numalang.id – Belung, Poncokusumo – Ribuan jamaah memadati halaman parkir Masjid Ar-Ridho, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Kamis malam (25/12/2025) pukul 19.00 WIB. Mereka hadir dalam Pengajian Umum Khaul Akbar Ulama dan Masyayikh Desa Belung, sebuah ikhtiar kolektif untuk merawat ingatan spiritual dan menghormati para ulama serta masyayikh yang telah menanamkan benih Islam di tanah desa.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PHBI Masjid Ar-Ridho Belung sebagai wujud khidmah kepada para pendahulu yang menjadi penyangga dakwah dan penuntun kehidupan keagamaan masyarakat. Khaul bukan sekadar pertemuan ritual, melainkan ruang batin untuk menyambung kembali tali sejarah yang menghubungkan generasi hari ini dengan jejak para ulama masa silam.
Panitia PHBI sekaligus Pengurus Takmir Masjid Ar-Ridho, Ahmad Zaini, menegaskan bahwa khaul memiliki posisi penting dalam menjaga kesinambungan sejarah dan spiritualitas umat di tingkat desa. Menurutnya, tradisi ini merupakan bentuk ikhtiar untuk terus menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan para ulama.
“Khaul adalah cara kita meneruskan tradisi para ulama. Kita nyelameti tokoh-tokoh terdahulu yang menjadi poros penyebaran Islam di Desa Belung. Ini adalah khidmah dan penghormatan kepada para pembawa risalah Islam di desa kita,” tutur Ahmad Zaini.
Ia menambahkan, khaul tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi sarana pewarisan nilai, adab, dan kesadaran sejarah agar generasi penerus tidak tercerabut dari akar keilmuan dan spiritualnya.
Lebih jauh, Ahmad Zaini mengungkapkan bahwa tradisi khaul di Desa Belung telah berlangsung lintas generasi. Berdasarkan catatan dan ingatan kolektif masyarakat, khaul ini telah dilaksanakan sejak masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.
“Pada tahun 1945, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, khaul ini sudah dilaksanakan sekitar dua puluh kali. Dan pada tahun ini, pelaksanaannya genap memasuki yang ke-100,” jelasnya.
Seiring waktu, khaul mengalami perluasan makna dan peran sosial. Jika pada masa awal pelaksanaannya masih terbatas pada lingkaran panitia keagamaan, kini khaul tumbuh menjadi agenda bersama melalui sinergi antara ulama dan umaro.
“Sejak adanya dukungan dari pemerintah desa pada masa Kepala Desa Kasiali, kolaborasi antara ulama dan umaro mulai terbangun. Harapan kami, ke depan khaul ini benar-benar menjadi milik seluruh masyarakat Desa Belung,” tegas Ahmad Zaini.
Pengajian umum ini turut dihadiri berbagai tokoh agama dan masyarakat, di antaranya Syamsu Dhuha (Sekretaris DMI), H. Syamsul Anam, Bapak Zainuri selaku tokoh spiritual, Ketua Tanfidziyah MWC NU Poncokusumo, unsur Muspika Kecamatan Poncokusumo, perwakilan DMI, jamaah Ya Rosul, serta ratusan warga Desa Belung.
Sebagai pembicara utama, KH Marzuki Musta’mar, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, menyampaikan tausiyah tentang fikih peradaban dan pentingnya khidmah kepada guru sebagai fondasi pembentukan karakter santri dan masyarakat.
Dalam tausiahnya, KH Marzuki menyampaikan bahwa dirinya merupakan santri dari almarhum KH Masduqi Mahfudz (1935–2014), ulama kharismatik asal Mergosono, Kota Malang, yang dikenal luas atas keteladanan ilmu dan keluhuran akhlaknya.
Menurut KH Marzuki, warisan ulama tidak semata berupa ilmu pengetahuan, melainkan juga adab, sanad keilmuan, serta tanggung jawab moral dalam menjaga dan merawat peradaban.
Khaul Akbar Ulama dan Masyayikh Desa Belung diharapkan menjadi momentum penguatan kesadaran sejarah dan spiritual masyarakat, sekaligus menjadi jembatan pewarisan nilai-nilai keulamaan kepada generasi penerus, agar tradisi Islam desa tetap hidup, tumbuh, dan berkelanjutan di tengah perubahan zaman.
Kontributor: Saiful Anam




