Kota Batu, NUmalang.id — Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA menegaskan bahwa spiritualitas, kejernihan batin, dan keikhlasan merupakan fondasi utama dalam membangun kepemimpinan umat dan bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam ceramah pada Haul ke-16 Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digelar di Bengkel Akhlaq, Kota Batu, Ahad Pahing (21/12/2025).
Acara haul Gus Dur di Kota Batu ini dihadiri para kiai, pendekar Pagar Nusa, serta warga Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah di Malang Raya. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said Aqil mengajak jamaah meneladani Gus Dur sebagai figur pemimpin yang memadukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan keluhuran akhlak.
Mengawali tausiyahnya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu memanjatkan doa agar NU tetap utuh, rukun, dan istiqamah dalam menjalankan khidmah keumatan dan kebangsaan.
“NU adalah jam’iyyah besar. Perbedaan pandangan itu wajar. Yang penting perbedaan dikelola dengan hikmah dan niat menjaga keutuhan organisasi,” ujar Kiai Said Aqil Siroj.
Dalam ceramah haul Gus Dur tersebut, Kiai Said menjelaskan bahwa kualitas kepemimpinan sangat ditentukan oleh kekuatan batin. Ia menguraikan empat tingkatan kekuatan batin manusia. Pertama, gharizah atau insting, yakni kemampuan dasar yang juga dimiliki makhluk hidup lain. Kedua, ‘athifah, yaitu insting yang disempurnakan melalui latihan spiritual (riyadhah) dengan membersihkan penyakit hati seperti sombong, iri, dendam, egoisme, dan riya’.
Ketiga adalah firasat, yakni kepekaan batin orang-orang beriman dalam menangkap isyarat kebenaran. Keempat, makrifat, yang merupakan tingkatan intuisi tertinggi berupa cahaya langsung dari Allah SWT (nurun mubasyir). Pada maqam ini, seseorang mampu memahami kebenaran dengan kejernihan hati, bukan semata-mata melalui pertimbangan rasional.
“Gus Dur termasuk sosok yang sampai pada maqam makrifat. Beliau melihat persoalan dengan hati yang bersih dan niat yang tulus,” ungkapnya.
Kiai Said juga menyampaikan sejumlah kesaksian pribadi terkait intuisi Gus Dur yang menurutnya terbukti dalam perjalanan hidup dan sejarah bangsa Indonesia. Pernyataan-pernyataan Gus Dur dinilai bukan ramalan politik, melainkan lahir dari kedalaman spiritual dan kejernihan batin seorang ulama sekaligus negarawan.
Selain itu, Kiai Said mengutip pemikiran Imam al-Ghazali tentang empat tingkatan zikir, mulai dari zikir lisan tanpa kehadiran hati, zikir yang disertai pemahaman makna, zikir alam yang menyadarkan manusia akan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, hingga zikir hakikat yang menanamkan kesadaran bahwa hakikat wujud sejati hanyalah Allah SWT.
Menutup ceramah, Kiai Said Aqil menegaskan bahwa kepemimpinan sejati harus dilandasi keberanian membela kebenaran serta keikhlasan dalam melayani umat.
“NU harus tetap menjadi rumah besar bagi semua lapisan masyarakat, sebagaimana teladan Gus Dur sepanjang hayatnya,” pungkasnya. (*)
Kontributor: Saiful Anam




