dinamika zaman.
“Memajukan Pagar Nusa berarti memperdalam khidmah kepada kiai-kiai NU. Sebab dari merekalah mengalir sanad keilmuan, etika perjuangan, dan orientasi kebangsaan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Pagar Nusa Kota Batu, Sasmito, S.Pd, menempatkan posisi Banom NU dalam kerangka sami’na wa atha’na sebagai bentuk kedewasaan organisasi.
“Kepatuhan kepada kiai NU bukan penghapusan nalar, tetapi pengakuan terhadap otoritas moral yang telah teruji oleh sejarah,” tuturnya.
Dengan kesiapan ribuan santri untuk hadir dan berkhidmah di Stadion Gajayana, Pagar Nusa Malang Raya menegaskan bahwa kekuatan NU tidak semata terletak pada jumlah massa, melainkan pada kesadaran kolektif untuk tunduk pada nilai, sanad, dan kepemimpinan ulama. Di titik itulah, satu abad NU menemukan maknanya: kontinuitas tradisi yang dijaga oleh barisan yang setia.
Kontributor: Saiful Anam/PC Pagar Nusa Malang




