Hari Guru setiap tahun selalu hadir sebagai ruang refleksi tentang bagaimana kita memaknai profesi pendidik. Namun, di tengah penghargaan yang mengalir, masih banyak dinamika sosial yang perlu dicermati secara jernih—mulai dari pandangan agama, tradisi memberi hadiah, hingga polemik yang mengiringinya.
Dari sudut religius, posisi guru memiliki tempat yang sangat mulia. Dalam tradisi keagamaan, guru dipandang sebagai pembawa cahaya ilmu dan penerus misi kenabian. Menghormati guru bukan sekadar kewajiban moral, tetapi bagian dari praktik adab yang diyakini mendatangkan keberkahan. Perspektif ini menjadi landasan penting bahwa penghargaan terhadap guru tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Pada ranah budaya, masyarakat Indonesia terbiasa mengekspresikan terima kasih melalui pemberian hadiah. Tradisi ini tumbuh sebagai bentuk penghormatan yang tulus dan alami. Namun seiring berkembangnya kesadaran etis, praktik memberi hadiah perlu ditempatkan dalam batasan wajar agar tidak berubah menjadi tekanan sosial atau salah dipahami sebagai gratifikasi. Di tengah keragaman kondisi ekonomi siswa, hadiah dapat memunculkan kesenjangan yang justru bertentangan dengan semangat kebersamaan dalam pendidikan.
Polemik muncul ketika apresiasi material dinilai berpotensi mengganggu objektivitas guru atau menciptakan rasa tidak nyaman bagi sebagian siswa. Kekhawatiran ini menuntut adanya kebijakan sekolah yang lebih tegas, sekaligus edukasi bagi masyarakat bahwa penghormatan sejati tidak ditentukan oleh nilai materi. Apresiasi sederhana—seperti ucapan, doa, atau karya buatan siswa—sering kali jauh lebih berarti dan selaras dengan prinsip integritas profesi guru.
Karena itu, solusi yang paling arif adalah menegakkan bentuk penghargaan non-materi sebagai norma bersama, sambil menghadirkan mekanisme apresiasi yang adil di tingkat sekolah. Guru pun dituntut untuk menjadi teladan dengan menerima pemberian yang tulus namun menghindari hadiah berlebihan yang berpotensi menimbulkan prasangka.
Akhirnya, refleksi Hari Guru mengajak kita untuk mengembalikan relasi guru–murid pada asas adab, ketulusan, dan integritas. Penghormatan kepada guru harus memuliakan tanpa membebani, sehingga makna Hari Guru tetap menjadi sumber inspirasi untuk memperkuat kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang lebih berkarakter.
Jika penghargaan ini mampu kita rawat secara bijak, maka Hari Guru bukan hanya peringatan tahunan—tetapi komitmen kolektif untuk menjaga martabat profesi pendidik dan keberlangsungan cahaya ilmu bagi masa depan bangsa.
Penulis: Fitroturohmawati, S.Pd.I – Guru TK Muslimat NU 11 Ngadilangkung
Editor: Moh. Ahsan Shohifur Rizal




