back to top
Jumat, April 4, 2025

Mendidik Hati dengan Sepenuh Hati

numalang.id-Pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu tempat utama untuk membentuk karakter serta menjadikan seseorang agar memiliki akhlak yang mulia. Untuk membentuk akhlak yang luhur, dalam dunia pendidikan memerlukan cara yang pas dan tepat. Oleh karenanya seorang guru harus mempunyai kualifikasi yang baik agar para muridnya kelak menjadi manusia yang baik pula. Seorang guru wajib memiliki akhlak terpuji, sebab guru merupakan sosok yang akan ditiru oleh para muridnya. Orang Jawa mengatakan bahwa guru itu digugu lan ditiru. Artinya, ucapan seorang guru bisa dijadikan pedoman serta segala perilakunya menunjukkan kesesuaian dengan apa yang selalu ia ucapkan, yakni menunjukkan perbuatan-perbuatan terpuji.

Kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan tingkah laku harus dimiliki oleh seorang guru. Dan hal ini merupakan tanggung jawab terbersar, sebab sangat besar kebencian Allah terhadap orang yang tidak selaras antara ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah SWT jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Q.S. As-Saff : 2-3).

Mendidik dengan hati diartikan sebagai mendidik sepanjang hayat. Itulah sebenarnya yang harus terpatri dalam diri setiap pendidik. Sehingga kapan pun dan dimana pun, ia selalu mempunyai kesadaran bahwa dirinya ialah seorang pendidik. Pendidik sejati ialah mereka yang selalu memantau perkembangan anak didiknya. Pendidik sejati tidak mengharapkan upah dari jerih kerjanya dalam mendidik. Ia hanya mengharapkan kebaikan bagi anak didiknya, ia hanya ingin berbagi ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dengan tulus ikhlas sosok pendidik sejati hanya mengharap Ridho Ilahi. Semua itu dilakukan tidak lain sebagai bentuk mendidik hati dengan sepenuh hati.

Hati merupakan komponen utama untuk belajar. Menurut Imam Suprayogo (guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), ketika kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan dengan sepenuh hati, maka ilmu yang dimiliki seseorang akan mudah untuk masuk dan dipahami. Pemahaman terhadap pelajaran yang sebenarnya ialah ketika seorang murid bisa mengaplikasikan nilai yang terkandung dalam sebuah pembelajaran. Pengaplikasian (pengamalan) nilai pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari hanya akan bisa terjadi jika seorang murid memahami dengan hati, bukan sekedar pikiran (intelektual) saja. Namun juga mengajarkan pelajaran dari sisi emosional dan juga spiritual. Kecerdasan emosional akan membuat murid merasa bahagia, kekompakan antarmurid akan terjaga, motivasi dalam belajar meningkat, serta murid akan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Sedangkan kecerdasan spiritual akan memupuk ketaqwaan, keikhlasan, keluhuran akhlak.

Keluhuran akhlak sangat diperlukan dewasa ini sebagai benteng agar kemajuan zaman yang ada bisa diiringi dengan kebaikan. Sejak dunia barat melihat banyak pekerja Islam dari timur tengah memiliki kepribadian baik. Dan para pekerja dari timur tengah itu tidak suka demo serta menerima pekerjaan dengan sepenuh hati. Maka saat itulah dunia barat dengan kemajuannya yang pesat mulai melirik ilmu Islam, yakni ilmu tentang bagaimana olah hati.

Olah hati tidak lain adalah bagaimana mendidik hati, mengajarkan nilai-nilai yang terpuji untuk menjadikan manusia yang bermanfaat bagi lingkungan. Mengutip dawuh K.H Baidhowi Muslich (Pengasuh PP Anwarul Huda Kota Malang) bahwa dengan olah hati maka akan tercipta genarasi masyarakat yang “ramah lingkungan” tidak menjadi sumber keonaran dalam masyarakat. Perlu diketahui bahwa jika olah hati (dengan ilmu agama) sejalan selaras dengan perkembangan IPTEK, maka tidak akan ada lagi hasil IPTEK yang memicu kerusakan. Allah SWT mewanti-wanti manusia agar tidak berbuat kerusakan sebagaimana firman-Nya:

وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٦)

Artinya; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S Al-A’raf: 56).

Walhasil, marilah kita berusaha mendidik hati dengan sepenuh hati. Karena hati yang terbuka akan membawa perdamaiaan. Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang celaka, yakni orang yang tidak bisa menggunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf/ 7 : 179)

Hati yang bening akan mengarahkan kepada kebaikan. Oleh karena itu seorang pendidik sejati ialah yang mau mendidik hati dengan sepenuh hati.

Wallahu a’lam

Penulis: Sidiq Nugroho bin Fauzan

spot_img
spot_img
-- advertisement --spot_img

Artikel Pilihan