back to top
Jumat, Februari 6, 2026

Merawat Warisan Ulama, LESBUMI PCNU Kabupaten Malang Gelar Pameran Turats

NUMalang.id — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Kabupaten Malang menggelar Pameran Turats (manuskrip klasik ulama) pada Sabtu, (24/01/2026), bertempat di Pondok Pesantren Bungkuk, Singosari, Kabupaten Malang.

Pameran ini menampilkan manuskrip karya ulama kharismatik pendiri NU, Kyai Muhammad Thohir, yang dikenal luas sebagai Mbah Thohir Bungkuk Singosari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Ziarah Muassis NU sekaligus Kick Off Satu Abad NU PWNU Jawa Timur Zona V Malang, bersama tokoh muassis lainnya, yakni KH Masykur (Pahlawan Nasional) dan KH Tholhah Hasan.

Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Malang, Abdul Aziz Syafi’i, menjelaskan bahwa pameran ini bertujuan menghadirkan kembali khazanah keilmuan Islam Nusantara melalui warisan manuskrip ulama pesantren.

Dalam tradisi pesantren, turats dimaknai sebagai warisan intelektual Islam berupa kitab-kitab klasik yang ditulis ulama sejak abad ke-8 hingga abad ke-20. Pada pameran ini, sejumlah manuskrip karya langsung Kyai Muhammad Thohir dipamerkan, antara lain kitab Tafsir Jalalain, kitab tauhid, Aqidatul Awam, kitab fikih, falak dan astronomi, mujarobat, hingga kitab pengobatan tradisional (pertabiban atau suwuk dalam istilah Jawa).

Menariknya, keberagaman disiplin ilmu dalam karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Kyai Muhammad Thohir tidak hanya berperan sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai tabib yang melayani kebutuhan spiritual dan kesehatan masyarakat pada masanya.

Selain manuskrip keilmuan, LESBUMI juga menampilkan kitab sanad Thariqah Naqsyabandiyah yang diamalkan oleh Kyai Muhammad Thohir. Thariqah ini merupakan salah satu aliran tasawuf terbesar yang didirikan oleh Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi pada abad ke-14 M, yang sanadnya diperoleh Kyai Muhammad Thohir saat menimba ilmu di Pesantren Sidoarjo.

Pameran ini menampilkan manuskrip karya ulama kharismatik pendiri NU, Kyai Muhammad Thohir, yang dikenal luas sebagai Mbah Thohir Bungkuk Singosari. (Foto: numalang.id)

Selain manuskrip keilmuan, LESBUMI juga menampilkan kitab Tafsir Jalalain yang beliau tulis dengan kertas berhologram tertera tahun 1870 M, ketika mondok di pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, kemudian kitab sanad thoriqot Kyai Muhammad Thohir sebagai pengamal sekaligus mursyid thoriqot Naqsabandiyah Mujajadiyah Kholidiyah yakni thoriqot aliran tasawuf “sufi” terbesar yang didirkan oleh Seykh Bahauddin al-Bukhori an-Naqsabandi kurang lebih abad 14 M.

Sementara itu, buku karya kyai Ngabei Agus Sunyoto (Lesbumi PBNU, 2015-2021) juga menghiasi gelar pameran dalam acara ini. Seperti; Fatwa Resolusi Jihad, Pu Gajah Mada jilid I dan jilid II. Buku lainnya juga di pamerkan seperti  Guide Book Lesbumi dan Dalil Amaliyah NU karya Lesbumi rilis saat menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025.

“Turats bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sumber inspirasi dan rujukan penting dalam menjawab persoalan keumatan. Manuskrip ini menyimpan nilai keilmuan, spiritualitas, dan kebudayaan yang sangat berharga,” ujar Abdul Aziz Syafi’i.

Ia berharap pameran ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pintu masuk kajian akademik dan keilmuan yang lebih mendalam.

“Kami berharap para santri, akademisi, dan penggerak NU yang memiliki kapasitas di bidang manuskrip dan turats dapat bekerja sama untuk mengkaji, membedah, dan menghidupkan kembali warisan keilmuan ini agar menjadi amal jariyah ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Melalui pameran turats ini, LESBUMI PCNU Kabupaten Malang menegaskan komitmennya untuk menjaga, merawat, dan mengaktualisasikan warisan intelektual ulama NU sebagai bagian dari penguatan Islam Nusantara yang berakar pada tradisi, keilmuan, dan kebudayaan. (*)

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan